f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gamofobia

Mengatasi Gamofobia: Menikah Tidak Selalu Tentang Mimpi Buruk

Izinkan penulis mengutip perkataan dari ibu seorang teman, kurang lebih begini :

“Rabi kui senenge sak klentheng, rekosone ketigo rendeng.” (Artinya, nikah itu senangnya sekejap, susahnya setiap saat (dari musim kemarau hingga penghujan))

Ketika mendengar kalimat di atas, dalam pikiran kita mungkin akan terbersit ketakutan dan kengerian dengan yang namanya pernikahan. Semakin mudahnya akses informasi dari berbagai media mempengaruhi pola pikir kita secara signifikan. Terutama informasi daring yang sulit kita kendalikan arusnya. Saat membuka ponsel, kita mendapati berbagai ‘menu berat’ tentang kehidupan yang kian membuat ciut mental. Sajian yang seharusnya jadi konsumsi privat justru malah terumbar ke mana-mana dan seakan jadi trendsetter ; salah satunya adalah perselingkuhan, yang akhir-akhir ini memenuhi ruang berita terutama di kalangan publik figur.

Maraknya berita dan konten perselingkuhan (juga sisi gelap pernikahan lainnya ; seperti KDRT, pertikaian sebab ketidakseimbangan ekonomi, dan lain sebagainya) menjadi alasan yang turut menyumbang minat menikah di kalangan kawula muda menurun dan menambah jumlah penderita gamofobia, yakni ketakutan berlebih untuk menjalin komitmen dan menikah.

Bagi penderita gamofobia pernikahan dianggap sebagai sebuah momok yang menakutkan dan harus dihindari. Pada kaum perempuan tak sedikit pula yang memandang bahwa pernikahan merupakan institusi patriarki yang menimbulkan bayang-bayang pengekangan fisik maupun mental, sehingga pilihan untuk waithood (menunda menikah) atau tidak menikah sama sekali menuai pembenaran.

Jika bicara data, maka kita akan mendapati persentase sebanyak 68,29% anak muda Indonesia (yakni rentang usia 16-30 tahun) belum menikah. Angka ini merupakan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Maret 2023 lalu. Dan penurunan minat menikah tersebut konsisten dalam lima tahun terakhir, terutama sejak masa pandemi. Berbanding terbalik dengan angka pernikahan yang menurun, angka perceraian justru mengalami kenaikan.    

Baca Juga  Kunci Sukses Mendapat Beasiswa Ke Luar Negeri ala Anak Desa

Seseorang yang menderita gamofobia, secara psikis akan merasa cemas secara ekstrem bahkan tidak terkontrol saat memikirkan tentang pernikahan, mengelak dari membahasnya, selalu berpikir negatif tentang nasib hubungannya di masa depan, perasaan tertekan dalam sebuah hubungan yang membuat penderita gamofobia hanya mampu bertahan pada hubungan tanpa status. Dikutip dari alodokter.com gejala gamofobia secara fisik juga mampu diidentifikasi dengan kondisi jantung yang berdebar hebat, berkeringat, sesak napas, nyeri dada, pusing hingga mual, meski sekedar membayangkan pernikahan saja.   

Gamofobia terjadi atas ketidakpercayaan diri untuk mengemban amanah komitmen (pernikahan) yang mungkin saja akan terabaikan di masa mendatang. Hal tersebut akibat dari ketidakmapanan finansial terutama pada kaum lelaki di mana mereka berperan sebagai breadwinner (pemberi nafkah utama), pengalaman traumatis dari kegagalan di masa lalu ataupun pengalaman dari lingkungan sekitar, dan tekanan sosial akan pernikahan yang begitu memberatkan.

Dalam Islam, makna pernikahan sendiri lebih dari sekedar penghalalan hubungan lelaki dan perempuan, dalam Q.S An-Nisaa’ ayat 21 Allah menyebut ikatan pernikahan sebagai mitsaqon gholizhon, menurut Ibnu Katsir, yakni sebuah perjanjian (pernikahan) atas nama Allah Swt. Dengan demikian kedudukan akad perjanjian pernikahan begitu kuat dan penting di hadapan-Nya.

