f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
lelaki

Lelaki yang Gagal

Suara gesekan antara sepatu dan aspal, mulai aku dengar melintas di depan kontrakanku. Itu merupakan pertanda jika mentari sudah keluar dari persembunyiannya. Aku melihat jam weker dengan mata setengah terbuka, ternyata waktu masih menunjukkan pukul 05.35. “Rajin sekali anak-anak itu pergi ke sekolah. Semoga tidak kecewa dengan dunia yang penuh kepalsuan ini.”, Gumamku. Dan aku lebih memilih untuk memejamkan mata.

Kasurku bergetar cukup lama, aku membuka mata dan meraih handphone yang ada di sebelahku. Ternyata Ibuku sudah menelpon lebih dari 3 kali. Aku angkat, “Halo..”

“Tidak ada jadwal kuliah hari ini?” Sahut Ibuku.

“Ada, hanya satu jadwal mata kuliah pukul 7.30. Dan, ini aku mau bergegas bangkit dari tempat tidur”

Tiba-tiba suara ibuku meninggi. “Apa-apaan kamu, sekarang sudah pukul 7.15. Dan kamu baru bangun. Niat kuliah apa enggak, sih?” Seketika teleponnya dimatikan.

Aku terkejut ketika mendengarkan jawaban dari Ibuku. Aku melihat layar handphone, ternyata waktu benar-benar sudah menunjukkan pukul 7.15.

“Sial! aku tertipu oleh kepalsuan jam weker, yang aku beli dengan harga mahal. Baru sepekan aku membelinya, sudah tidak berfungsi.” Gumamku.

*****

Kini, aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Mengambil handuk, menggosok gigi, mengguyurkan air, mengoles sabun cair ke tubuhku, kembali mengguyurkan air, dan memakai baju. Seperti biasa, selesai dari kamar mandi, aku pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana. Membuat minuman sereal dan menuangkan susu kental manis pada sehelai roti gandum. Kemudian, aku bawa ke dalam kamar.

Sambil sarapan, pikiranku kalut tak karuan. “Apakah aku harus menerima kenyataan jika aku harus di drop out dari kampus? Tapi, kalau begitu aku sama saja telah mengecewakan Ibuku yang mengharapkan aku bisa mendapatkan gelar S.Sos. Belum lagi aku telah berjanji kepada kekasihku, bahwa aku akan memenuhi syarat dari kedua orang tuanya agar bisa segera bertunangan dengannya.”  

Pikiranku semakin tidak karuan, ketika menenggelamkan kepalaku di atas bantal yang telah menjadi saksi bisu kehidupanku di kota rantau. Secepat kilat pikiranku melayang pada kisah awal perkuliahan. Aku ingat betul ketika aku terjebak pada gemerlapnya kota terbesar kedua di Indonesia. Kota itu memang menyenangkan. Bahkan, sangat menyenangkan jika bisa bertemu dengan teman-teman yang agak baik di sana. Namun, ternyata memabukkan.

Baca Juga  Melawan Fatalisme: Mengubah Nasib dan Mengambil Kendali Atas Hidup
*****

Gara-gara temanku, aku sudah tidak ingat lagi tujuan awalku datang ke kota itu. Padahal, sebelumnya aku sudah berjanji segera menuntaskan perkuliahan dalam waktu 3,5 tahun kepada Ibuku dan mengajaknya berfoto bersamaku yang sedang memakai selendang bertuliskan Cum Laude.

Tapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Di kota perantauan aku justru sibuk bercinta dengan perempuan dan bergembira dengan barang-barang narkotika. Untung saja aku memiliki kekasih yang sabar dan baik hati. Aku menceritakan semua kisah kelamku itu melalui telepon. Terkejutnya aku ketika Ia mengatakan “Jangan diulangi dan berubahlah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab atas janji yang sudah dibuat kepada Ibumu dan aku”.

Deg! Jantungku berdegup kencang. Dengan mata berkaca-kaca aku mengatakan “Iya. Aku akan berhenti dan akan menjadi laki-laki bertanggung jawab atas janji yang sudah dibuatnya.”

Aku terbangun. Kepalaku masih pening atas segala pikiranku yang tidak karuan.

*****

Waktu di layar handphone menunjukkan pukul 10.30, aku putuskan untuk menghibur diri dengan pergi ke kedai kopi langganan. Tidak biasanya, kedai kopi itu ramai. Hampir setiap kursi sudah terisi oleh pembeli. Hanya ada satu kursi yang tersisa. Tapi, aku ragu untuk menduduki kursi itu, karena di sebelahnya sudah diisi oleh perempuan yang duduk sendirian. Aku bimbang: Duduk. Tidak. Duduk. Tidak.

Keputusanku sudah bulat. Aku pergi ke kasir, memesan secangkir wedang uwuh dan seporsi sosis bakar. Lalu, aku pergi ke tempat perempuan itu duduk. Aku menyapa, “Hai, bolehkah aku duduk di sebelahmu?”

Perempuan itu mendongak ke atas dan membuka earphone “Maaf, Masnya bilang apa tadi?”

Aku mengulangi sekali lagi dengan sedikit senyuman “Apakah aku boleh duduk di sebelahmu?” Perempuan itu tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya.

