f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan

Self Love dengan Memahami Hakikat Perempuan

Kemarin saya mendapat kesempatan untuk berdiskusi terkait filsafat. Saya mengambil judul  “Self Love dengan Memahami Hakikat Perempuan”. Self love adalah pekerjaan yang wajib bagi semua orang agar menyadari betapa berharganya dirinya.

Saya mengambil tema ini karena banyak perempuan merasa insecure dan tidak bisa menghargai diri sendiri setelah menjadi korban kekerasan. Seorang teman saya yang mengalami KDRT berkata, “Mungkin saya ini kurang bersyukur, kurang sabar, dan punya banyak dosa sehingga Allah beri cobaan seperti ini.”

Padahal mana mungkin ada manusia yang layak memperoleh pukulan dan siksaan? Hal ini terjadi karena banyak perempuan tidak memahami hakikatnya. Mereka tidak memahami hak mereka dan kedudukan mereka di bumi ini. Lantas, bagaimana ia bisa mencintai diri sendiri jika tidak memahami hakikat diri?

***

Mempelajari hakikat perempuan akan membuat ia menghargai dan mencintai diri sendiri. Akibatnya tidak ada yang menyalahkan diri sendiri ketika menjadi korban kekerasan.

Laki-laki yang memahami hakikat perempuan akan menghargai dan mencintai dirinya sendiri. Hal ini karena cara pandang laki-laki terhadap perempuan akan menunjukkan bagaimana laki-laki memandang diri.

Laki-laki yang memandang perempuan sebagai objek syahwat semata, artinya ia menganggap dirinya subjek syahwat. Namun jika laki-laki memandang perempuan sebagai partner untuk mencapai spiritualitas, partner untuk mendidik anak, maka demikian pula pandangannya terhadap diri.

Jika laki-laki memahami hakikat perempuan yang akan tercermin pada cara pandangnya terhadap dirinya, ia akan mencintai dirinya. Ia sadar bahwa ia bukanlah subjek syahwat namun juga manusia yang bisa menyempurna bersama perempuan.

Kenapa kita harus membahas filsafat perempuan, bukannya laki-laki? Karena kejadian di alam ini seringkali menempatkan perempuan pada kedudukan yang rendah. Perempuan layak menjadi korban kekerasan baik fisik maupun verbal.

Baca Juga  Urgensi Me Time bagi Para Istri
***

Seorang teman laki-laki saya pernah bertanya, “Kenapa perempuan itu pengen kerja? Kan kewajiban menafkahi itu ada pada suami. Mendingan di rumah, gak capek, tinggal terima gaji.”

Secara sekilas, tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu. Tapi ada yang kita lupakan, bahwa Tuhan menciptakan perempuan lengkap dengan bakat dan potensinya. Sama seperti laki-laki, bakat dan potensi itu harus memperoleh ruang aktualisasi. Namun, seringkali pernikahan dan budaya patriarki menghalanginya.

Memang benar bahwa masa sekarang ini sudah lebih tidak seketat dahulu. Namun masih banyak orang yang tidak menyadari fakta ini. Banyak orang berpikir bahwa perempuan lebih baik di rumah saja. Padahal ia bekerja tidak semata-mata mencari uang. Ia mencari kehidupannya sendiri. Ia ingin menjadi dirinya sendiri selain peran mereka sebagai istri dan ibu.

Ada yang passionnya mengajar, menari, bernyanyi, enterpreuneur, membangun bisnis, dan sebagainya. Namun seringkali ia mendapatkan label yang identik dengan pekerjaan domestik dan tanggung jawab atas anak. Sehingga mereka terpaksa melepas impiannya demi anak-anaknya.

Jika pun tidak, banyak perempuan yang mengalami siklus hamil dan melahirkan yang berkelanjutan sehingga masa pengasuhan anak tak ada habisnya. Hal ini karena cara pandang kita dan kultur yang berkembang di masyarakat.

Atas dasar tanggung jawab nafkah, laki-laki harus keluar rumah dalam waktu yang lama. Perempuan yang di rumah akhirnya melakukan berbagi pekerjaan rumah. Padahal itu bukan kewajibannnya. Tidak ada teks yang menyebutkan bahwa kewajiban istri adalah mengerjakan pekerjaan domestik. Karena kasih seorang perempuan, ia lantas berkhidmat untuk keluarganya.

