f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Perempuan Internasional

Refleksi Hari Perempuan Internasional ; Yakin Kamu Baik-Baik Saja?

Memasuki Hari Perempuan Internasional banyak komunitas ataupun organisasi ikut menyemarakkan momentum ini dengan berbagai agenda. Mulai dari diskusi, long march, mimbar aksi virtual, pengadaan perlombaan mulai dari tulisan hingga karya seni dan lain sebagainya. International Women’s Day (IWD)diperingati setiap tanggal 8 Maret yang tahun ini mengangkat tema #ChooseToChallenge.

Menilik Sejarah Hari Perempuan Internasional

Bermula dari aksi protes pada 8 Maret 1857 yang dilakukan oleh buruh perempuan yang bekerja di pabrik tekstil di New York; karena mereka mendapatkan upah rendah serta tindakan semena-mena. Dan aksi ini kembali lagi di tanggal 8 Maret 1907 yang melibatkan dari lima belas ribu perempuan buruh di pabrik tersebut. Namun sayangnya kedua aksi yang telah dilakukan belum berdampak secara signifikan.

Kemudian, tepat 2 tahun pasca aksi tersebut digelar, Partai Sosialis Amerika di New York mengadakan unjuk rasa besar-besaran pada tanggal 8 Maret 1909. Theresa Malkeil menjadi aktivis perempuan yang memimpin gerakan ini dengan menuntut hak berpendapat dan berpolitik. Hal ini agar  menjadi proses penyadaran atas ketertindasan yang dialami oleh perempuan dan usaha untuk membangkitkan rasa emosional para perempuan untuk mengubah keadaan.

Maka secara tidak langsung muncul konflik antara kelompok dominan (laki-laki) dan kelas perempuan. Konflik tersebut dapat meruntuhkan sistem patriarki, didukung premis dari Hegel yang bersumber Karl Marx. Di mana kapitalisme terdiri atas konflik-konflik kelas yang akhirnya akan membuat sistem tersebut runtuh dan tercipta masyarakat yang egaliter.

Setelah tahun-tahun berikutnya aksi tersebut memicu aksi-aksi serupa di berbagai negara Eropa; kemudian Clara Zetkin yakni seorang sosialis Jerman mengusulkan agar menetapkan Hari Perempuan Internasional. Namun masih banyak perdebatan mengenai pemilihan tanggal yang tepat, hingga PBB memperingati tanggal 8 Maret 1975 sebagai Hari Perempuan Internasional meskipun belum secara resmi. Dua tahun berselang akhirnya peresmian dilakukan pada tanggal 8 Maret 1977 yang kemudian diperingati hingga saat ini.

Baca Juga  Muhammadiyah: Gerakan Pembaharuan Pendidikan
MISOGINIS TERHADAP PEREMPUAN

Baru-baru ini berita duka berasal dari negara Myanmar, usai satu bulan negara tersebut melakukan kudeta militer. Dilansir oleh Star Tribune (3/3/21) lebih dari 50 orang meninggal dalam aksi protes yang dilakukan oleh masyarakat sipil Myanmar. Semakin meningkatnya massa, pasukan keamanan lebih banyak melakukan penangkapan massal dan kekuatan mematikan seperti penembakan gas air mata, peluru karet, peluru tajam.

Salah satu demonstran meninggal tertembak di bagian kepala akibat tindakan brutal oleh aparat, Kyal Sin atau dikenal Angel merupakan perempuan yang berusia 19 tahun. Ia memakai kaos bertuliskan “Everthing Will Be OK” memilik unsur optimisme pada keadaan, padahal yang terjadi semua sedang tidak baik-baik saja.

Tidak lama kisah heroiknya dalam memperjuangkan, membela demokrasi dan menyuarakan kehendak rakyat di negaranya, membanjiri laman media sosial sebagai tanda penghormatan atas keberanian yang ia tularkan. Adaya kemajuan pergerakan perempuan disana dalam satu dekade terakhir yakni salahsatunya pengajuan undang-undang perlindungan dalam kasus kekerasan.

Namun disayangkan, dalam konstitusi Myanmar masih sangat konservatif. Walaupun Suu Kyi dianggap sebagai Ibu bangsa, secara realita belum signifikan dalam menerapkan sistem demokrasi atas keterpilihan perempuan; malah menjadi ancaman bagi agen-agen politik pemerintahan. Representasi kekerasan dan pandangan misoginis terhadap perempuan yang dilakukan militer Myanmar terefleksi terkait jabatan legislatif.

***

Berbeda dengan Indonesia yang telah menetapkan UU No. 10 Tahun 2008, di mana keterwakilan perempuan sekuang-kurangnya 30% di legislatif. Tetapi kekerasan terhadap perempuan mengalami peningkatan 60% dari 1.413 di tahun 2019 menjadi 2.389 kasus di tahun 2020. Walaupun adanya penurunan secara signifikan pada catatan tahunan Komnas perempuan 202; yakni sebanyak 299.911 kasus di tahun 2020 dibandingkan tahun sebelumnya 431.471 kasus di tahun 2019.

Baca Juga  Financial Planning : Hikmah Itaewon Class

Hal ini karena banyak korban yang cenderung diam atau memilih mengadu kepada kerabat/keluarga, tidak berani melapor karena dekat dengan pelaku saat masa PSBB; hanya lokasi tertentu yang memiliki infrastuktur lebih memadai, serta model pelayanan pengaduan yang belum memadai akibat pandemi (adaptasi menjadi daring).

Jadi bisa disimpulkan menjelang Hari Perempuan Internasional masih banyaknya ruang aman yang belum tercipta, kekerasan terus merajalela. Benarkah kita sedang baik-baik saja di tengah ke’tidakbaik’an keadaan yang terjadi? Oleh karena itu, perlu adanya merefleksikan momentum yang bukan hanya seremonial belaka, dengan mengingat perjuangan para perempuan yang telah memperjuangkan hak-hak perempuan lainnya.

Seperti upaya perlindungan dan pemberdayaan terhadap perempuan, menyusun dan melakukan gerak bersama baik antara perempuan dan laki-laki; hingga membentuk tatanan masyarakat yang egaliter dan berkeadilan. Lantas sudah sampai manakah kontribusi kita dalam memenuhi hak-hak perempuan?

DAFTAR PUSTAKA

https://tirto.id/sejarah-hari-perempuan-sedunia-dirintis-kaum-sosialis-diR4 diakses pada tanggal 07 Maret 2021.

Megawangi, Ratna. “Perkembangan Teori Feminisme Masa Kini dan Mendatang serta kaitannya dengan Pemikiran Keislaman” Tarjih Edisi I (1996): 18-19.

https://tirto.id/ada-apa-di-myanmar-hari-ini-kisah-angel-alasan-kudeta-militer-gaTE diakses pada tanggal 07 Maret 2021.

https://mubadalah.id/kudeta-myanmar-dan-marjinalisasi-terhadap-perempuan/ diakses pada tanggal 07 Maret 2021.

Bagikan
Post a Comment