Tilik, antara Budaya dan Privasi

4 menit baca
Teks:
WhatsApp

Kenaikan angka kehamilan di masa pandemi masih menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Indonesia. Terhitung sejak bulan November 2020 hingga saat ini, bayi-bayi ‘efek WFH’ mulai berdatangan.

Bagaimana dengan Tradisi ‘Tilik’ yang Sudah Mengakar pada Budaya kita?

Pada mulanya, tradisi ’tilik’ pada kebudayaan Jawa bertujuan untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan membangun rasa empati antarwarga maupun saudara. Tradisi ’tilik’ juga merupakan salah satu bentuk solidaritas kepada ibu yang baru saja melahirkan dengan membantu persediaan dan perlengkapan kebutuhan bayi. Utamanya adalah ucapan selamat dan turut bahagia atas lahirnya anggota keluarga baru.

Namun, tradisi ‘tilik’ semakin bergeser seiring berjalannya waktu. Pengalaman hamil dan melahirkan setiap calon ibu memang berbeda satu sama lain. Pasti ada sisi unik dan menarik untuk diceritakan. Saya sering melihat postingan kawan saya di sosial media sedang menjenguk temannya pasca melahirkan.

Bayi masih merah, ibu masih pucat kelelahan serta para pengunjung yang masih mengenakan pakaian dinas. Boleh dikata mereka pulang kerja mampir ’tilik’. Apalagi sebelum masa pandemi, kebiasaan cuci tangan dan penggunaan hand sanitizer masih belum semasif sekarang.

Saya membayangkan betapa letihnya sang ibu harus menjaga senyum sambil ndredeg. Apalagi bayi mungil yang barusan lahir itu sungguh menggemaskan. “Mau gendong dong..” Tahan dulu, masih ada hari esok. Di sisi lain, ada perasaan tidak enak jika tidak segera nyumbang. Sepertinya malah menjadi kewajiban, atau bahkan beban.

Keluh Kesah di BalikTilik

Saya juga sering mendengar keluh kesah teman-teman saya yang dijenguk sesaat setelah melahirkan. Malam begadang, siang tamu tiada henti. Bukannya membangun ikatan batin antara orang tua dan anak, malah sibuk menerima tamu. Harusnya new baby born banyak minum ASI, namun karena ibunya kecapekan jadi kurang maksimal. Berujung pada tingginya kadar bilirubin pada bayi yang menyebabkan penyakit kuning. Siapa yang rugi?

Belum lagi muncul pertanyaan-pertanyaan ajaib dari para tamu. Apalagi pasca melahirkan anak ke dua, “lho, kok cewek lagi? Mukanya mirip bapaknya semua ya, kasihan kamu cuma buat lewat doang.” Dalam hati, lu kira bisa pesen apa laki atau perempuan? Lalu apakah seharusnya suami saja yang hamil agar muka si bayi mirip saya? Kenyataanya hanya senyum tipis dan ‘haha.. hihi..’ yang keluar dari mulut sang ibu.

Melahirkan di era digital saat ini terkadang juga menjadi bumerang bagi orang tua baru. Keinginan untuk berbagi kebahagiaan dengan mengabarkan bahwa bayi mereka telah lahir, tak sedikit memicu berbagai komentar dari warga net. Entah itu artis, selebgram bahkan orang biasa seperti saya pun berpotensi mengalami perundungan.

Baru beberapa bulan menikah kok sudah melahirkan? Mengapa harus sesar? Tidak diberi ASI? Mengapa tidak resign saja? Kalau ditinggal kerja, baby sama siapa? Mengapa kemarin-kemarin harus sekolah tinggi kalau ‘cuma’ mau jadi IRT? Dan mengapa-mengapa lainnya yang secara logika sudah bukan kehendak kita, apalagi urusan mereka. Bagi saya, ini sudah melampaui batas privasi. Ada lho pertanyaan positif lainnya yang bisa diutarakan.

Menghormati Privasi vs Tilik

Saya jadi ingat pengalaman hamil dan melahirkan saat mengambil kuliah di Paris. Perjalanan hidup yang sangat mengubah cara pandang saya. Kami disibukkan dengan ribetnya mengurus administrasi, persiapan melahirkan hingga merawat bayi di kamar apartemen seluas 28 meter persegi hanya berdua dengan suami. Belum lagi mengurus ijin cuti kuliah saya serta target penelitian dan publikasi suami. Memikirkan diri sendiri saja kadang merasa 24 jam sehari tak cukup.

Jangankan saudara, tetangga samping kamar saja tidak menjenguk. Ya paling kalau ketemu di lingkungan apartemen hanya mengucapkan ‘felicitation’, selamat. Tentu saja saya dapat mengambil sisi positif, di antaranya bisa konsentrasi beradaptasi dengan anak dan kembali beraktivitas normal.

Mungkin akan berbeda keadaannya jika saya setiap hari harus membuka pintu, berbasa-basi menerima tamu, dan lain sebagainya. Saya juga tidak menerima komentar-komentar negatif tentang proses kelahiran, kondisi bayi bahkan permintaan bayi tambahan.

Saya bersyukur diberi kesempatan tinggal di negara maju seperti Perancis, bertemu dengan orang-orang berpikiran terbuka dan sangat menghargai privasi kami. Bahkan di awal kehamilan pun, saya sebagai calon ibu diberi pilihan. Apakah akan menyusui atau tidak? Nantinya kalau si bayi ini lahir, mau dirawat sendiri atau dititipkan ke nounou/nanny mengingat saya harus kembali kuliah? Dalam hati saya, “Oh, rupanya ini sebuah pilihan.”

Dari pengalaman hamil dan melahirkan di Paris, saya jadi berpikir. Sebenarnya apa esensi ’tilik’ jika akan mengganggu pikiran ibu baru? Alih-alih turut berbahagia, malah mengganggu privasinya. Bagaimana tradisi ’tilik’ di tengah masa pandemi ini?

***

Jauh sebelum pandemi, saya sering berbagi pengalaman dengan teman-teman yang akan melahirkan. Rahmania, pilihannya hanya dua, kesehatan keluargamu atau hubungan sosialmu? Kamu butuh waktu untuk dirimu sendiri dan anakmu. Terlebih di masa pandemi saat ini, bukan lagi menjadi urgensi. Cukup ucapan selamat dan doa. Yaa kalau ada lebihan rejeki boleh lah kang paket mampir.

Namun sebagian dari orang tua baru juga harus sedikit melobi eyang-eyang si bayi. Karena biasanya euforia memiliki cucu baru, sedikit meremehkan kondisi nyata saat ini. Bahwa kesadaran akan kesehatan merupakan tanggung jawab masing-masing. Semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan.

Leave a Comment