f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bumi meja makan

Menyelamatkan Bumi Bermula dari Meja Makan

Kita sedang berada di sebuah zaman di mana kita sedang mengalami krisis lingkungan yang luar biasa dan tidak ada presedennya. Teknologi yang diciptakan manusia justru menjadi sebuah mekanisme yang memicu kerusakan amat cepat, bukan lagi linier bahkan secara eksponensial. Padahal, manusia dengan segala kekuatan akal, kreativitas, dan budaya yang unggul sudah sangat compatible, secara fitrah manusia memiliki kemampuan

Adalah David Efendi, seorang aktivis lingkungan yang teguh menyoroti persoalan ekologi dengan menjadikan Islam sebagai kekuatan spiritual penggeraknya. Dedikasinya dalam pemulihan ekologi digiatkan dengan kegiatan-kegiatan berbasis komunitas sejak belia. Buah pemikiran kritisnya akan krisis ekologi telah bermunculan di pelbagai media. Baginya, menggiatkan literasi dan lingkungan hidup melalui komunitas merupakan kehidupan yang sangat layak dan menyenangkan untuk dijalani.

Melalui acara Instagram Live Rahma.id seri rahmania bercerita dengan tajuk “Menjadi Khalifah Berarti dengan Menjaga Bumi” yang dipandu oleh saya sendiri pada Kamis (6/5/2021), David Efendi membagikan pandangannya mengenai ekologi dan kaitannya dengan nilai spiritualitas Islam.

Janji Sakral Manusia dengan Sang Pencipta

Sesungguhnya Islam hadir sebagai sebuah agama hijau. Maka, sudah sepatutnya gerakan Islam dipandu dan padu dengan kesadaran tinggi akan penyelamatan lingkungan hidup. Diciptakannya manusia di muka bumi adalah bentuk janji sakral antara manusia sebagai yang diciptakan dengan Sang Pencipta sejak dalam kandungan. Ekologi juga bagian dari tauhid dan memiliki nilai universal. Sebagai sebuah agama, Islam sangat peka akan fenomena ekologis seperti perubahan malam ke siang, flora fauna, bahkan penciptaan manusia—yang akhirnya diberi amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Krisis lingkungan yang mencekik kita semua seharusnya menjadi bahan perenungan bersama. Apakah kita sudah cukup beriman terhadap krisis lingkungan atau justru kita semakin mengalami keterputusan dengan alam. Padahal ta’awun kepada bumi dan langit adalah manifestasi keislaman dan keimanan yang seringkali kita klaim sebagai wajah Islam rahmatan lil ‘alamin—atau dalam istilah David Efendi adalah sholeh ekologi.

Baca Juga  Gunarti: Kartini Modern Penanam Ideologi dan Penjaga Motivasi bagi Pelaku Pergerakan
Amanah dari Buaian sampai Liang Lahat

David Efendi sangat menyayangkan mengenai istilah ‘menjaga bumi’ hanya melekat pada sebatas kegiatan pramuka atau kegiatan pecinta alam lainnya. Seharusnya ada edukasi yang lebih aktual sebagai bentuk kesadaran bersama atas keterancaman dunia yang semakin mengalami siklus tidak menentu. Baik edukasi formal maupun informal.

Dari dalam rumah sudah harus dipercikkan nilai-nilai menghargai alam, pangan, dan kehidupan. Orang tua hadir sebagai madrasah pertama untuk mengenalkan lingkungan, bukan hanya mengenalkan alam dengan digital, melainkan juga mendekatkan anak kepada sesuatu yang dekat dan bisa dirasakan oleh panca indera.

Analogi sederhana yang disampaikan oleh David Efendi seperti memperkenalkan bahan-bahan makanan sebelum dimasak atau berbagai cara kreatif lainnya. Hal ini ditujukan dalam rangka membangun kedekatan emosional antara anak dengan alam. Bukan justru menanamkan ambisi-ambisi kapitalistik yang berujung pada financial game untuk mencapai lisensi mengeksploitasi alam.

Meja Makan: Arena Pertama Menyelamatkan Bumi

Dominasi makanan siap saji dan ketergantungan dengan produksi-produksi pangan industri membuat manusia meninggalkan jejak karbon yang amat dahsyat. Anggapan yang mengakar tentang dapur dan meja makan sebagai sebatas ruang masak dan menyimpan bahan makanan menyelimuti kompleksitas yang layak untuk dikritisi.

Semua peristiwa kontemporer ini melengahkan kita atas fenomena mengenai jejak karbon yang menggerogoti bumi. Padahal manusia punya kekuatan menjadi khalifah di muka bumi bermula dari meja makan. Seberapa mampu kita meninggalkan jejak karbon yang kecil, walaupun tidak sempurna setidaknya tidak memperburuk keadaan. Barangkali karbon menjadi catatan dosa karena secara tidak sadar diam-diam kita sedang merusak bumi.

Sebelum kehancuran menjadi sangat eksponensial, baiknya kita memperhatikan apa yang kita santap. Bukan hanya sekedar memuaskan nafsu dan kebutuhan hidup, apa yang kita santap ternyata menjadi salah satu indikator utama dalam penyelamatan bumi. Baik laki-laki maupun perempuan, kita semua memiliki kendali utama dalam menjaga meja makan.

Baca Juga  Mengompos, Cara Kita Menjaga Bumi !

Pada akhirnya, setiap manusia bertanggung jawab atas wajah-wajah Allah yang dimanifestasikan dengan alam semesta ciptaan-Nya. Seberapa mampu kita menunjukkan keberimanan kita terhadap Allah dengan setidaknya menampilkan wajah yang ramah lingkungan.Kehadiran yang dekat dan sakral dengan alam semesta.

Bagikan
Post a Comment