f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
family burnout

Family Burnout, Problem yang Membumi Kala Pandemi

Pandemi Covid-19 telah memberikan deretan kejutan bagi keberlangsungan hubungan keluarga. Habituasi Adaptasi Kebiasaan Baru (ABK) di lokal domestik keluarga kerap melahirkan kebekuan interaksi.

Kejenuhan bahkan kelelahan kronis yang bukan hanya disebabkan aktivitas fisik tapi juga disponsori oleh emosi dan mental yang tidak stabil. Alasannya beraneka ragam. Faktor kebutuhan keluarga semakin mencekik; pola asuh anak yang melelahkan; tumpukan kerjaan kantor yang harus dikerjakan bersamaan dengan pekerjaan rumah; hubungan suami istri yang kurang sinergis, dan lain lain.

Kesemua gejala yang melahirkan stagnasi dan tak jarang mengobarkan api emosi dalam hubungan berumah tangga berpotensi mengahadirkan family burnout.

Apa itu Family Burnout?

Istilah burnout pertama kali diperkenalkan oleh psikolog klinis Herbert freudenberger pada tahun 1973 di jurnal psikologi profesional. Kala itu Herbert memberikan penjelasan tentang hubungan erat antara burnout dan penyalahgunaan narkoba. Kajiannya pun berkembang tentang burnout yang berhubungan dengan keluarga, struktur sosial dan pekerjaan.

Family burnout dapat menghadirkan gejala yang berfariasi. Seperti berkurangnya selera humor, mudah tersingung, tidak berkualitasnya waktu istirahat, perasaan rendah diri dan selalu merasa tak puas, meningkatnya keluhan fisik, bahkan mengharuskan mengonsumsi obat.

Baron dan Greenberg menjelaskan empat dimensi fundamental tentang burnout. Pertama, kelelahan fisik ”physical exhaustion” yang mengakibatkan sakit kepala, mual, merasa letih. Kedua, kelelahan emosional “emosional exhaustion” seperti depresi dan temperamen buruk tanpa alasan yang jelas.

Ketiga, kelelahan mental “mental exhaustion” yang ditandai dengan berpikiran negatif pada orang lain dan memandang buruk diri sendiri. Keempat, rendahnya penghargaan diri “low of accomplishment” yang melahirkan rasa tidak puas pada seluruh yang ada dalam diri.

Kondisi burnout lebih buruk daripada stres. Burnout adalah akumulasi dari stres berkepanjangan yang tak kunjung padam. Stres secara umum adalah ketika seseorang mendapat tekanan yang mengharuskan ia siap secara mental dan fisik. Saat apa yang menekan tersebut berhasil dituntaskan, maka rasanya semua akan baik-baik saja. Lain halnya dengan burnout, fase dimana seseorang selalu merasa tidak cukup, tidak puas, bahkan rendah diri.

Baca Juga  Kiprah Perempuan Menjaga Toleransi di Era Digital
Keterkaitan Burnout dengan Keberlangsungan Hubungan

Kesemua gejala ini sangat berpengaruh bahkan berbahaya bagi keberlangsungan hubungan keluarga. Bahkan anak itu sendiri sangat rentan terhadap burnout lantaran aktifitas di rumah saja yang menjadikannya tidak lagi dapat bermain dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.

Pada persoalan family burnout yang berkepanjangan dapat bermuara pada fenomena “corona divorce”. Keadaan di mana tingkat perceraian kala pandemi terus mengalami peningkatan.

Family burnout tidak lagi dapat terhindarkan di tengah kehidupan yang maha kompetitif. Berdamai dengan berbagai problem yang silih berganti datang di tengah keluarga adalah pilihan yang tepat. Sekali lagi, namanya hidup, ada saja masalah, kalau tak ada masalah justru itu masalahnya, tutur seorang sobat yang sedang terlanda masalah.

Ikhtiar berdamai dengan family burnout adalah upaya merawat kewarasan kita di tengah geliat tuntutan zaman terlebih di kala pandemi. Beberapa hal dapat kita lakukan untuk menjaga asa kesehatan mental dan emosi kala family burnout menghampiri.

Pertajam Rasa Syukur

Mengasah rasa sukur sebagai sebaik-baiknya bentuk mahluk ciptaan Tuhan merupakan substansi dari bagaimana kita merespon berbagai masalah yang datang. Tidakkah Allah Swt menggaransi bahwa barang siapa yang bersyukur maka bertambah nikmatnya. Pun sebaliknya, siapa yang ingkar terhadap nikmat Allah maka ganjaran Azab Allah sangatlah pedih.

Jikapun instrumen teologis tidak berpengaruh pada ghirah mempertajam rasa syukur, maka berkontemplasilah dengan menghitung nikmat yang telah Allah Swt berikan sedari anda hidup. Tidak melulu soal uang dan materi, anda dapat bernafas dengan baik tanpa tabung oksigen adalah hal mewah nan berkah yang Tuhan hadiahkan.

Jika bukan karena sayangnya Allah kepada hamba-Nya, bayangkan berapa rupiah yang dikeluarkan untuk sekadar bernafas normal dengan harga tabung oksigen yang mencapai kisaran Rp. 700.000 pertabung 1m3 set lengkap.

