Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan terhadap Emosi

4 menit baca
Teks:
WhatsApp

Saya pernah mendengar ada seorang kawan, yang notabene beliau adalah perempuan dengan diputuskan oleh pasangannya, dikarenakan beliau ini dianggap terlalu emosian?

Awal mendengarnya, saya sempat berpikir, tidak ada manusia yang tidak punya emosi. Emosi tidak memilih gender, lelaki atau perempuan. Keduanya sama-sama manusia. Manusia, makhluk unik yang memiliki emosi dan rasa. Saya rasa tidak ada satupun manusia yang tidak memiliki emosi di dunia yang semakin tercemar ini.

Setiap manusia tentu punya perasaan emosi. Sebuah perasaan yang digunakan untuk menggambarkan apa yang dirasakan ketika ada sesuatu dalam kehidupan sehari-harinya. Menurut Hockenbury, emosi adalah suatu kondisi psikologis yang kompleks, yang melibatkan tiga komponen yaitu pengalaman yang subyektif, respon psikologis dan respon tingkah laku atau ekspresi. 

Sehingga, mana ada hidup manusia yang tidak diwarnai dengan emosi atau perasaan lainnya. Justru tanpa adanya emosi, manusia akan sulit menikmati hidup dengan optimal. Bahkan, tanpa emosi kita tidak sadar atau mati, begitu fungsi emosi menurut Coleman dan Hammen (2003). 

Kemudian…

Perlu untuk diketahui, bahwa permasalahan emosi itu diatur oleh Hipokampus. Hipokampus ini adalah bagian sentral otak yang berperan penting dalam fungsi pembelajaran, proses mengingat, peran emosi dan keseimbangan. Di mana, menurut penelitian hipokampus pada perempuan lebih besar dibandingkan dengan pria. Inilah yang biasanya menyebabkan perempuan lebih suka berdiskusi dan memberikan syarat agar bisa dimengerti. 

Selanjutnya pancaran emosi pada laki-laki hanya mengaktifkan belahan otak bagian kanannya saja. Sementara pada perempuan, pancaran emosi pada perempuan mengaktifkan kedua belahan otak, bagian kanan maupun kiri. Namun syukurnya, bagian otak tengah perempuan tebal, sehingga meskipun sedang sedih dan meneteskan air mata sekalipun perempuan masih bisa tetap bekerja atau sekedar bilang “aku baik-baik saja”. 

Lalu, perempuan memang lebih rentan terhadap berbagai turbulensi emosi. Karena perempuan memiliki fluktuasi hormon lebih tinggi di bandingkan laki-laki. Selain itu, perempuan juga lebih ruminative atau sering memikirkan sesuatu berulang-ulang. Apalagi perempuan di zaman sekarang yang banyak dapat tuntutan mesti langsing, cantik, putih, bisa masak, dll. Mikirin sesuatu berulang-ulang, kapan saja dapat menghampirinya. 

Hal lain, perempuan memang lebih sensitif terhadap perilaku non-verbal dan jauh lebih mampu mengekspresikan hal yang dirasakan ketimbang dengan laki-laki. Perempuan memiliki kemampuan dalam mengekspresikan dan memahami pesan-pesan non-verbal. Jadi jangan mendadak heran ketika perempuan sedang mengekspresikan rasa happy, sedih, marah, atau rasa-rasa lainnya. 

***

Stigma yang mencitrakan perempuan sebagai makhluk yang emosional tidak sepenuhnya benar. Buktinya, menurut studi yang dilakukan oleh neurologis di Mindlab menunjukkan bahwa, justru yang lebih emosional itu laki-laki dibandingkan perempuan. Trus, kalau ditanya kok bisa ya laki-laki itu kelihatan stay cool, macam kulkas? Ya karena pria itu lebih bisa menyembunyikan perasaannya. Laki-laki memilih untuk tidak memperlihatkannya, akibat stereotip yang telah mendarah daging di masyarakat kalau ’laki-laki itu ga boleh cengeng’. 

Jadi menurut hemat saya, patut di sayangkan ketika lelaki berkata seperti itu. Toh balik lagi sih, pada teori sebab-akibat. Kalau sekiranya anda termasuk kekasih yang punya manner yang baik, ga mungkin juga pasangan mu bakalan cranky atau uring-uringan. Pada saat menjalin hubungan, tentu komunikasi yang baik itu sangat di perlukan. Gunanya, agar dapat mencegah hal-hal yang dapat memicu terjadinya pertikaian. Sehingga, emosi negatif yang tidak diinginkan tidak perlu muncul, dan mengacaukan kisah percintaan. 

Sebagai pasangan, tentunya perlu untuk saling belajar memahami satu sama lain, termasuk mengenai ’emosi’ pada diri masing-masing. Karena emosi itu ngga cuma marah-marahnya doang. Tapi ada cinta, malu, gembira, riang, senang, bangga, terpesona, puas, dan lainnya, termasuk pas momen lagi sayang-sayangnya sama pasangan. 

Kalau pun misalnya saya nih dikatain ’terlalu emosional’, saya akan bersyukur. Setidaknya saya jadi tahu bahwa lelaki tersebut nggak mau mengerti dan memperhatikan bahwa perasaanku juga penting. Sehingga tidak perlu merasa terlecehkan, terbuang berkepanjangan. Dengan cara itu, Tuhan mungkin menunjukkan bagaimana karakter sesungguhnya ’lelaki’ ini. 

Memang bukan hal yang mudah ketika kita mengetahui pasangan kita tidak bisa menerima kita ’apa adanya’. Namun, kita juga harus sadar bahwa kita layak untuk ‘bahagia: sehat jiwa dan raga’, ketimbang berhubungan dengan lelaki yang nggak bisa bersama kita karena urusan emosional. 

Leave a Comment