Rumah Tangga Bukanlah Forum Debat, Bukan Pula untuk Saling Diam
Siapa sih yang tidak menginginkan pernikahan yang harmonis? Tentu semua pasangan berharap hal yang sama. Tapi perlu kita ketahui bahwa pernikahan yang harmonis bukan berarti tidak ada konflik di dalamnya, melainkan menghadapi konflik tersebut dengan sikap yang dingin dan dewasa. Sekecil apapun bentuk konflik tersebut, seringkali masalah sepele justru menjadi pemicu terjadinya konflik.
Inti dari permasalahan rumah tangga biasanya karena kurang komunikasi antar pasangan, kebanyakan lebih termakan gengsi dan diselimuti rasa ego. Bahkan keegoisan bisa mengalahkan logika, selalu mencari pembenaran. Maka dari itu suasana menjadi keruh, tidak ada yang mau mengalah. Bila tidak dibarengi dengan istighfar, bisa jadi celah bagi syaithan untuk memulai tipu dayanya.
*
Menjalani kehidupan rumah tangga, berarti juga harus siap menjadi pribadi yang lebih ekspresif. Tidak menggunakan banyak kode layaknya seorang intel, semuanya harus to the point. Karena setiap pasangan memiliki pola pikir yang berbeda, tidak mungkin semua isi kepala sama.
Meskipun kadang ada yang merasa bingung bagaimana cara mengungkapkan isi hatinya, pendapatnya. Tapi semakin diam, akan semakin subur sebuah prasangka. Akhirnya terkesan menduga-duga, yang ada overthinking dan berpikiran buruk terus menerus.
Ada 3 sikap mental orang dalam menyikapi problem dalam rumah tangga, menurut Konselor Pernikahan Pak Indra Noveldy :
Quitter
Tipe yang kalau ada masalah, pengennya segera lari dari masalah. Tidak mau dihadapi kenyataan yang ada. Seringkali membohongi diri dengan berpikir positif yang tidak jelas landasannya.
Camper
Tipe yang lebih memilih diam dan menunggu dalam ‘tenda’nya, berharap yang perlu memulai duluan ya itu pasangan.
Climber
Tipe yang terus berjuang untuk menyelesaikan masalah, sekalipun jatuh-jatuh, tetap manjat memperjuangkan untuk ke puncak. Sekalipun pasangan tidak terlihat berjuang, tipe ini tetap berjuang.
Bukankah tidak baik bila terus menerus memendam apa yang sebenarnya dirasakan? Khawatirnya akan ada korban pelampiasan, padahal tidak tahu apa-apa. Terlebih kalau sudah punya anak, biasanya anak yang jadi pelampiasan.
Sebenarnya, konflik atau badai dalam rumah tangga itu adalah yang wajar. Ibarat sebuah kapal, hendak ke mana dan bagaimanapun berlayar. Ketika mengalami badai atau gelombang besar, nahkoda harus sabar dan tegar. Siapa nahkodanya? Seorang suami, adalah pemimpin yang menentukan arah ke manakah kapal akan pergi. Bila tujuan utamanya sudah jelas, maka sudah pasti akan menepi dengan selamat.
Sebagai seorang suami, biasanya logika lebih utama ketimbang perasaan. Bukan tidak mungkin, seorang suami harus banyak mengalah. Istri adalah perempuan, gelas-gelas kaca yang mudah pecah. Sekalipun hanya sedikit goresan, tapi bisa menimbulkan bekas yang mendalam. Bisa kita bayangkan, jika hak untuk talaq (cerai) ada pada istri, niscaya banyak suami yang jomblo kembali. Talaq memang boleh, tapi Allah sangat membenci.
Lantas bagaimana menyalurkan emosi dengan benar?
Mengekspresikan apa yang sebenarnya dirasakan? Yakni, mengingat kembali tujuan dan komitmen dari sebuah pernikahan. Niat ibadah karena Allah, meskipun seabreg tugasnya, tapi seabreg juga pahalanya, in syaa Allah. Itu sebabnya menikah butuh ilmu, bukan hanya sekadar rasa saling suka. Pondasinya lebih dari sekadar bahagia, melainkan dengan iman dan taqwa.
