f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
muhasabah

Pentingnya Muhasabah Terhadap Diri Sendiri

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menghabiskan waktu yang tidak bermanfaat. Dan itu sudah menjadi kebiasaan yang sangat sulit kita hilangkan.

Salah satu upaya yang dapat kita lakukan dalam menghilangkan malas ialah dengan membuat jadwal setiap waktu kita. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, dan setiap malam merenungkan diri dengan bermuhasabah atau intropeksi diri.

Arti Muhasabah

Muhasabah merupakan salah satu dari kunci kemuliaan dan keberhasilan diri seorang muslim. Yaitu dengan merenungkan hal-hal baik dan buruk yang telah kita lakukan. Termasuk memperhatikan niat dan tujuan suatu perbuatannya, serta menghitung untung dan rugi suatu perbuatan. Namun pada zaman kini banyak manusia melakukan segala hal sesuka hatinya tanpa memikirkan manfaat dan kesannya.

Mengenai muhasabah, Umar bin Khattab r.a. mengemukakan; “Evaluasilah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan bersiaplah kalian untuk hari ardh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasahnya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang bermuhasabah dirinya sendiri pada saat di dunia.”

Sebagai sahabat yang terkenal “kritis” dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri sendiri sebelum mendapat hisab dari Allah di hari kiamat nanti.

Jenis dan Cara Muhasabah

Ada tiga jenis proses intropeksi diri (muhasabah) yang bisa menjadi acuan, yaitu  muhasabah sebelum beramal. Muhasabah memperhatikan niat dari awalnya dan amal apa yang bagus dan tidak bertentangan dengan ajaran Rasulullah dan merenungkan terlebih dahulu dalam bertindak.

Orang tersebut akan berfikir “apakah yang sudah ia lakukan sudah benar atau belum”. Jika benar maka tidak masalah untuk melanjutkan, dan jika salah maka wajib meninggalkan.

Baca Juga  Toleransi dan Kita

Muhasabah yang kedua adalah muhasabah saat sedang beramal. Artinya, apakah jalan yang sedang ia lalui sudah benar atau belum untuk mencapai tujuan. Jika benar, lanjutkan, dan jika salah luruskan lagi (belok) sebelum tersesat jauh.

Muhasabah yang ketiga adalah muhasabah setelah beramal. Artinya, apakah amal yang sudah ia kerjakan bermanfaat bagi pribadi dan orang lain atau tidak. Jika tidak cari amalan lain. Jika iya dan banyak, maka pertahankan, jika iya dan sedikit, maka tambahlah amalan itu.

Dengan merenungkan apa yang sudah kita perbuat maka akan semakin memantapkan hati kita untuk menjadi lebih baik. Apabila ada amal yang dianggap bermanfaat maka diperbanyak amalan tersebut dan tingkatkan supaya menjadi terbiasa dengan melakukan kebaikan setiap waktu.

Dalam rangka memperbaiki diri seseorang harus pintar-pintar dalam memperhitungkan amal perbuatannya sendiri. Apabila seseorang telah melakukan intropeksi diri sendiri tentunya ia akan mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangannya, maka lahirlah keinginan untuk memperbaiki keadaannya dengan meningkatkan amal kebaikan dan lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan demikian terpeliharalah diri dari perbuatan yang Allah tidak ridha.

Membiasakan Bermuhasabah

Salah satu keberhasilan tokoh-tokoh besar dalam sejarah itu tidak lain karena mereka selalu bermuhasabah terhadap dirinya sendiri. Muhasabah diri menjadikan mereka mudah menerima syariat Allah dan membawa mereka kepuncak tertinggi dalam beramal dan beribadah. Dalam pemikiran yang tertanam di kepala dan hati mereka akan meninggalkan dunia ini untuk bertemu dengan sang maha agung yaitu Allah Swt.

Hasan Al-Basri berkata “Demi Allah sesungguhnya orang mukmin ini selalu menegur dirinya: apa yang aku inginkan dengan percakapan? Apa yang aku inginkan dengan makananku? Apa yang aku inginkan dengan minumanku? Akan tetapi orang yang lemah terus melakukan dosa setapa demi setapak tanpa menyesali perbuatannya”.

Baca Juga  Memeluk Mimpi (2): Sebuah Keberuntungan

Orang mukmin adalah orang yang selalu melihat pribadi, ia selalu bermuhasabah diri karena Allah. Perhitungan amal saat hari kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu mengoreksi dirinya saat mereka berada di dunia; sedangkan bagi orang yang tidak bermuhasabah diri saat di dunia, perhitungan ini akan terasa lebih berat.

Dengan muhasabah terhadap diri sendiri, kita akan mengetahui akan aib apa saja yang ada dalam diri dan bagimana cara menutupinya dengan kebaikan. Juga tidak mengulangi keselahan yang sama untuk kedua kalinya. Pada dasarnya aib dari seorang manusia hakikatnya telah Allah Swt tutupi. Dan tugas kita, hanya berikhtiar supaya tidak di buka oleh-Nya. Yaitu dengan melakukan apa-apa yang merupakan perintahNya dan menjahui apa saja larangNya.

Bagikan
Post a Comment