Kepemimpinan Generasi Masa Depan di Era Milenial

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Bicara tentang kepemimpinan tidak terlepas dari adanya generasi. Generasi merupakan tunas yang menjadi kekuatan lahirnya penerus ,pelangsung dan penyempurna suatu cita-cita. Presiden Soekarno pernah menyampaikan pesan; “Berikan aku 1000 orang tua niscaya akan aku cabut gunung Semeru dari akarnya dan berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia.”

Begitu menggetarkan bagi suatu bangsa apabila pemuda pemudinya mampu menggerakkan serta mengisi dinamika kehidupan bangsa. Sebagai agen pembaharu pemuda memiliki kesempatan maupun peluang yang lebih luas dari pendahulu. Jika pendahulu menjadi founding father yang memiliki harapan bahwa esok dan esok generasi mudanya akan menopang menjadi penguat tercapainya cita-cita yang terwujud dari visi dan misi.

Bagi pendahulu yang menjadi perintis akan menarasikan ide; gagasan serta perasaan yang dijalaninya pada masanya dengan membawa harapan akan dilanjutkan oleh generasi penerus dengan lebih baik lagi.

***

Generasi menurut William & Neil (1991) memunculkan kategori tentang waktu kelahiran; dan Benesich Machova (2016) membaginya menjadi baby boomer (1964), generasi X ( 1980) generasi Y (1994), generasi Z (2010) dan generasi alpha (2025). Generasi X atau yang lebih akrab sebagai generasi milenial adalah mereka yang hadir sebagai generasi baru.

Generasi ini terbuka terhadap hal-hal baru sehingga dalam kesiapan terhadap perubahan yang menyertai kehidupan inipun dilalui dengan kemampuan beradaptasi. Luasnya pengetahuan yang saat ini menyertainya menjadi bagian penting dalam pengembangan keterampilan atau yang biasa dikenal dengan kompetensi.

Nilai kompetensi itu sendiri menurut Spencer & spencer (1993) terdiri dari motivasi, sifat, sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Kelima unsur  tersebut menjadi penting dalam dialektika generasi yang saat ini membutuhkan kesiapan terhadap perubahan seperti di masa sekarang ini. Generasi Milenial merupakan generasi yang aktif, energik, cepat respon dan ideal. Generasi ini memiliki kemampuan yang diimbangi dengan pendukung yang menguatkan seperti keterampilan di bidang tertentu sehingga generasi ini memiliki multi skills.

Milenial memiliki kekuatan untuk menjadi pejuang di medan baru sekalipun. Bagi mereka petualangan menjadi tantangan yang menjadikannya semakin memiliki daya juang dan daya tahan yang menghebat. Mereka meyakini penciri atas kemampuan tersebut mampu membawa generasinya memimpin di masa depan.

***

Lantas bagaimana Kepemimpinan generasi di era Milenial? Bagaimana pula dengan pola kepemimpinan konvensional yang menjadi gerak kepemimpinan sebelum hadirnya Milenial? Simak lebih lanjut ragam Analisa berikut ini.

Salah satu kunci kesuksesan setiap organisasi, Lembaga dan komunitas manapun tercermin dari pola perilaku kepemimpinan yang berjalan. Kepemimpinan menurut Gary Yukl  tahun 2015 merupakan proses yang dibangun untuk mempengaruhi orang lain dalam mewujudkan cita-cita organisasi/ komunitas/ Lembaga. Adapun menurut Marie Parker merupakan seni yang dibutuhkan dalam melaksanakan aktivitas dengan melalui orang lain (konsep manajemen).

Sehingga pola kepemimpinan seperti dalam replikasi dari Ohio State University tahun 1945 yakni Consideration and initiating structure as a result of the Ohio state Leadership; menjelaskan bahwa dari pola consideration arahan yang menjadi pijakan adalah bagaimana pimpinan/pemimpin mendapat feed back dari bawahan sebagai bentuk partisipasi aktif dalam membangun kepemimpinan yang sehat.

