f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
toleransi

Optimalisasi Peran Ibu sebagai Duta Pendidikan Toleransi dalam Rumah Tangga

Indonesia merupakan bangsa yang unik. Keunikan tersebut dapat dilihat dari keberagaman karakter yaitu terdiri  suku, bangsa, ras, budaya, bahasa dan agama. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sedikitnya terdapat  633 suku yang ada di Indonesia. Sedikitnya ada 6 agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia yaitu Islam, Kristen, Budha, Hindu, Katolik dan Konghucu. Menurut Jimly (2004), keberagaman tersebut disebabkan oleh pengaruh letak geografis Indonesia yang strategis dan watak masyarakat indonesia yang mudah menerima pengaruh asing.

Keanekaragaman suku bangsa dan budaya terutama agama di satu sisi memberikan kebanggaan. Namun, di sisi lain rawan terhadap konflik. Di Indonesia konflik antar agama maupun suku kerap terjadi. Kalangan anak muda sebagai agensi memiliki kecendrungan lebih kuat dan kemungkinan lebih besar untuk terlibat dalam gerakan sosial radikal ketimbang orang dewasa yang mana terdapat fase transisi dalam pertumbuhan usia yang menyebabkan rawan krisis identitas. Fase remaja ini merupakan fase yang  membutuhkan perhatian lebih. Karena pada fase inilah remaja mulai menginternalisasi nilai dari lingkungan dan orang tua.

Toleransi antar umat beragama sudah menjadi suatu diskursus yang rutin dikaji baik oleh pemerintah maupun kelompok-kelompok penguat kebinekaan. Berbagai upaya pemerintah lakukan dalam menumbuhkembangkan kondisi masyarakat beragama yang harmonis, di antaranya melalui penanaman nilai-nilai toleransi melalui jalur pendidikan baik formal, informal maupun non formal.

Pendidikan Toleransi di Lingkungan Keluarga

Pendidikan itu sendiri berjalan dalam suatu lingkungan yang menjadi wadah dari proses pendidikan. Menurut Rosminingsih dan  Susarno (2016), lingkungan pendidikan terbagi menjadi tiga pusat yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama. Menurut Ki Hajar Dewantara, lingkungan keluarga bertanggung jawab untuk pendidikan budi pekerti dengan menekankan proses pembentukan moral. Keluarga merupakan lingkungan terdekat dengan anak sebagai tempat untuk berkembang membentuk pola dan kebiasaan.

Baca Juga  Taaruf: Upaya Jitu Menikahi Pasangan Idaman

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa salah satu penanggung jawab pendidikan dalah keluarga. Orang tua memiliki peran yang strategis sebagai pengasuh, pengajar, pendidik dan penuntun. Karenanya, penanaman karakter dan nilai-nilai toleransi paling efektif dilakukan mulai dari tingkat keluarga.

Toleransi merupakan cikal bakal dari perdamaian. Secara estimologi atau bahasa, toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi merupakan sikap saling menghormati, menghargai, menyampaikan pendapat, pandangan terhadap sesama manusia yang pada dasarnya bertentangan dengan diri sendiri. Dalam Islam, toleransi disebut dengan tasamuh atau kemudahan. Toleransi dalam islam dapat diartikan sebagai pemberian kemudahan bagi siapapun untuk menjalankan apa yang telah diyakini sesuai dengan ajaran masing-masing tanpa adanya tekanan atau tidak mengusik kepercayaan yang telah dijalani orang lain.

Berdasarkan pengertian di atas, toleransi merupakan suatu sikap yang menghargai perbedaan dan memberikan keleluasaan dalam menjalankan keyakinan masing-masing. Ada beberapa nilai yang terkandung dalam karakter toleransi yang harus orang tua tanamkan dalam lingkungan keluarga di antaranya sikap saling menghormati prinsip agama masing-masing, menerima perbedaan pendapat, berlaku adil pada siapapun dan menghargai hak dan kewajiban masing-masing.

Ibu, Duta Pendidik Toleransi

Pada pendidikan anak dalam keluarga, ibu menjadi sosok yang berperan penting dalam pengajaran anak. Dalam fungsi pendidikan dan sosialisasi, ibu merupakan faktor penting dalam mendidik dan menanamkan nilai, moral, etika dan norma ke anggota keluarga lainnya. Ibu merupakan sosok yang paling dekat dengan anak. Sehingga pendidikan dan pengalaman ibu sangat berpengaruh terhadap kondisi karakter anak. Karakter dan kepribadian yang terbentuk pada anak merupakan fundamental education yang dapat mewarnai seluruh sifat dan gaya hidupnya sebelum mendapatkan pengaruh dari lingkungan lainnya seperti teman dan kondisi lingkungan tempat tinggal. Karenanya, nilai-nilai pendidikan toleransi layak diperkokoh dan ditanamkan kepada anak sejak dini.

Baca Juga  Perempuan Pembawa Perubahan

Dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dalam keluarga, ibu dapat melakukan berbagai hal di antaraanya, memilih sumber informasi atau bahan bacaan kepada anak. Di era digital seperti saat ini beragam bacaan atau sumber informasi dengan mudah diakses oleh semua orang. Sebagai “Duta” toleransi, Ibu dapat memilih sumber informasi atau buku yang sesuai dengan kebutuhan anak serta tidak bersifat radikal. Penseleksian bahan bacaan bertujuan agar mencegah generasi muda terjerumus  dalam pemikiran radikal yang menjadi cikal bakalnya sikap intoleransi dan ppenghancur perdamaian.

Hal lainnya yang dapat ibu lakukan sebagai duta pendidik toleransi adalah bersikap adil dan terbuka terhadap anaknya. Memberikan ruang kepada anak dalam menyampaikan pendapat merupakan pembelajaran terbaik dalam membentuk sikap toleransi. Menghargai perbedaan pendapat serta memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak.

Menanamkan sikap saling menolong merupakan hal berikutnya yang dapat ibu lakukan dalam memberikan pendidikan toleransi pada anak. Sikap tolong-menolong sesama manusia tanpa harus membedakan ras, agama atau suku apapun harus ayah ibu tanamkan pada anak sejak dini. Penanaman nilai-nilai toleransi pada anak sejak dini merupakan manifestasi yang layak dikokohkan sejak dini dalam lingkungan keluarga dan dapat dilakukan oleh seluruh ibu yang ada di Indonesia, agar terciptanya Indonesia yang unik, berkarakter dan damai.

Penulis : Siska Ariesta (Seorang guru di Banda Aceh)

Bagikan
Post a Comment