f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
taaruf

Taaruf dan Tingkat Kepuasan Pasca Pernikahan

Taaruf dalam perkawinan menjadi hal penting bagi para calon pengantin muslim. Karena tata kehidupan yang semakin bebas seiring dengan perkembangan zaman saat ini sempat menerbitkan khawatir di kalangan umat Islam.

Pergaulan di negara-negara yang tidak mengindahkan norma agama sangat bebas. Pemuda dan pemudi bebas bergaul hingga tinggal serumah tanpa ikatan apapun. Kondisi semacam ini sejatinya bertentangan dengan ajaran Islam yang sangat menjaga pergaulan dengan lawan jenis.

Islam adalah agama yang komprehensif, tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Akan tetapi hubungan antar manusia juga memiliki aturan sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi dan bisa memberi rahmat bagi semesta alam.

Taaruf Sebagai Alternatif Pacaran

Akhir-akhir ini, media sosial ramai dengan banyaknya netizen (tidak sedikit pula yang berindentitas sebagai muslim) memaklumi istilah concent sebagai bagian dari pergaulan yang wajar. Istilah tersebut menganggap biasa pergaulan bebas berdasarkan dengan perasaan suka sama suka.

Ini merupakan salah satu fakta dangkalnya pemahaman generasi muslim terhadap syari’at. Seperti halnya pacaran yang dianggap biasa dalam pergaulan di masyarakat. Sebagian orang tua bahkan malu jika anaknya belum memiliki pacar saat beranjak remaja. Padahal pacaran cenderung menjadi pintu maksiat yang merusak.

Proses taaruf dalam Islam adalah cara yang jauh lebih aman dan elegan untuk menuju pernikahan daripada pacaran. Proses taaruf dalam perkawinan berlangsung dengan komitmen menjaga semua pihak dari tindakan maksiat.

Masalah baru muncul dengan pertanyaan, “Apakah proses taaruf bisa menjamin seseorang tidak jatuh dalam pilihan jodoh yang salah?” atau, “Jika terjadi sesuatu dengan pernikahan tersebut, apakah biro/perantara taaruf akan ikut bertanggung jawab menyelesaikan permasalahan?”

Baca Juga  Tiga Fase dalam Pernikahan yang Akan Kamu Lalui

Nuzula Ilhami dalam jurnal Kuriositas (2019) berpendapat bahwa taaruf dalam perkawinan berperan sebagai proses yang berada dalam bingkai moralitas. Fungsinya adalah untuk saling mengenal dan menentukan diri sebelum menuju ke tingkat pernikahan sesuai dengan aturan Islam.

Mengapa taaruf adalah salah satu cara? Bukan satu-satunya jalan menuju pernikahan?

Tidak bisa kita pungkiri bahwa ada banyak istilah bagi masyarakat muslim untuk menyebut proses menuju pernikahan. Orang biasa menyebut perjodohan, tantingan, taarufan, perkenalan, bahkan ada yang menyebut perkenalan model apapun yang menuju pernikahan ya sama dengan pacaran.

Taaruf dalam perkawinan adalah salah satu proses sepasang calon pengantin dengan serangkaian cara dan pengawalan ketat agar sesuai syari’at.

Pernikahan adalah ibadah paling lama sekaligus penyempurna separuh agama. Tentu siapapun tidak ingin menjalaninya sengan sembarang orang. Proses menuju pemilihan calon dan cara mengenalnya pun harus terjaga agar tidak melanggar syariat.

Para ulama membatasi taaruf dalam perkawinan hanya boleh memandang di luar batas aurat dan pertemuan harus bersama wali/mahram. Hal ini bertujuan untuk menjaga keduanya agar terhindar dari maksiat. Lalu sejak kapan taaruf menjadi tradisi yang populer di kalangan pemuda dan pemudi muslim calon pengantin?

Taaruf Sesuai Perkembangan Zaman

Pada zaman Rasulullah saw dan para sahabat, pernikahan berlangsung setelah para calon pengantin saling berkenalan melalui perantara kerabat mereka. Kemudian zaman terus berubah dan tradisi perkenalan antar calon kedua mempelai tentu tidak sama lagi dengan generasi sebelumnya.

