Bapak dan Penyesalannya
Beberapa hari lalu saya membaca tentang balasan twit seorang netizen yang berkata; bahwa pilihan seorang manusia menjadi full time mother bisa jadi bagian dari sebuah peristiwa di mana ia menyerah dengan hidupnya.
Baginya, jika lelaki melakukan hal yang sama, tidak akan ada yang mau sama lelaki ini dan mendapat gelar sebagai sampah masyarakat.
Saat membaca twit ini, saya teringat pada seorang lelaki yang sudah saya kenal sejak lama. Sejak tahun 2010 ia hidup sendiri sebagai lajang kembali. Tiap pagi setelah subuh ia akan membuka jendela seisi rumah. Jendela lawas yang terbagi dua ruas, dengan dua lapis yakni kaca dan kayu, masih menggunakan grendel yang terdapat di antara dua ruas itu – kemudian melanjutkannya dengan merendam semua baju kotor, mencuci piring, berjalan kaki hingga setidaknya 3km.
Tak berhenti, ia juga menyapu dan mengepel lantai seluruh rumahnya yang luasnya tak main main; terdiri dari 6 kamar tidur, 2 kamar mandi. Setelah tetek bengek ini ia harus kembali menyelesaikan cucian kotor yang ia rendam tadi pagi.
Sampai sini, apakah ia terlihat lelaki yang menyerah dengan hidupnya?
Tentu tidak, saya lupa menambahkan lelaki ini adalah bapak saya, seorang pasien kanker darah yang rajin kemo setiap 3 minggu sekali. Ia menjadi full time father dan menjadi lekat dengan segala urusan tetek bengek ini sejak berkeluarga.
Bapak pernah menganggur sejak tahun 1998 di mana toko besi yang ia urus akhirnya gulung tikar. Bapak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah daripada saat bekerja sebagai pelayan toko.
Saya terbiasa melihatnya mencuci baju sejak dulu, mengerjakan tugas bersih-bersih dan sebagainya. Percaya tidak percaya, bapak saya bisa muntab jika garis setrikaan di celananya ada dua dan hal itu menjadi pembenaran hingga kini kenapa ia mengindari jasa binatu meskipun kami memaksa.
Baginya, kesalahan fatal bukanlah soal makanan yang keasinan atau tidak ada rasa. Kesalahan fatal adalah jika noda masih tersisa dan garis setrika jadi dobel, sebab penampilannya akan terganggu dan tidak well groomed.
Saya sungguh tidak pernah keberatan dengan lelaki yang memilih mengerjakan pekerjaan domestik. Saya dikelilingi oleh lelaki seperti ini sepanjang saya hidup, bukan hanya bapak saya. Tidak terbesit sedikitpun saat bapak saya terkena PHK saat itu dan ibu saya sebagai penjual makanan di warung merubah kami melihat bapak.
Tidak, bapak saya bukan sampah masyarakat. Bapak saya turut membangun masyarakat, memberikan peran pada dirinya sendiri. Ia tetap hidup sebagaimana adanya manusia yang berdaya. Punya waktu dengan kami anak-anaknya, istrinya, dan kehidupan sosialnya. Ia tidak dianggap sebagai sampah masyarakat sebagaimana asumsi cuitan itu.
Apakah yang saya alami terlampau personal?
Bisa jadi. Tapi mungkin, ada keluarga lain seperti saya yang juga merasakan hal yang sama. Pekerjaan rumah bukanlah ukuran berdaya tidaknya seorang manusia. Seorang teman perempuan yang berkarir di rumah tetap memiliki waktu bersama kami dan memberikan ide jika rapat dua mingguan kami berlangsung. Apa yang ia utarakan bersama kami para perempuan pekerja kantoran tetap cadas dan ide yang hebat.
Ia terpikir berbicara parenting dengan perempuan lain, memikirkan pendataan P.IRT bagi pelaku usaha di organisasi kami, dan rupa-rupa gerakan progresif lainnya. Bagi saya, lelaki dan perempuan – atau siapapun itu – yang memilih pekerjaan domestik tidak setara dengan sampah masyarakat.
Cuitan netizen hari itu membuat saya berpikir ulang mengenai pilihan saya kelak jika peran reproduksi saya kemudian melanda. Bisa jadi juga saya akan stop sejenak dari karir publik saya – pun dari karir domestik saya di rumah.
Bagaimana mungkin saya sanggup melahirkan – menyusui – atau bahkan jika pasca keguguran- sambil mengerjakan kerjaan rumah yang sekandang bentang itu? Tentu saja tidak sanggup, semua alur reproduksi saya sebagai perempuan menuntut fisik yang fit sepanjang 24 jam.
Lagi pula mengasuh anak tidak bisa dibarengi dengan yang lainnya. Apalagi jika berkomitmen penuh meng ASI –hi anak. Sekalipun, masih angan angan.
Refleksi Cuitan Netizen
Cuitan itu membuat saya memikirkan hal-hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Bahkan saya sering geram, terutama jika bapak saya membuat pola silang dan melintang di punggung kemeja saya saat beliau menyetrika.
Lewat cuiten netizen saya jadi tersadar bahwa bapak kadang memiliki penyesalan, sebab ia tak bisa memasak, satu satunya yang bisa ia lakukan adalah membakar tempe jika terpaksa tidak ada makanan.
Hingga kini ia kadang bergumam, tentu menyenangkan jika ia bisa memasak sebab itu akan menghilangkan ketergantungannya pada orang lain; baik itu penjual makanan ataupun tetangga kami yang berbaik hati menjadi catering bapak setiap hari.
Tentu pekerjaan rumah bukanlah pekerjaan orang yang menyerah dalam hidup. Kebisaan kita dalam melakukan hal ini bahkan menjadi skill penting sepanjang kita hidup; sekaligus memerdekakan kita dalam relasi sosial. Refleksi dan penyesalan bapak dalam hal memasak menjadi salah satu contoh nyata.
Dari cuitan itu saya jadi merefleksikan banyak hal sekaligus merasa kocak diwaktu bersamaan. Bagaimana mungkin pekerjaan serumit itu menjadi simbol seseorang mengibarkan bendera putih atas hidupnya yang sudah rumit? Mungkin kita hanya harus melihat ke diri kita masing-masing sebelum memberi label atas pilihan orang lain yang tidak pernah kita tanyai untuk apa pilihan itu diambil dan seberapa banyak pilihan itu berdampak pada hidupnya.
Activist on issues of comprehensive reproductive health and social rights

Rohmatunnazilah
Keren refleksi Mbak Dede
Dede Dwi Kurniasih
Hai mbak, Terima kasih sudah berkenan membaca. Salam sayang, peluk jauh 😄
Irfah
Keren banget mbak… Membuka mata bagi yang berkenan membaca… That’s life…