***

Begitu pula dengan mendidik yang merupakan kewajiban bersama, namun akhirnya menjadi beban istri karena suami harus pergi mencari nafkah. Meski sebenarnya tanggung jawab tetap ada pada kedua orang tua.

Baca Juga  Selalu Merasa Depresi: Normalkah?

Kebiasaan ini akhirnya membentuk cara pandang dan kultur kita. Orang berpikir bahwa tugas perempuan adalah mengurus rumah dan anak, sedangkan laki-laki bekerja. Ia tidak memiliki hak untuk mengaktualkan potensinya.

Jika kita lihat penciptaan laki-laki dan perempuan. Apakah ada perbedaan antara keduanya? Benarkah Tuhan memberi laki-laki keistimewaan tertentu? Apakah laki-laki memilki dua otak dan jantung sedang perempuan satu?

Lantas di mana letak perbedaan keduanya? Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama di mata Tuhan. Keduanya memiliki potensi untuk mencapai spiritualitas, memiliki hak untuk beribadah dan beragama. Keduanya bisa beribadah tanpa halangan dan paksaan.

***

Ada perbedaan pada perempuan dan laki-laki dalam beberapa aspek, misalkan dalam hal fisik dan psikologis. Perempuan pada umumnya memiliki badan yang lebih kecil dari laki-laki. Karena kondisi fisik ini seringkali laki-laki lebih kuat.

Secara psikologis ia lebih lembut dan penuh kasih kasih sayang, laki-laki sebaliknya. Namun perbedaan ini tidak menentukan kesempurnaan keduanya. Kelembutannya justru menjadikannya korban kekerasan seksual, fisik, dan mental.

Ia banyak dihina dan dilecehkan, dinilai dari fisiknya saja. Dihargai karena fisiknya, dan diremehkan karena fisiknya pula. Orang akan menyukai perempuan yang memiliki fisik menarik, dan akan diremehkan ketika ia sedang datang bulan karena kondisi fisik dan emosinya yang kadang berubah.

Padahal jika mau, ia bisa saja melakukan kekerasan, melecehkan dan menghina laki-laki. Tapi karena Tuhan karuniakan cinta yang begitu besar pada perempuan, maka hal tersebut tak pernah terjadi. Ia kelak akan menjadi ibu yang akan terus mengalirkan cinta bagi anak-anaknya.

***

Pernikahan justru sering menjadi tempat kekerasan bagi perempuan, hak-hak mereka terampas, impiannya putus, fisiknya rapuh. Kewajiban laki-laki menafkahi istrinya, dan istrinya memiliki kewajiban melayani syahwatnya. Sedang anak dan pekerjaan domestik adalah tanggung jawab bersama, sama hal nya ketika laki-laki dan perempuan belum menikah. Keduanya mengerjakan pekerjaan domestiknya masing-masing saat masih lajang.

Baca Juga  Tidak Apa Berbeda, Kamu Istimewa

Perempuan yang telah menikah memiliki tiga peran. Sebagai istri, ibu, dan pribadinya sendiri. Sebagai istri haknya adalah nafkah, sebagai ibu ia berhak mendapat nafkah karena telah menyusui dan mengasuh anaknya, dan sebagai pribadi ia berhak mengaktualisasikan potensinya.

Sama halnya dengan laki-laki, ia memiliki peran sebagai ayah, suami, dan pribadinya sendiri. Ia memiliki hak untuk memenuhi kebutuhan syahwatnya, ia memiliki hak untuk dihormati sebagai kepala rumah tangga, dan sebagai pribadi untuk mengaktualisasikan potensinya.

***

Jika kita sudah memahami bahwa perempuan memilki hak yang sama di mata Tuhan, maka kita akan memenuhi hak mereka dan menghormati mereka sebagai makhluk sempurna. Rahim, kehamilannya, dan segala kondisi fisik serta psikologisnya tak lantas membuat mereka tak bisa menyempurna. Kondisi itu juga tak lantas membuat mereka layak untuk direndahkan.

Dengan demikian kita harusnya bisa mencintai diri kita sendiri, karena kita layak untuk dicintai sebagai makhluk Tuhan. Tuhan menciptakan kita dengan kasih sayangNya, Tuhan bahkan memberi perempuan rahim yang merupakan manifestasi dari Kasih SayangNya (Ar Rahiim).

Bagikan
Post a Comment