f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sawab bin

Qishos Sawad bin Ghaziyyah

Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya, menghapus sisa-sisa malam yang basah. Semburatnya menimpa embun-embun di ujung daun kurma, membentuknya laksana berlian yang bercahaya.

Warna emas yang mucul di ufuk barat itu menghiasi Lembah Badar. Seolah ingin turut memberi kekuatan pada pasukan Muslim yang tengah berbaris rapi mengikuti instruksi sang komandan, Rasulullah Saw.

Angin sejuk karena melewati udara bekas hujan semalaman, menerpa sosok-sosok yang tegar, penuh semangat dan siaga tanpa rasa takut. Hujan yang turun semalaman menjadi keberkahan tersendiri. Karena dengannya, pasukan kaum Muslim bisa bersuci. Fisik maupun psikis mereka pun menjadi bugar.

Allah Swt juga memberi bekal kepada mereka dengan rasa kantuk di malam sebelumnya, sehingga mereka bisa beristirahat mengumpulkan tenaga.

“(ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketentraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian)”.  (Al-Anfal: 11)

Rasulullah Saw membariskan pasukan kaum muslimin, wajah segar penuh semangat terlihat di wajah-wajah mereka, seolah mereka tengah menunggu sesuatu yang selama ini mereka inginkan, mereka harapkan.

Tidak terlihat lagi wajah letih, ragu, cemas, seperti kondisi hari-hari sebelumnya.

Rasulullah memahami kondisi tersebut. Bagaimana mereka tidak ragu dan cemas, kalau ini adalah peristiwa pertama, harus berperang mengangkat senjata, padahal sebelumnya mereka diajak Rasulullah hanya untuk mencegat khafilah dagang Abu Sufyan. Kenyataannya sekarang, mereka harus berhadapan dengan pasukan Quraisy yang jumlahnya tiga kali lipat.

Nun di seberang sana, pasukan Quraisy sudah berbaris. Tapi lebih tepat disebut bergerombol. Mereka berkerumun, mengeluarkan kata-kata serapah, umpatan, dan hinaan, seraya berjingkrak mengikuti suara tetabuhan yang mereka bawa dari Mekkah.

Baca Juga  Habibah Binti Sahal: Sahabat Nabi Penggugat Cerai Suami
Pasukan Muslim berbaris rapi. Siaga menunggu instruksi.

Rasulullah Saw kemudian berjalan di depan barisan terdepan, bermaksud memeriksa pasukan. Ketika melewati Sawad bin Ghaziyah, beliau melihat tubuh Sawad bin Ghaziyah terlalu maju, tangan kanannya yang kebetulan sedang memegang anak panah yang patah, reflek mendorong badannya supaya mundur.

“Mundurlah wahai Sawad, luruskan barisan!” perintah Rasulullah Saw kepada Sawad bin Ghaziyah.

Sawad bin Ghaziyah pun mundur, menyesuaikan dengan barisan di samping kanan dan kirinya. Rasulullah Saw kemudian melanjutkan langkahnya. Namun, baru beberapa langkah Rasulullah Saw berjalan, tiba-tiba Sawad berkata sedikit keras.

“Ya Rasulullah, engkau telah menyakitiku.”

Langkah Rasulullah Saw terhenti mendadak mendengar teguran Sawad bin Ghaziyah. Beliau kemudian berbalik dengan mimik wajah menunjukkan keterkejutan. Dan bukan hanya Rasulullah Saw yang kaget mendengar keluhan Sawad bin Ghaziyah. Pasukan Muslim yang lain pun yang berbaris di dekat Sawad bin Ghaziyah merasa kaget. Umar bin Khathab bahkan sampai melotot dan hendak melangkah ke arah Sawad bin Ghaziyah, tapi terhenti ketika mendengar Rasulullah saw berkata,

“Menyakiti bagaimana wahai Sawad?”

“Anda telah menyakiti badanku dengan anak panah yang engkau pegang, ya Rasulullah,” Sawad berkata pelan.

“Oh ya? Maafkan aku kalau begitu, aku …..,” perkataan Rasulullah Saw terhenti.

“Saya ingin membalas perbuatanmu, ya Rasulullah,” Sawad bin Ghaziyah memotong perkataan Rasulullah”.

Karuan saja barisan pasukan Muslim menjadi riuh dengan gumamam mereka yang tidak menyangka akan tindakan Sawad bin Ghaziyah, merasa heran sekaligus marah dengan ucapannya. Umar bin Khaththab bahkan sudah mencabut pedangnya.

“Apa yang kau lakukan hai Sawad? Tidak pantas kau berkata begitu!” teriak Umar bin Khaththab.

“Tenang dulu wahai Umar,” Rasulullah menenangkannya dengan memegang pundak Umar bin Khaththab. “Kita dengarkan dulu, Sawad.”

Baca Juga  Air Mata Air

“Membalas bagaimana maksudmu, wahai Sawad?” tanya Rasulullah Saw pelan.

“Tadi engkau menekan perutku supaya mundur, sekarang saya ingin membalasnya, ya Rasulullah.”

Rasulullah Saw terdiam.

Sesaat terdiam, tapi kemudian tersenyum sambil membuka jubahnya, terus mengangkat kain bajunya, sampai kulit perutnya terlihat putih. Tapi begitu kulit perut Rasulullah Saw terlihat, tiba-tiba Sawad bin Ghaziyah menubruk Rasulullah Saw dan merangkulnya dengan erat.

Para sahabat tentu kaget dan hampir saja menarik tubuh Sawad bin Ghaziyah kalau tidak dilarang oleh Rasulullah Saw. Mereka kaget, mereka menyangka Sawad bin Ghaziyah benar-benar akan melakukan Qishas (pembalasan) kepada Rasulullah.

Ternyata Sawad bin Ghaziyah hanya merangkul Rasulullah Saw, dengan erat sambil mencium perut Rasulullah saw, dan tangisnya pun meledak di perut Rasulullah.

“Sudahlah wahai Sawad, maafkan aku, kalau aku menyakitimu,” kata Rasulullah.

“Bukan, bukan itu, ya Rasulullah. Saya bukan ingin meng-qishas engkau.” Sahut Sawad bin Ghaziyah terisak.

“Lalu, apa yang membuatmu melakukan hal ini?” tanya Rasulullah Saw lagi, sambil melepaskan pelukan Sawad bin Ghaziyah.

Sawad bin Ghaziyah menjawab pelan di tengah isakannya, “Ya Rasulullah, saya merasa saya akan menjemput syahid dalam peperangan nanti. Oleh karenanya, sebelum itu, saya ingin kulit saya bersentuhan dengan kulit engkau ya Rasulullah. Saya ingin meraih keberkahan dari memeluk engkau, ya Rasulullah.”

Rasulullah Saw tersenyum mendengar jawaban Sawad bin Ghaziyah, kemudian memeluknya, lalu mendo’akan kebaikan untuknya. Sawad bin Ghaziyah pun kembali ke barisannya.

Bagikan
Post a Comment