Lukisan Mural
Negeriku yang kaya, didera kelaparan dan ketakutan
Tahun yang hanya terdengar sapaan derita dan lara
Para petinggi berdasi yang hanya menjual janji tanpa tindakan yang dapat dibeli
Puluhan juta nyawa yang hilang karena ketidakadilan
Tolak ukur kebenaran hanya pada mereka yang berkuasa
Melakukan hal sesuka hati
Tanpa melihat seseorang yang terampas haknya
Kau hilangkan semua kejujuran dan kesombongan yang kian meringkuk
Pikiran malam yang terus berkelana
Sesuap nasi apakah mampu kugapai?
Bergema ruangan hanya suara isi kepala ini
Rasa kopi yang kuminum sama pahitnya dengan kenyataan
Mengais harapan setiap hari
Semoga terselip sedikit kata yang menenangkan diri
Melukis dinding yang terasa dingin dalam kegelapan jiwa
Hanya keberanian yang kumiliki pada kuas yang tergores nyata
Muralku menggambarkan keegoanmu
Kau penjilat namun aku yang terjerat
Hanya pesan tersirat yang ku beritahu dengan susunan agar dipandang dunia
Tumpul ke atas, lancip ke bawah itulah istilah yang tersematkan
Anggota dewan yang sedang tertawa melihat suasana bedebah
Hanya tertidur lantas memakan gaji buta
Untuk apa mewakili suara rakyat
Jika hanya memamerkan harta untuk menyuap
Tak apa bila mural yang digoreskan terhapus kembali oleh manusia yang kau bayar
Aku hanya ingin lepas runyam dalam pelipur lara
Bila tak cukup membuka hati nuranimu
Aku tetap menjunjung cita dan harapanku tuk merdeka