Istilah taaruf dalam Al Qur’an terdapat di Surah Al Hujurat ayat 13, yang oleh para mufassir dimaknai sebagai perkenalan dalam arti luas. Tidak ada pembahasan khusus mengenai taaruf berhubungan dengan pernikahan dalam ayat ini. Dalam surat dan ayat lain, terdapat pembahasan akhlak atau adab dalam pergaulan.

Baca Juga  Ssstt, Perempuan Memang Makhluk yang Tak Bisa Diam

Sekarang, fenomena taaruf dalam perkawinan oleh masyarakat Indonesia umumnya memiliki interpretasi sebagai makna perkenalan secara khusus. Yaitu adanya komunikasi timbal balik antara laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal dan saling memperkenalkan diri menggunakan data dalam bentuk teks.

Pada dasarnya, model penerimaan teks terbagi dalam tiga bentuk yakni pertama, menerima dengan cara exegesis yaitu berupa tindakan menafsirkan. Kedua, menerima dengan cara aestetis dengan cara memuja keindahan dari teks sebagai objek baik mushaf maupun tulisan.

Ketiga, bentuk penerimaan fungsional yaitu memperlakukan teks dengan tujuan praktikal dan manfaat yang akan didapatkan oleh pembaca (tidak langsung). Hal ini terungkap dari Zuhdi dan Dewi dalam buku Living Hadis dari Q-Media tahun 2017.

Penilaian mengenai seberapa penting proses taaruf dalam perkawinan sebagai alternatif oleh para calon pengantin tentu harus mendapat pertimbangan dari banyak sisi. Akan tetapi, jika merunut pada sejarah dan dalil Al Quran maupun sunnah, kita harus mendapati bahwa taaruf  bukanlah kewajiban.

Cara selain taaruf dalam perkawinan yang sesuai syariat misalnya melalui rekomendasi guru, kerabat atau keluarga. Tanpa pertukaran teks biodata dan banyak pertemuan, pernikahan tetap bisa berlangsung setelah kedua mempelai merasa yakin untuk melanjutkan proses.

Tingkat Kepuasan Taaruf Pasca Pernikahan

Ada sebuah studi tentang kepuasan pernikahan oleh Fitri Sakinah dan Melok Roro Kinanthi pada individu yang menikah melalui taaruf. Laporan penelitian ini terpublikasi di Jurnal Psikologi integratif pada tahun 2018. Penelitian menargetkan 88 orang responden dengan sejumlah kriteria pendukung.

Menariknya adalah, hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa pengungkapan diri melalui teks ketika taaruf menyumbang 8,7% kepuasan terhadap pernikahan. Sisanya 91,3% kepuasan terhadap pernikahan karena faktor lain yang belum terdefinisi.

Baca Juga  Pengalaman di Balik The World of Married Couple's

Taaruf memang bukan faktor utama penentu kepuasan dalam menjalani kehidupan pernikahan. Tidak juga bisa menjamin pernikahan akan berjalan tanpa masalah. Pernikahan yang diproses melalui taaruf pun tidak menjamin terhindari dari perceraian.

Pun kepuasan yang dihasilkan, sangat tergantung pada apa yang dijadikan pedoman dan bagaimana menjalani pernikahan yang saling membahagiakan. Karena sesungguhnya tidak ada jodoh yang saling cocok kecuali saling mencocokkan. Tidak ada pasangan yang sempurna kecuali saling menyempurnakan.

Perlu dipahami bahwa risiko proses taaruf dalam perkawinan dan kehidupan setelah pernikahan ada pada kedua mempelai. Baik atau buruknya pernikahan kembali pada yang menjalaninya, bukan perantara atau biro jodoh.

Bagikan
Comments
  • Bari

    Ajiiib…tulisanya renyah

    April 6, 2021
  • Nur Yuniyati

    Hmm… MaasyaAlloh lama tak jumpa Jawan satu ini.
    Sdh banyak tulisan ya rupanya mbak sakifah.
    Tabarakallah
    Sedikit tulisan tentang ta’aruf tersebut bs memberi Dan membuka mata pandang kita terhadap Gaya hidup anak muda saat ini.
    Akan lebih lengkap lagi jika penulis mungkin bisa menyisipkan beberapa cintoh Cara menghindarkan anak- anak Kita dari pacaran.
    Jazakillahu khoyran atas tulisan ya ❤️

    April 6, 2021
  • Nur Yuniyati

    Lanjutan mbak sakifah 😊

    April 6, 2021
Post a Comment