Sedangkan initiating structure adalah arahan dari pimpinan/pemimpin yang memberikan bentuk instruksi ataupun menjalankan fungsi koordinasi dengan bawahan dalam pola kepemimpinan. Ruang yang menjadikan pola kepemimpian itu hadir salah satunya adalah organisasi. Menurut William Schulze tahun 1949, organisasi merupakan segala hal baik yang terkait tentang individu, ruang, kerangka kerja dan lainnya yang saling berhubungan untuk capaian pada tujuan yang dicita-citakan.

Dari keterpaduan aspek kepemimpinan yang berjalan maka satu benang merah yang harus kuat di sini adalah komunikasi. Komunikasi menurut Goldhaber  tahun 1986 memuat adanya proses, pesan, jaringan, hubungan, lingkungan, keadaan yang saling tergantung antar individu sehingga terjalin keharmonisan. Di mana pola komunikasi yang terbentuk di masa milenial ini adalah suatu bentuk komunikasi yang  menghadirkan sebuah komunitas informasi atau information society . Dalam bahasanya David Holme (2012) yakni adanya sentuhan teknologi seperti digital menjadi pengantar dalam komunikasi kepemimpinan di Era Milenial.

***

Selanjutnya, penciri kepemimpinan di masa milenial yakni menghadirkan  sosok yang mampu menjadi contoh/trendsetter dalam media; yang artinya mampu menyelami kebutuhan dari lingkungan dan orang –orang sekitar dari ragam generasi. Sebab media di sini menjadi pijakan dalam berkomunikasi yang efektif dan mampu beradaptasi. Kita dapat melihat saat ini munculnya generasi milenial yang menjadi sosok pemimpin baik di masyarakat maupun secara professional kerja.

Masa kepemimpinan milenial akan senantiasa menghadirkan proses dari bekerja keras dan pembelajaran yang tekun dan juga cekatan. Sebab komunitas informasi banyak yang hadir di masa kepemimpinan generasi ini.  Seperti halnya bagaimana mengubah suatu keadaan yang stagnan/mandeg dengan sikap, tindakan untuk mewujudkan satu pola perilaku kepemimpinan yang sehat . Begitupun terkait dengan pola perubahan yakni bagaimana mengubah ketakutan  terhadap teknologi  menjadi berani untuk belajar.

Milenial mampu mengubah keputusan yang tidak berpihak pada kebaikan menjadi kesepakatan untuk kebermanfaatan. Mereka juga mampu mengubah suatu kondisi dengan menghadirkan model kepemimpinan yang memberdayakan semua aspek; baik dari tata kelola sumber daya manusia, tata kelola SOP/ aturan maupun tata kelola  organisasi dengan membangun capacity building yang kuat.

Hal tersebut diatas menjadi starting poin dalam membangun dialektika yang berkelanjutan dan teralisasi secara utuh. Menegaskan bahwa pola kepemimpian milenial adalah potret kemajuan dari pola kepemimpinan generasi sebelumnya. Artinya seorang pemimpin mampu untuk beradaptasi dengan teknologi yang menjadi kebutuhan saat ini sehingga menjadi pembelajar adalah kebutuhan.

***

Selain hal tersebut, pola kepemimpinan milenial harus mampu mencipta suatu kreativitas, inovasi,  hal baru yang menjadi kebutuhan dan bukan keinginan segelintir pemangku kebijakan. Kepemimpinan di era milenial berbeda dengan kepemimpinan konvensional. Polanya berjalan baik dari cara, alat maupun kebutuhan yang diperlukan sebagai atribut yang melengkapi berjalannya kepemimpinan dimana memiliki penciri yang berbeda dari masa sebelum generasi ini hadir.

Sehingga harapan ke depan kepemimpinan generasi di era milenial ini menghadirkan gerakan yang memberdayakan dan memfungsikan semua anggota baik komunitas maupun individu dalam hal kompetensi. Gerakan tersebut  nantinya memunculkan tindakan nyata sebagai bentuk kebersamaan. Meyakini pula bahwa hadirnya generasi milenial mampu mewujudkan pola kepemimpinan yang visioner dengan ragam kompetensinya. Semoga 

Bagikan:
Penulis 37 Tulisan

Dyah Pikanthi

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya

Leave a Comment