Site icon Inspirasi Muslimah

Sari

sari

Pagi masih terlihat remang-remang bahkan cenderung sedikit gelap. Mentari seolah ikut berduka dan enggan menampakkan diri. Semak dan rerumputan masih berselimutkan embun. Daun-daunnya memantulkan sinar temaram samar-samar sehingga masih ada harapan hadirnya mentari.

Aroma alam bebas menguar tanpa penghalang seharusnya mampu menambah suasana menjelang pagi itu menjadi lebih menyejukkan dan menenangkan. Ternyata tidak. Ada sekeping hati yang hancur lebur karena sesal yang tak mampu ia hindari meski ada rasa puas hasrat tertunaikan. Dua rasa yang nyaris tak ketemu titik bedanya.

Di rumah sebelah tampak beberapa orang keluar pintu. Dua di antaranya terlihat memapah sesosok tubuh yang tampak kesakitan dan tak berdaya menuju sebuah mobil ambulan. Beberapa yang lain berjalan di belakang mereka.

Ibu Sari memperhatikan dengan seksama walau tak bisa ditutupi dadanya tengah bergemuruh antara bersyukur, cemas, dan marah masih menguasai diri. Dia yakin siapa sosok yang barusan dilihatnya itu dibawa pergi. Dari balik jendela adegan itu terekam sempurna tanpa perlu diragukan lagi.

*

Seperti hari-hari sebelumnya, ibu Sari selalu pulang kerja beberapa menit setelah Sari pulang sekolah. Dalam sepekan terakhir selalu pulang agak sore. Sebagai pegawai pemerintah daerah di sebuah kantor kecamatan, akhir-akhir ini dia agak sibuk karena banyak tugas yang harus diselesaikan. Hari itu tak ada firasat apa pun dan kebutuhan Sari sudah dipersiapkan sejak pagi.

Dilihatnya Sari menangis sambil tiduran memejamkan mata di kamarnya. Tak ada siapapun di rumah selain mereka berdua dia dan putrinya, Sari. Bila cape dengan tangisannya, Sari tampak tertidur. Entah tidur kelelahan atau pura-pura tidur.

Rambutnya basah oleh peluh ketika menangis sambil sesekali meronta. Dari suara tangisannya tampak jelas dia marah sekaligus menahan rasa sakit. Sesekali ia gunakan ujung bajunya untuk menyeka wajahnya dari keringat campur air mata.

Gadis kecil kelas 5 SD itu memang cantik. Berkulit langsat mulus dengan rambut panjang lurus yang selalu dikepang dua membuat dia paling menarik dibanding teman-teman sekelasnya. Setiap berkeringat dahinya basah dengan anak-anak rambut yang menempel menambah kecantikannya nan alami.

“Kamu kenapa, Nak? Apa kamu sakit?”

Tak ada jawaban dari mulut Sari. Hanya tatapan mata sayu memerah karena tangis menyiratkan permintaan pertolongan. Nafasnya masih tersengal-sengal. Ia belum berani berterus terang kepada ibunya atas apa yang terjadi.

“Maafkan Ibu, beberapa hari ini terpaksa pulang sore,” sambil merengkuh Sari dalam pelukan. Sari masih sesenggukan. Dibelainya rambut Sari dengan penuh kasih dan matanya mulai mengembun perlahan.

Sejak berpulangnya sang suami, ibu Sari membesarkan putrinya sendirian tanpa bantuan siapa pun termasuk keluarga suami. Agar tak terlalu larut dalam kedukaahttps://milenialis.id/rutukan-kematian-dan-penantian-yang-tak-pasti/n, ibu Sari mengajukan pindah kerja dari desa yang lama.

Hampir satu bulan Sari akrab dengan Edo.

Biasanya sepulang sekolah ia main catur di serambi bersama Edo tetangga sebelah yang masih libur di rumah menunggu hari wisuda. Sari memanggilnya Mad. Edo sangat santun dalam bersikap dan manis jika berbicara. Di lingkungan RT dialah yang paling tampan.

Melihat kehalusan budi pekerti Edo, ibu Sari tak berpikiran negatif ketika tahu Sari sering bermain dengannya. Sari diajari cara memetik gitar dan diajari pula bagaimana berbicara dalam bahasa Inggris.

Mungkin karena lelah menangis akhirnya Sari tertidur. Ibu Sari mencoba untuk bersabar hati atas pertanyaannya yang belum terjawab. Biarlah Sari tidur dulu pikirnya. Namun, naluri seorang ibu tak bisa dibohongi. Tak biasanya Sari menangis seperti itu.

Azan maghrib berkumandang ketika Sari bangun dari tidurnya dan kembali menangis. Ibu Sari terkesiap. Dadanya bergemuruh hebat menahan amarah yang membuncah tiba-tiba tatkala melihat sesuatu yang selama ini dikhawatirkan terjadi pada putri semata wayangnya.

“Apakah ini perbuatan dia?” Ibu Sari bertanya dengan pelan meski dengan sekuat tenaga ia sembunyikan tubuhnya yang bergetar sambil memandang rumah sebelah. Degub jantungnya tak beraturan lagi.

Lagi-lagi Sari membisu. Wajahnya menunduk dan hanya bulir-bulir bening yang mengalir di pipi seolah air matanya tak pernah habis.

“Mas Edo, permisi…” Ibu Sari nekat mengetuk pintu rumah sebelah meski malam hampir larut. Dengan intonasi suara yang dibuat selembut dan seramah mungkin berharap Edo segera membukakan pintu.

Rasa sakit dihina, dilecehkan, dan dirusak masa depan putri satu-satunya membuat dia gelap mata. Belati kecil yang disembunyikan di balik daster seakan meronta-ronta ingin segera menjumpai mangsanya.

Memori trauma masa kecil atas perlakuan ayah tirinya, bermain-main dan memenuhi isi kepala. Meninggalkan dendam dan kebencian yang berkarat di sepanjang usia. Mendukung penuh rencana bulat demi satu keinginan; membuat perhitungan.

Belati kecil itu hampir tak terlihat lagi kilau tajamnya karena basah oleh darah setelah ia tusukkan di antara dua paha Edo saat membukakan pintu untuknya. Gerakan yang secepat kilat membuat Edo tak mampu menghindar. Sarung yang dipakainya berubah warna. Dia mengaduh lalu tersungkur.

*

Jarak ke sekolah yang dekat membuat Sari berangkat sekolah lebih dahulu tanpa harus diantar ketika ibunya siap-siap menuju tempat kerja. Usai mengamati kegaduhan pagi buta di rumah sebelah, ibu Sari sadar dalam hatinya ada kegelisahan yang tak bisa digambarkan.

Nafsu amarah yang tak terkendali telah membutakan mata hatinya sebagai ibu. Noda darah pada pakaian dalam putrinya sebagai saksi bisu telah membuka kembali luka lamanya yang kini meradang.

Baru saja beranjak dari kursi hendak menuju pintu, terdengar deru sebuah mobil berhenti persis di depan rumah. Beberapa orang berseragam polisi turun dan berjalan lalu mengetuk pintu rumah. Mereka menjemput ibu Sari.

Wurry Srie

Bagikan
Exit mobile version