Yuk, Menua dengan Bahagia Bersama Pasangan
Saya senang melihat iklan produk yang menampilkan aktivitas keluarga yang bahagia. Suasana rumah bersih dan rapi, istri cantik terawat, suami rapi dan mapan, anak-anak sehat dan ceria. Mereka tampak bahagia dan sangat menikmati hidup dengan keberadaan produk yang diiklankan.
Sayang, hidup tak selalu seindah iklan. Banyak keluarga yang kondisinya bertolak belakang dengan romantisme rekaan tersebut. Istri frustrasi, suami depresi, anak-anak patah hati. Mereka tinggal dalam rumah yang sama, tidur di kamar yang sama, tetapi hati tak lagi saling menyapa. Sibuk dengan pemikiran dan kehidupan masing-masing.
Apakah keluarga bahagia cuma ada di iklan-iklan? Apakah perform keluarga seindah itu bisa tercipta hanya karena mereka mendapat bayaran? Mungkin ada benarnya. Tetapi keluarga bahagia itu bukan sekedar halusinasi, tetapi sangat mungkin diwujudkan dalam realita.
Beberapa hal berikut mungkin bisa membantu mencerahkan..
Keluarga Bahagia Tidak Sekedar Dimimpikan, Tetapi Diperjuangkan
Saya yakin pada awalnya semua orang menikah karena ingin memiliki kehidupan yang lebih bahagia. Berbekal rasa cinta, kedua insan yang di mabuk asmara ini pun berani menanjak ke tingkat yang lebih tinggi. Awalnya, semua terasa indah. Namun, bertahun-tahun kemudian terungkaplah: pasangan tidak seideal waktu masih pacaran. Mulai terlihat teledornya suami, atau cerewetnya istri. Konflik terjadi; perbedaan pendapat meledak menjadi pertikaian panjang. Romantisme itu menguap, ketegangan dan kejenuhan yang tersisa.
Banyak yang akhirnya menyerah dalam perjuangan melalui masa-masa kritis ini. Mereka bercerai dengan alasan tidak cocok lagi, lalu mengubur mimpinya. Saya telah salah memilih pasangan. Mungkin kebahagiaan itu saya dapatkan bersama orang lain yang lebih baik. Mereka lalu menikah lagi, tetapi seringkali menemui kekecewaan yang sama, bahkan lebih parah. Karena sebenarnya bola api ada di dalam dirinya, jadi berpasangan dengan siapapun, biasanya polanya akan berulang.
Sejak di awal pernikahan, saya dan pasangan sepakat untuk berjuang bersama-sama. Sepelik apapun masalah yang terjadi, tidak ada “chicken exit” untuk salah satu dari kami. Kalau belum siap untuk bicara, lebih baik menenangkan diri sejenak, untuk kemudian kembali berdiskusi apa solusi yang akan diambil. Kalau ternyata kami tetap merasa berat, maka kami sepakat untuk minta tolong dengan menemui counselor pernikahan. Intinya kami tidak akan membiarkan apalagi mengabaikan batu-batu yang kelak bisa menghancurkan pernikahan kami.
Bermimpi punya keluarga bahagia itu tidak salah. Namun, keluarga bahagia tidak dibentuk di dalam mimpi. Kita harus bangun dari tidur dan berjuang di alam nyata. Membangun keluarga bahagia tidak bisa hanya dari salah satu pihak, tetapi masing-masing memiliki peran penting. Apalah artinya kalau seorang berjuang membangun tetapi yang satunya lagi selalu berusaha meruntuhkan. Yang ada hanya kelelahan dan sangat besar kemungkinan di satu titik akan mengangkat bendera putih alias menyerah.
Perbedaan Menjadi Kekuatan, Bukan Pertengkaran..
Awalnya anda jatuh cinta kepada pasangan karena memiliki kepribadian yang berbeda dengan anda. Anda yang pendiam, pasangan yang ramah. Anda yang panikan, pasangan yang tenang di tengah situasi kritis sekalipun. Intinya anda menikah dengan orang yang berbeda. Tetapi anehnya justru perbedaan yang membuat jatuh cinta ini pula yang bertahun-tahun kemudian menjadi alasan berpisah. Kami berbeda, kami tidak cocok..
Coba ubah cara pandang anda. Suami anda yang terlihat lamban dalam mengambil keputusan, biasanya juga adalah sosok suami yang sabar dan tidak suka membesar-besarkan masalah. Daripada fokus pada kekurangannya, kenapa anda tidak menghargai kelebihannya? Kalau memang Rahmania butuh solusi cepat atas suatu masalah, inisiatif mengajak suami berdiskusi, jangan menunggu-nunggu dan akhirnya merasa diabaikan.