Baca Juga  Yang Tak Terdefinisikan

Aku memandangi wajahnya yang sibuk menatap laptop. “Sepertinya sedang sibuk. Apakah aku mengganggu?” Aku bertanya dengan wajah serius.

Ia menggelengkan kepala. Kemudian bertanya “ Kamu sedang kuliah?”

“Hmm…” Sejenak aku berpikir, jika aku menjawab sedang kuliah. Ia pasti menyodorkan pertanyaan yang lebih menakutkan: “ Sudah semester berapa?” Jika aku menjawab semester 10, rasanya diriku tidak berwibawa. “Baru lulus. Sekarang aktivitas saya menulis puisi dan esai di media, hitung-hitung dapat uang jika naskahnya dipublikasi” Jawabku dengan tegas.

*****

“Mbaknya kuliah atau…” Tiba-tiba saja pelayan mengantarkan pesanan yang saya pesan tadi. Dan, seketika itu juga perempuan di samping saya membereskan barangnya di atas meja. Ia tersenyum sambil berkata “Aku harus pulang”.

Setelah perempuan itu pergi, aku menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Tiba-tiba handphoneku bergetar di atas meja. Aku lihat layar, ternyata Ivanda, kekasihku menelpon. Aku angkat, “Hai…”

Ivanda menjawab “Bagaimana kabarmu?”

“Baik-baik saja”. Jawabku sederhana.

Dengan suara tegas, Ivanda berkata,“Bagiamana kuliahmu? Kedua orang tuaku sering menanyakannya. Sepertinya, Ia ingin aku segera bertunangan. Jadi, jangan lupa untuk segera menepati janjimu padaku, untuk segera menyelesaikan perkuliahanmu.”

“Iya, matikan teleponnya. Aku ingin menenangkan diri sejenak.” Aku menjawabnya dengan lemas.

Telepon itu selesai, aku semakin dalam kekalutan. “Perempuan seperti Ivanda memang tak sepantasnya dengan aku. Lihat aku hanya seorang laki-laki yang akan mengingkari janji lagi kepadanya. Bahkan, aku sudah sering berhutang janji kepada Ibuku untuk segera menuntaskan perkuliahan. Tapi, buktinya aku masih saja menjadi pembohong kepada Ibuku.”

Wedang uwuhku sudah habis.Sosis bakar juga habis. “Apa aku perlu untuk mengulang masa lalu yang kelam?” Gumamku. Aku putuskan untuk beranjak pulang.

Baca Juga  Sengkuni : Kupilih Jalan Takdirku Sendiri
*****

Hari-hariku kian suram. Perkuliahanku kian kacau, dari semua mata kuliah, hanya satu yang lulus. Itupun karena dosennya merasa iba melihatku. Pikiranku tambah runyam, tak ada lagi niatan untuk mengirimkan tulisan ke media. Mataku terkejut, ketika kawan lamaku datang begitu saja ke kontrakan membawakan barang yang sudah lama aku pesan.

Aku lelah. Hidup ini memang penuh kepalsuan. Benar kata Soe Hok Gie “Nasib terbaik adalah  tidak dilahirkan.” Aku lampiaskan kegelisahanku pada barang yang baru dihantarkan oleh kawan lamaku tadi.

Dan, tiba-tiba handphoneku bergetar. Aku lihat, ternyata Ivanda. Aku jawab “Malam… Sudah lama aku menunggu kamu menelpon. Aku kira kamu sudah melupakan aku.”

Dia hanya menjawab “Aku ingin bertemu kamu besok pagi untuk berbicara hal yang serius.”

Aku mengernyitkan dahi dan bertanya, “Ha? Mau bicara apa?”

Dengan suara agak kesal, Ivanda berkata “Sudah jangan banyak tanya. Segera kirim alamat kontrakanmu melalui WhatsApp.” Percakapan pun berakhir. Tentunya, aku segera mengirimkan alamat kontrakanku padanya. Aku kembali bercumbu dengan barang pesananku yang membuatku nyaman di kamar.

*****

Aku terbangun dari tidurku, ketika pintu kontrakan digedor-gedor. Firasatku mengatakan Ivanda yang datang. Aku pergi ke ruang depan untuk membuka pintu. Ternyata dua laki-laki berseragam dan bersenjata pistol di pinggangnya yang datang. Kedua laki-laki itu masuk ke kamarku, dan menyita barang berwarna putih berukuran kecil yang terlarang itu.

Dengan tangan terborgol aku berjalan dengan wajah lesu. Aku terperangah saat mendengar suara Ivanda. Dia berkaca-kaca melihat keadaanku sekarang. Dia menghampiriku dengan jalan sempoyongan.

Aku berbisik kepadanya “Bertunanganlah dengan laki-laki yang lebih bijaksana. Perempuan sebaik kamu memang tidak sepantasnya denganku.”  Dan sampaikan kepada Ibuku nanti, “Tak perlu bersedih, biarkan anak laki-lakinya menikmati kepedihan ini. Agar bisa tumbuh sebagai laki-laki yang bertanggung jawab.”

Bagikan
Post a Comment