f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
keluarga

Toxic Parents dan Mitos Keluarga Ideal

Berbicara mengenai keluarga, setiap orang memiliki definisi masing-masing untuk memaknainya, termasuk saya. Bagi saya, keluarga adalah orang-orang yang mampu menerima kita seutuhnya, tempat belajar yang pertama dan utama, tempat berkeluh kesah sekaligus berbagi rasa, support system terbaik, dan sebagai alasan untuk segara pulang. Secara harfiah, keluarga berarti unit paling kecil dari kehidupan bermasyarakat yang mana di dalamnya tersusun dari kepala keluarga dan beberapa orang sebagai anggota keluarga.

Sebagian besar dari kita sepakat bahwa menjadi orang tua adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Tentu sangat membahagiakan. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada orang tua yang sengaja membiarkan hal buruk terjadi pada anaknya. Akan tetapi, alih-alih memberikan perlindungan dan mengajarkan kedisiplinan yang ada kalanya cenderung berlebihan, justru kadang membuat anak merasa tertekan. Inilah yang kemudian dikenal sebagai tindakan pola asuh yang beracun (toxic).

Mengenali Toxic Parents

Istilah toxic mungkin sering kita jumpai pada jokes-jokes yang beredar di media sosial. Selain berlaku pada pertemanan (frienship) dan hubungan antara pasangan (relationship), ternyata istilah ini juga kerap disandingkan pada diksi ‘orang tua’. Iya, toxic parents.

Pada beberapa waktu, mungkin para orang tua tidak menyadari bahwa berbagai perlakuan yang mereka tunjukkan kepada anak membawa dampak negatif. Perilaku toxic parent tentu tidak hanya berdampak pada fisik saja, namun juga pada mental atau psikis anak. Lalu, bagaimana cara kita mengenali orang tua yang toxic ini?

Termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang tak pernah memahami perasaan anaknya. Beberapa orang tua melampaui keinginannya terhadap anak. Dengan kata lain mereka menaruh ekspektasi yang berlebihan tanpa menimbang-nimbang kemampuan dan batas yang bisa dilakukan oleh anak. Mereka meletakkan kepentingan perasaan pribadi di atas perasaan anak. Akibatnya, anak merasa bertanggungjawab terhadap kebahagiaan orang tuanya dengan mengesampingkan bahkan menekan perasaan mereka sendiri demi memuaskan orang tuanya itu.

Baca Juga  Pendidikan di Tengah Liburan Kenaikan Kelas: Memaksimalkan Waktu Luang untuk Pertumbuhan Akademik dan Pribadi

Terlalu mencampuri urusan pribadi sang anak juga bisa menjadi toxic. Tidak baik jika suka mengatur apa saja yang harus dilakukan oleh anak. Orang tua memang patut memiliki kendali atas anaknya. Akan tetapi jika kontrol dan pengawasan tersebut dilakukan sangat ketat, maka anak akan sulit untuk berdaya dan mengekspresikan dirinya.

Orang tua ‘toxic’ cenderung tidak bisa kompromi. Anak seolah-olah tidak memiliki ruang untuk mengutarakan ide dan pendapat, apalagi pendapat itu dirasa menyebrang atau tidak sejalan dengan apa yang diyakini oleh orang tua sebelumnya. Sehingga dari sini, anak seperti hilang kepercayaan dirinya.

Memahami Relasi Orang Tua dan Anak

Memikul beban sebagai pengasuh, kadang membuat orang tua merasa berkuasa lebih terhadap anak. Mereka sewenang-wenang dalam memperlakukan anak. Padahal, sebuah relasi tidak akan terasa sehat apabila hanya salah satu pihak yang mendominasi atas pihak lain. Dalam hal ini adalah relasi antara orang tua dan anak. Toxic parents selalu meminta anak untuk bersikap sopan dan hormat kepadanya, namun mereka sendiri lupa bahwa anak juga harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya.

Emosi orang tua yang toxic biasanya berlebihan alias tidak sebanding dengan kesalahan-kesalahan kecil yang mungkin dilakukan oleh anak. Entah kesalahan itu sengaja maupun tidak. Maksudnya, orang tua sangat mudah marah sehingga terkesan dramatis. Emosi tersebut terlalu berapi-api dan sulit dikendalikan. Sangat berbahaya jika kemarahan tersebut diikuti dengan mencaci maki, memukul dan melakukan bentuk kekerasan lain terhadap anak.

Saat terlalu sering menyalahkan anak, berbagi pencapaian yang diraih anak jarang diapresiasi dan dihargai oleh orang tua yang toxic. Karena toxic parent selalu merasa kurang. Yang ada mereka malah lebih sering mengungkit hal-hal yang sudah diberikan untuk memenuhi kebutuhan anaknya.

Baca Juga  Keluarga Berkah Bukan Berarti Tanpa Masalah

Namun, perlu kita ketahui lebih lanjut sebenarnya toxic parents tidak semata-mata muncul begitu saja. Bisa jadi karena pengasuhan buruk di masa lalu yang dialami masih membekas sampai mereka dewasa. Sehingga secara tidak sadar perbuatan-perbuatan tidak baik itu melekat dan terbawa ketika mengasuh anak.

Bagaimana Agar Tida Toxic?

Orang tua yang telah menganali ciri dan bahayanya, agaknya akan sangat baik untuk segera memulihkannya secara perlahan. Mengingat tidak ada proses yang instan, bukan? Begitu pula pada anak, tidak perlu merasa malu apalagi insecure atas keadaan yang menimpanya. Karena terdapat hal-hal yang bisa dilakukan saat menghadapi orang tua yang toxic ini. Seperti terus meyakini dan positive thinking bahwa setiap diri itu berharga, tidak memendam derita sendirian, dan rajin konsultasi kepada pihak professional agar segera mendapat solusi yang tepat.

Wajar memang apabila anak merasa tidak nyaman dan menganggap keluarganya tidak ideal. Namun, harusnya tidak ada standart yang mengklasifikasikan apakah sebuah keluarga tertentu bisa dikatakan sebagai keluarga ideal atau tidak.

Pada culture kita terlanjur ada tatanan yang rigid bahwa keluarga ideal adalah keluarga yang terdiri dari satu ayah, satu ibu, dan anak-anak yang mana mereka saling akur satu sama lain dan terlihat sejahtera. Padahal, sejatinya setiap proses kehidupan (termasuk berkeluarga) memiliki arus yang berbeda dan memiliki cara yang berbeda pula dalam menghadapi problema yang ada.

Bagikan
Post a Comment