“Orang yang menikah, dijanjikan oleh Allah Ta’ala akan diberikan kecukupan adalah yang dengan pernikahannya dia bertujuan untuk membantu ketaatan kepada Allah.” [Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithy rahimahullah dalam Adhwaul Bayan, jilid 6 halaman 243]
Penting bagi sebuah rumah tangga dibangun berdasarkan agama, bila suami yang menjadi pemimpin baik, maka in syaa Allah istri dan juga anak atau keluarganya juga akan baik. berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban, sebagai lelaki tidak serta merta jika ada suatu masalah. Maka dia lari, pergi dari tanggung jawab, berdiam diri bahkan ada juga yang lebih memilih nongkrong dengan teman-temannya ketimbang ngobrol dengan istrinya. Padahal bila berbincang sebentar saja dengan istri, berpotensi untuk mendapatkan pahala.
Berbeda bila nongkrongnya dengan teman-teman, obrolan terkadang lebih ke arah yang tidak berfaedah. Suami sibuk sendiri, dan istri pun menjadi bingung dan merasa kaku untuk memulai suatu pembicaraan. Untuk mengatasi hal ini, sebelum tidur biasakan untuk melakukan pillow-talk.
*
Letakkan terlebih dahulu gawai, saling menatap satu sama lain. Membicarakan visi misi pernikahan, atau obrolan apapun yang bisa membuat suasana menjadi lebih rileks. Bisa diawali dengan percakapan yang ringan, kemudian bertahap pada hal-hal yang lebih dalam.
Sehingga antara suami istri merasa terhargai satu sama lain, menjadi lebih dekat, meningkatkan rasa cinta. Mungkin terkesan sepele, tapi memiliki dampak yang luar biasa. Bisa mempertahankan hubungan pernikahan dalam jangka waktu yang panjang. Allah berfirman,
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya lah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum:21)
Telah jelas dalam firman-Nya, bahwa dalam bahtera rumah tangga agar kita merasakan tenteram, nyaman, damai, tenang satu sama lain. Pernikahan juga bukanlah forum debat, bila ada selisih paham baiknya ditangani dengan cara yang dingin. Tidak saling menuntut, tapi bercermin ‘apakah selama ini aku sudah menjadi tempat ternyaman untuk baginya curhat atau sekadar berkeluh kesah?’
“Apabila masing-masing dari suami dan istri menunaikan hak dan kewajibannya, niscaya kehidupan mereka akan bahagia, menjadi perkumpulan yang terpuji, terketuk di rumah mereka kebahagiaan dan kesenangan, anak-anak pun menjadi tumbuh dengan suasana yang tenang ini. Mereka menjadi dewasa dengan tabiat yang mulia, karakter yang baik, dan kelembutan akhlak.” [Asy-Syaikh Abdullah Alu Bassam rahimahullah dalam tafsir al-‘Allam halaman 616]
*
Tentunya setiap pasangan selain menginginkan hubungan yang langgeng dan harmonis, pasti juga menginginkan keturunan yang baik. Maka dari itu, dimulai dari pasangan yang baik juga dalam menghadapi berbagai masalah dengan sikap yang bijaksana. Jangan lupa untuk senantiasa berdoa,
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’,” (QS al-Furqan: 74).
seorang ibu rumah tangga yang dikaruniai satu anak perempuan yang in syaa Allah shalihah. Hobi membaca, menulis, melukis, berkreasi dan masih banyak lagi. Itu semua semata-mata dilakukan agar tetap menjadi seorang ibu yang ‘waras’

Sugiarto
MasyaAllah. Tabarokallah.
Iyas Sulastri
Terima kasih 🙂
Sugiarto
Alhamdulillah.
Iyas Sulastri
Terima kasih ^^
Pingback: Budaya Diam: Ketika Luka Anak Terkubur di Bawah Nama Baik dan Rasa Takzim - Inspirasi Muslimah