Istri yang anda anggap cerewet biasanya adalah wanita yang rajin dan perhatian. Coba ingat-ingat, biasanya apa yang membuat istri anda ngedumel. Apakah karena anda tidak membangunkannya sebuah candi? Sepertinya tidak ya.. Biasanya juga karena hal-hal kecil, misalnya handuk diletak di atas tempat tidur, sepatu dan kaos kaki berserak di lantai, dan hal remeh temeh dan mudah dilakukan.
Awal menikah saya sering merasa kesal dengan kebiasaan suami yang suka sembarangan. Tidak jarang terjadi keributan karena kehilangan sesuatu saat diperlukan, misalnya kunci sepeda motor saat hendak berangkat ke kantor. Saya pun mengomel, membuatnya terpancing emosi. Tetapi lama kelamaan saya sadar apa yang saya lakukan tidak membantu. Akhirnya saya memutuskan untuk mengingatkan suami menaruh barang pada tempatnya. Saya belikan kotak tempat penyimpanan kunci dan meletakkannya di dekat pintu rumah.
Suami saya memang pelupa, dan sampai saat ini saya tetap berusaha membantunya. Tetapi saya juga belajar melihat dari sisi lain. Sifat pelupa suami saya ternyata tidak hanya pada barang-barang, tetapi juga dia mudah lupa kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan. Jadi, daripada saya mengomeli keteledorannya, lebih baik saya mensyukuri pengampunan dan penerimaannya terhadap saya. Hehe..
Ketika Cinta Menguap, Ingatlah Komitmen Anda!
Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini di mana berita perselingkuhan sangat santer diberitakan, sebenarnya membuat hati miris. Bukan hanya salah satu pihak, tetapi yang sama-sama sudah memiliki pasangan malah bermain belakang dengan pasangan orang lain. Ada yang ketahuan, tetapi ada pula yang piawai menjaga rahasianya dari pasangan, bahkan bertahun-tahun.
Kejahatan terjadi bukan saja karena niat, tetapi karena adanya kesempatan. Itu kata bang napi dalam salah satu konten di televisi. Awalnya hanya main-main, lama-lama main hati. Awalnya hanya iseng, akhirnya main api dan nyaris terbakar. Dan untuk menutupi atau membela diri, berbagai alasan pun diangkat ke permukaan. Dulu saya memang pernah mencintainya, tetapi sekarang cinta itu sudah menguap..
Dulu saat kasmaran, memang semuanya terasa begitu indah dan membahagiakan. Tetapi rasa cinta yang menyala-nyala itu memang ada waktunya. Rasa deg-deg ser saat bertemu pasangan pun hanya akan terjadi mungkin setahun atau dua tahun pertama. Selebihnya akan biasa saja. Bisa kah anda bayangkan kalau sampai kakek nenek anda tetap merasakan sensasi grogi atau jantungan saat ketemu pasangan? Wah.. bisa-bisa anda mengalami sakit jantung beneran. hehe..
Jadi, mengharapkan sensasi rasa cinta yang sama seperti dulu, adalah ciri orang yang kekanak-kanakan. Bahkan ada kalanya rasa cinta itu bisa menghilang dari hati anda. Justru di saat itu anda bersama pasangan perlu untuk menguji komitmen anda. Rahmania perlu menyepakati beberapa hal untuk membangun kembali cinta anda. Mungkin tidak harus berkobar-kobar seperti dulu. Tetapi bara di tungku cinta tetap menyala dan menghangatkan satu sama lain.
Sepanjang pernikahan kami, beberapa kali kami berdua bepergian untuk merefresh hati dan hubungan kami. Bepergian bersama anak memang menyenangkan, tetapi ada kalanya kami hanya butuh berdua saja. Mengambil waktu untuk berbicara dari hati ke hati. Menyelesaikan hal-hal yang masih mengganjal. Membuat kesepakatan baru. Menyusun impian-impian baru. Dan yang paling penting, meneguhkan komitmen kami terhadap satu sama lain. Tentu akan beda ceritanya kalau kami membawa anak-anak. Bisa-bisa fokus kami berubah dan goal tidak tercapai.
Berjuang bersama, optimalkan perbedaan menjadi kekuatan dan tetap fokus pada komitmen, mungkin ini beberapa hal yang bisa anda lakukan. Tidak ada kata menyerah. Semoga anda menua dengan bahagia bersama pasangan tercinta.
Seorang Ibu Rumah Tangga dan juga seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang suka menulis dan berbagi inspirasi. Ibu dari 2 orang anak dan tinggal di Medan. Facebook: Lidia Kandou Sianturi Instagram : @dia_sianturi.
