Site icon Inspirasi Muslimah

Menjadi Teman Curhat yang Asyik

Bercerita

“Idih, kayak ndak ada kerjaan aja. Masalah kita sendiri aja sudah banyak, ngapain ngurusin masalah orang lain?” Mungkin sebagian diri kita akan bereaksi seperti itu. Sah-sah saja sih. Tapi tahukah Rahmania, “menjadi ada” untuk orang lain di saat dia sangat membutuhkan itu bisa menyelamatkan mental bahkan jiwanya lho.

Coba kita tengok kembali, berapa orang yang salah mengambil keputusan hingga menjerumuskan dirinya pada permasalahan yang lebih rumit karena tidak ada orang yang bisa diajaknya bicara dan memberinya masukan sebagai alternatif solusi? Atau yang lebih ekstrim lagi, berapa banyak yang memilih untuk bunuh diri karena merasa sendiri dengan bebannya yang sangat berat dan tidak tahu jalan keluarnya?

Pentingnya bercerita

Pada dasarnya semua orang butuh bercerita, butuh didengarkan sebagai media untuk mengurangi rasa sesak di dada karena masalah yang menjadi beban hidup. Persoalannya, sebagian besar dari kita lebih ingin didengarkan dari pada mendengarkan. Kita pengennya orang tahu derita apa yang sedang kita alami. Kita ingin mendapat banyak simpati yang menjadikan penghiburan dari rasa gundah gulana ini. Karena itu, banjirlah status medsos dengan keluh kesah tiada tara, mengharu biru mengiris kalbu.

Akan tetapi, tidak sedikit orang yang sulit untuk mengungkapkan apa yang sedang dirasakan, memilih menyimban sendiri segala beban di hati. Dampaknya, tentu akan lebih menyakitkan terutama secara psikologis. Orang bilang, memendam masalah itu sama seperti menyimpan bom waktu. Suatu saat bisa meledak dan berpotensi menyakiti tidak hanya diri sendiri tapi juga orang lain.

Bagaimana bila itu terjadi pada orang terdekat kita, atau sahabat kita, tentu kita tidak ingin itu terjadi. Lalu apa yang bisa kita lakukan agar mereka bisa terbuka dengan kita?

Tidak menyalahkan dan tidak menghakimi

Seseorang itu mau terbuka dengan orang lain apabila dia merasa aman dan nyaman, terutama dari penghakiman ataupun disalahkan atas masalah yang sedang dialami. 

Seperti misalnya, teman kamu datang dan menangis padam, dia bercerita baru saja mendapat serangan pelecehan seksual. Janganlah berkomentar, “Ya iyalah mereka ngelecehin kamu, bajumu kurang bahan begini.”

Lebih baik kamu tenangkan dia, temani selama dia masih shock. Setelah itu carilah informasi pihak-pihak yang memiliki layanan untuk membantu dia lebih lanjut.

Percayalah, dia sudah menyalahkan dirinya sendiri kok, tidak perlu ditambahi lagi. Dia sedang terluka terutama secara psikologis dengan kejadian yang memalukan dan menyerang harga dirinya. Yang dia butuhkan saat itu adalah dukungan dan bantuan.

Menunjukkan empati

Tunjukkanlah rasa empatimu saat teman bercerita , bahwa kamu bisa memahami dan merasakan apa yang sedang dia alami saat itu. Yang perlu dicatat, orang yang sedang bermasalah biasanya lebih sensitif terhadap reaksi orang lain, seperti perasaan diterima atau diabaikan.

Ketika dia merasa diterima, maka dia akan semakin membuka diri. Sebaliknya, ketika merasa ditolak maka akan semakin menarik diri bahkan menutup diri.

Bagaimana membuat dia percaya bahwa kita berempati padanya?

Kita bisa menunjukkannya dengan bahasa mimik muka, bahasa tubuh dan bahasa verbal bahwa kita benar-benar sedang menyimak kata-katanya dan peduli dengan permasalahannya. Dalam situasi tertentu, sentuhan fisik seperti menggenggam tangan, menepuk bahu juga pelukan, sejauh dia merasa nyaman, akan membantunya untuk merasa diterima dan dipahami.