Baca Juga  Tiga Pesan Allah dalam Surat Al-Hujurat (49): 13

Mempertajam rasa syukur juga dapat dilakukan dengan mengingat berbagai capaian hidup saat banyak orang lain berharap apa yang anda raih hari ini. Sebagaimana pepatah yang kerap kita dengar, “Hidup yang anda keluhkan adalah hidup yang orang lain harapkan”.

Bahkan studi  journal of applied sport psychology tahun 2014 menyebutkan, bersyukur dapat meningkatkan harga diri dan berdampak positif bagi komponen penting untuk kinerja yang optimal. 

Tidur dan Menangislah Secukupnya

Salah satu solusi yang mujarab dari berdamai dengan masalah, yakni tidur dan menangis. Tentu dengan porsi yang tepat dan bijak. Kecuali anda tergabung dalam AHR2 (aliansi hamba rebahan radikal). Setiap ada masalah menjadikan rebahan berkepanjangan sebagai pelarian. Bahkan tak doyan makan dan menghindar dari interaksi dengan orang lain. Justru inilah rebahan yang melahirkan stagnasi.

Tidur cukup merupakan fase di mana tubuh berkeja untuk memerbaiki bukan hanya kesehatan fisik tapi juga mental dan emosi. Mengutip hellosehat.com, saat tidur manusia akan mengalami lima tahap penting. Pertama, kerja otak melamban sehingga tubuh menjadi rileks. Kedua, berpindahnya benak anda ke alam bawah sadar. Ketiga dan keempat tubuh melakukan perbaikan fisik dimana sel darah putih akan bekerja keras untuk memerbaiki kerusakan sel di seluruh bagian tubuh.

Setelah 90 menit, kita akan memasuki tahap REM (rapid eye movement) atau yang kita sebut dengan tidur pulas. Pada tahap inilah berbagai bentuk masalah kejiwaan sedang diperbaiki. Jikapun lantaran family burnout anda sulit untuk tidur, banyak relaksasi yang anda dapat temui di google bagaimana untuk mudah tidur. Semisal rileksasi tidur yang dilakukan tentara saat berada di medan perang.

Menangis tidak melulu menjadi cermin manusia yang lemah nan ringkih. Psikolog klinis Stephen sideroff menjelaskan bahwa menangis dapat mengaktifkan tubuh dengan cara yang sehat, melepas stres dan memerbaiki kesehatan mental. Menangis mendorong tubuh untuk melepaskan oksitosin dan endorfin. Zat yang mengendorse manusia merasa lebih baik sekaligus meringankan rasa sakit, baik fisik Maupin emosi.

Baca Juga  Pernikahan Beda Harakah, Refleksi antara Pemikiran dan Perasaan
Penuhi Kebutuhan Nutrisi Tubuh

Saat rasa burnout hadir, sejatinya tubuh menuntut haknya mendapatkan nutrisi yang proporsional. Nutrisi yang dikonsumsi berkontribusi bagi kerja syaraf tubuh yang mengatur suasana hati dan emosi. Nutrisi tertentu yang dibutuhkan tubuh saat dilanda masalah diantaranya vitamin B, vitamin C, selenium, dan magnesium.

Tidak harus dengan coklat hitam yang terkenal dapat menurunkan stres dengan kandungan antioksidannya. Beberapa makanan lain dapat kita konsumsi secara rutin untuk menjaga stabilitas emosi dan suasana hati.

Sayuran berdaun hijau seperti bayam yang kaya magnesium. Ikan sarden juga tuna yang kaya akan asam lemak omega 3, vitamin B 6 dan vitamin B 12 berfungsi untuk menurunkan tingkat kortisol dan melawan stress. Menyeruput the herbal juga dapat mendamaikan Susana hati, sebagaiman riset yang mengungkapkan bahwa teh hijau memililki kadar kafein rendah dan tinggi L-theanine, yaitu protein yang membantu merileksasi otak.

Konsumsi buah-buahan seperti alpukat yang kaya akan vitamin A dan vitamin E. Pisang yang kerap kita jumpai di hajatan, mengandung magnesium, vitamin B dan mangan yang dapat membantu turunnya tingkat stres dan kelelahan.

Syahdan, setiap individu tentu memiliki problem dengan kesulitan yang beranekaragam. Kita  menjalani konteks kehidupan yang berbeda dengan orang lain, bahkan dengan keluarga kita sendiri. Tentu masih banyak pendekatan lain untuk dapat berdamai dengan family burnout yang bisa kita pelajari dan praktekkan.

Apapun itu masalah dan solusinya, Percayalah La yukallifullahu nafsan, illa wus-aha” (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya). Teringat pesan ceramah Ust. Adi Hidayat, Saat kita selalu gelisah dan bertanya pada diri, kenapa harus hamba? mengapa harus aku? why me ?, saat itu pula Tuhan menjawab, why not !?. So… #keeprunning#keepinspiring#faidzafarogtafanshab

Bagikan
Post a Comment