Adaptasi New Couple: Semua Tentang Kita
Penyatuan dua hati dalam sebuah ikatan pernikahan adalah gampang-gampang susah. Meski dalam pelaksanaannya tidak dengan embel-embel paksaan. Semuanya murni atas kemauan sendiri. Namun ada juga yang kandas dalam hitungan tahun, bahkan bulan.
“Setiap orang secara alamiah ingin bahagia dan berhak untuk berbahagia, dan kebutuhan untuk berbahagia menjadi kebutuhan yang penting.” (Howell et al, 2016)
Siapa yang tidak cukup siasat maka bersiaplah tergelincir. Kalimat itu bukan maksud untuk menakuti, namun lebih pantas disebut sebagai peringatan awal. Karena petualangan baru akan segera datang.
Janji suci terucap bersama cincin yang melingkar pada jari manis. Duduk berdua menghadap para saksi. Waktu seakan bergulir sangat lambat ketika kita terus menebar senyuman kepada mereka yang bergantian mengucapkan selamat. Rasanya tidak ada hari paling indah selain hari itu. Siapa yang tidak mendambakannya?
***
Esok ketika hari telah berganti, dan kita tidak lagi sendiri. Barulah lembaran baru kita lalui. Semua berbeda. Segalanya seakan mulai dari awal.
Yang biasa terbangun oleh dering alarm ponsel atau jam weker. Kini berganti dengan sapaan manis dari yang terkasih. Sarapan yang biasanya terlewati bersama ayah dan ibu, atau bahkan sendirian. Maka, sejak hari itu ada dia yang menemani. Semua terasa begitu indah. Bahkan, teh tanpa gula bisa tercecap sangat manis.
Sejak hari itu, bukan lagi tentang aku atau kamu. Tapi… tentang kita. Bagaimana kita melewati hari? Apa yang harus kita kerjakan setelah ini? Pertanyaan-pertanyaan ringan seakan menjadi kesepakatan baru. Bukan lagi aku maunya begini, meski kamu maunya begitu. Karena kita berjalan beriringan. Bukan kamu di depan, atau aku di belakang.
Aku dan kamu pasti memiliki kebiasaan yang berbeda. Walaupun bersatu dalam prinsip, belum pasti sama dalam pelaksanaannya. Sebab itulah kita harus saling bertukar pikiran. Dengan segala kerendahan hati untuk saling mendengar, kemudian mengerti.
Banyak hal yang harus kita pikirkan. Ini bukan dongeng, di mana pernikahan adalah ending yang mengharukan. Tapi ini hidup. Tentang sebuah perjalanan baru yang akan kita lewati bersama jiwa yang terpilih.
***
Adakah yang baru menikah besoknya langsung bertengkar? Hanya karena masalah sepele. Seperti tidak menyalakan keran air saat mandi. Sedangkan pasangan kita suka menyalakan keran air ketika mandi. Atau, tata cara penggunaan pasta gigi. Ada yang memencet dari pangkal, ada pula yang mengurut dari ujung. Sesederhana itu, namun bila tidak ada kemauan untuk saling mengerti bagaimana hubungan ini akan berlanjut dengan baik?
Hari pertama adalah awal perubahan. Bukan membuat kita menjadi orang lain. Melainkan, bagaimana cara kita menyikapi begitu banyak perubahan yang akan kita hadapi setelah ini. Misalnya seperti kebiasaan mengatur rumah, memilih menu makanan, konsep keluarga seperti apa yang ingin kita bangun, juga tentang pembagian peran ketika kelak menjadi orangtua. Lantas, bagaimana kita menjaga hubungan dengan keluarga besarnya?
Karena sesungguhnya kita tidak hanya menikahi dia yang kita pilih. Tapi juga mempersunting seluruh keluarga. Kalau kita kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan pasangan. Tidak mustahil bila akhirnya kita kewalahan menghadapi keluarga pasangan kita.
Adakah yang merasa kecewa setelah pernikahan berlangsung? Mengharapkan jadi tuan putri, ibu ratu, atau semacamnya. Yang apa-apa selalu terpenuhi hanya dengan satu tudingan jari. Adakah pula yang memimpikan jadi raja atau tuan besar. Yang segala sesuatunya selalu tersaji dengan satu kalimat perintah.
***
Bukankah pernikahan itu tentang saling memberi dan menerima? Tentang kewajiban untuk membagi kebahagiaan dan berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Percikan keegoisan sering kali terjadi dalam bangunan rumah tangga yang baru. Adaptasi masih sangat diperlukan meskipun kita sudah saling mengenal.
Ketika dia belum menjadi pasangan hidup kita, mungkin hanya sisi baiknya saja yang tampak. Bukan berarti dia sedang membohongi kita. Namun, ketika kita sudah melewati hari bersamanya pasti ada satu dua sikap yang terungkap, yang sebelumnya belum kita ketahui.
Kecewa? Menyesal? Adakah yang masih berprasangka demikian? Bila ada, tolong jawab pertanyaan selanjutnya. Apa tujuan kalian menikah? Supaya ada yang menemani? Ingin mempunyai komitmen dengan status legal? Untuk memenuhi perintah agama?
***
“Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian sisanya.” (HR. Thabrani dan Hakim).
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia ciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS al-Rum [30]: 21).
Ketentraman hati tidak akan kita dapatkan bila kita tidak pernah merasa puas. Apalagi bila kita selalu melihat rumput tetangga lebih hijau. Mari belajar. Tidak lagi menuntut, tapi menerima. Bukan lagi meminta, melainkan memberi. Karena cinta bukan semata kata yang menyelinap manis dalam relung hati. Namun sebuah rasa penggerak hati untuk saling berbagi.
“Marriage is not a noun, it’s a verb. It isn’t something you get. It’s something you do. It’s the way you love your partner everyday.” (Barbara De Angelis)