Menjaga rahasia

Paling ngeselin itu, maunya kita curhat dengan seseorang, eh orang yang kita curhati  ngember ke mana-mana menceritakan masalah kita pada orang lain. Alih-alih mendapat support dan solusi, justru kita mendapat malu.

Tanpa seseorang itu mengatakan “ini buatmu aja ya..”, semestinya kita sudah paham, jika seseorang memutuskan bercerita persoalan yang begitu pribadi pada kita, artinya dia percaya sama kita. Jadi, jagalah kepercayaan itu.

Memberdayakan

Nilai plus menjadi orang yang dipercaya sebagai teman curhat adalah kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak lagi. Dalam hal ini, kita bisa membantu  sesuai kebutuhan dia dan sesuai kemampuan kita. Seperti misalnya, dia punya persoalan ekonomi dan kita punya ketrampilan yang bisa diajarkan padanya sehingga dia memiliki alternatif membuka usaha dari ketrampilan yang kita ajarkan. Atau kita mempunyai link yang memiliki pelatihan gratis bagi para pelaku usaha sehingga dia bisa mengembangkan usahanya.

Tujuan kita melakukan itu adalah membuatnya lebih berdaya. Berdaya ini tidak hanya secara ekonomi saja, bisa juga berdaya secara sosial, secara psikologis, juga secara hukum, tergantung persoalannya. Jika kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya sendiri, setidaknya kita membantu mencarikan link atau rujukan yang bisa dia hubungi. Seperti lembaga pemberdayaan di kotamu, baik LSM maupun Dinas Pemerintah (Dinas Sosial, Dinas Koperasi, P2TP2A, UMKM). Karena bisa jadi, butuh pihak yang lebih ahli untuk membantu menyelesaikan masalahnya.

Self determination

Dapat diartikan sebagai hak prerogatif bagi dia (orang yang bermasalah) untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.

Misalnya, si A teman baikmu mendapati pacarnya selingkuh. Padahal beberapa bulan lagi mereka akan menikah. Persiapan pernikahan sudah 60 persen. Si A bingung harus bagaimana, putus atau meneruskan hubungan sampai ke pernikahan. Yang bisa kamu lakukan selain menerima curhatannya adalah membantu berhitung kemungkinan dampak positif dan negatif jika hubungan ini diberhentikan atau dilanjutkan. 

Bisa jadi kamu ikut marah dan gatal untuk mengomporinya supaya putus saja, tapi biarkanlah dia mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Selain karena dia sudah dewasa, dialah yang merasakan, yang tahu betul situasinya, dan yang paling tahu yang terbaik buat dirinya sendiri. Jika kamu yang mengambil keputusan untuknya, secara moral dan sosial kamu akan ikut bertanggung jawab dengan konsekuensinya di belakang hari. Nah, tentunya kamu tidak mau kan?

Membantu menemukan insight

Gadis sudah hampir setahun berpacaran dengan Jaka. Selama itu Jaka selalu menemani kemanapun Gadis pergi. Jaka selalu mengatakan bahwa ia sangat mencintai Gadis, tidak ingin terjadi apa-apa padanya. Jika sedang tidak bersamanya, Jaka harus tahu kemana Gadis pergi, dengan siapa, sampai jam berapa. Lama kelamaan, Jaka yang menentukan dengan siapa Gadis boleh pergi, apa saja yang boleh dan tidak boleh Gadis lakukan. Gadis pun mulai merasa tidak nyaman.

Ketika Gadis curhat padamu, ajak dia bicara apa itu makna cinta. Apakah yang dilakukan Jaka selama ini ekspresi yang benar tentang cara mencintai? Sampai pada titik Gadis menyadari bahwa yang dilakukan Jaka adalah pengontrolan dan sikap posesif, dan itu bukan cinta. Di sini Gadis telah menemukan insight, yakni pemahaman baru atas masalah yang terjadi. Atas dasar itu pula, Gadis memutuskan mengakhiri hubungan yang tidak sehat ini.

Rahmania, percaya saja, menjadi pendengar itu tidak merugikan, tapi justru bagian dari merawat kehidupan.

Bagikan
Exit mobile version