Pernikahan yang dua sejoli jalankan dengan benar dan sesuai syari’at akan mendatangkan ketentraman jiwa dan batin bagi kedua insan yang bersatu karena cinta dan kasih sayang (lihat Q.S Ar-Rum ayat 21). Rasulullah juga menegaskan bahwa menikah adalah bagian dari sunnah beliau, yang mana jika kita sengaja meninggalkannya padahal mampu melakukan, maka kata beliau kita bukan termasuk dalam barisan ummat beliau. (lihat HR. Ibnu Majah no. 1846)

Mengutip ifstudies.org dengan tajuk ‘Does Marriage Really Make Us Healthier And Happier?’ pada 2019 silam dikatakan bahwa orang yang menikah tampak lebih bahagia dibanding orang yang belum/belum pernah menikah. Dan orang-orang yang bahagia dengan hidupnya lebih besar kemungkinannya untuk menikah.

Baca Juga  Jatuh Cinta Sak-Madyone, Eling, lan Waspada

Seiringan dengan hal tersebut, orang dengan pernikahan yang bahagia memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik serta punya harapan hidup lebih panjang dari pada mereka yang lajang, berpisah, bercerai atau duda. Hal ini berlaku hukum sebaliknya, pernikahan yang tidak bahagia akan berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental serta risiko kematian cenderung tinggi.

Maka dari itu, langkah awal mengatasi gamofobia adalah penerimaan diri dengan memahami bahwa rasa takut yang berlebihan akan membuat diri sendiri menderita dalam jangka waktu yang lama, tidak berdaya serta menurunnya kualitas diri.

Langkah selanjutnya adalah mengembalikan pemahaman atas esensi dari pernikahan serta meluruskan persepsi buruk yang tertanam dalam kepala dengan mengafirmasi bahwa sekelam apapun masa lalu ia tetaplah masa lalu, dan apa yang menimpa orang lain tidak lantas juga akan menimpa diri kita.

Menyadari bahwa sudah menjadi sunnatullah segala hal di alam semesta ini diciptakan berpasang-pasangan (lihat Q.S Adz-dzariyat ayat 49), termasuk adanya lelaki dan perempuan. Keraguan dan ketakutan muncul akibat dari ketidak-tahuan, dengan belajar mengenal secara perlahan tentang apa saja yang melibatkan tema pernikahan, seperti mengetahui tujuan dan keutamaannya, dapat memberi sedikit ruang untuk penerimaan secara positif terhadap topik pernikahan.

Mencari teman sharing dan memilih lingkunganyang supportif dan konstruktif akan sangat membantu penderita gamofobia dalam proses pemulihan. Terutama berbagi cerita dengan mereka yang pernah mengalami hal yang sama dan sudah berhasil keluar dari garis merah gamofobia tersebut. Sebab, mengutip dari maxhealthcare.in gamofobia ini merupakan gangguan mental yang penanganannya cukup komprehensif, meliputi psikologis, emosional dan sosial.

Yang perlu kita pahami adalah bahwa berlangsungnya pernikahan bukan hanya sekedar upacara seremonial belaka, melainkan sebagai pembuka tanggung jawab yang lebih besar ke depannya, tidak hanya dua manusia, lebih dari itu yaitu tanggung jawab meningkatkan kualitas generasi penerus yang akan menentukan kondisi suatu negara di masa mendatang.

Baca Juga  Pak, Bu, Jangan Tutup Pintu Berkahmu

Keutamaan orang yang menikah sama halnya telah menyempurnakan separuh agamanya. untuk itu, belajar ilmu pra-nikah mungkin menjadi ikhtiar terbaik sebelum kita mengarungi bahtera rumah tangga. Seperti belajar bagaimana cara kita mempersiapkan mental dan emosi agar dapat saling menghormati, belajar membangun komunikasi yang baik dan sehat dengan pasangan sehingga meminimalisir kesalahpahaman, memahami peran dan tanggung jawab masing-masing individu, serta belajar menyelesaikan konflik tanpa menimbulkan konflik lain.

Tak ada gading yang tak retak, memang belajar pra-nikah tidak serta merta membuat pernikahan akan sempurna dan bebas dari masalah, namun setidaknya mampu mengantisipasi adanya perselisihan yang berujung pada –naudzubillah– perceraian. Dan memperbesar peluang menjadi pernikahan yang sehat dan bahagia.

Lebih dari itu, pernikahan yang sehat dan bahagia secara langsung maupun tidak langsung akan mampu memberi pengalaman positif bagi orang lain.

Bagikan
Post a Comment