Krisis Identitas pada Generasi Muda Muslim
Fenomena yang cukup ramai menjadi pembicaraan adalah adanya krisis identitas pada generasi muda muslim. Adanya modernisasi dan pengaruh barat, menjadikan generasi muslim asing dengan identitasnya. Misalnya, fenomena di mana salat lima waktu adalah tolak ukur bahwa seseorang itu baik agamanya. Padahal, salat adalah kewajiban bagi setiap muslim yang sudah baligh.
Dalam kondisi yang serba dinamis, generasi muda muslim memiliki tantangan yang tidak main-main. Adanya budaya K-pop, teknologi dan media sosial, serta gaya hidup modern menjadi tantangan generasi muda muslim. Mereka punya kewajiban untuk tetap bertahan di tengah ramainya generasi muslim yang sedang mencari jati diri.
Beragam Perilaku Dalam Krisis Identitas
Pertama, cara berpakaian. Banyak anak muda muslim, terutama perempuan yang mungkin kebingungan memilih apakah mereka akan mengikuti tren atau tetap syar’i. Satu sisi, ingin tampil modis sebagaimana temannya yang lain, namun pada sisi lain ingin tetap sesuai ajaran agama.
Kedua, cara bergaul. Perbedaan latar belakang budaya menjadikan anak muda muslim beradaptasi dengan interaksi yang seringkali di luar ekspektasi. Biasanya, ini juga menjadi kebingungan antara ingin lebih gaul sebagaimana temannya yang lain, namun juga ingin menjaga keimanan. Misalnya, ada yang lebih senang nongkrong di coffe shop atau datang ke tempat kajian.
Ketiga, musik dan tontonan. Lirik lagu dan adegan dalam film masa kini terkadang tidak sesuai dengan nilai Islam. Hal ini menyebabkan cara berpikir dan perilaku anak muda menjadi terpengaruh.
Keempat, media sosial. Penggunaan media sosial anak muda sangat mempengaruhi kegiatan sehari-hari. Mulai dari menghabiskan waktu berjam-jam dengan media sosial, hingga terpapar konten media sosial yang tidak menggambarkan etika generasi muslim yang seharusnya.
Kelima, pemaknaan ibadah. Dalam hal ini, anak muda muslim seringkali hanya melakukan ibadah sebagai bentuk formalitas tanpa memahami makna dari ibadah tersebut. Misalnya, salat yang penting selesai tanpa memahami esensi mengapa salat dikerjakan dan bagaimana arti atau makna dari setiap bacaan salat.
Keenam, kurang terlibat dalam kegiatan keagamaan juga menjadi salah satu bentuk krisis identitas generasi muslim. Dalam hal ini, menjadi tugas bersama untuk meramaikan kegiatan keagamaan. Seperti, perlunya masjid-masjid mengadakan kegiatan yang menarik bagi anak muda. Selain itu, perlu juga teman sesamanya mengingatkan dan mengajak untuk ikut kegiatan keagaman secara rutin.
Faktor Penyebab Krisis Identitas Generasi Muslim
Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab mengapa krisis identitas pada generasi muslim bisa terjadi, yaitu:
- Globalisasi dengan perkembangan teknologi dan informasi yang pesat menyebabkan generasi muslim terpapar budaya asing dengan mudah.
- Modernisasi menuntut generasi muda untuk merubah gaya hidup.
- Kurangnya pendidikan agama yang berkualitas menjadikan generasi muda muslim tidak memiliki gambaran seperti apa nilai-nilai agama itu seharusnya diterapkan.
- Adanya tekanan oleh teman sebaya. Dalam hal ini, tekanan dari teman sebaya menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muslim. Namun, satu sisi peluang untuk bisa saling mendakwahkan juga cukup tinggi.
Solusi Atas Krisis Identitas Pada Generasi Muslim
Orang tua dan keluarga memiliki peran penting agar anak muda memiliki contoh yang baik. Lingkungan keluarga seharusnya mampu menciptakan lingkungan yang saling “salih dan mensalihkan” sesama anggota keluarga. Kemudian, tidak cukup hanya dengan contoh, generasi muda muslim juga membutuhkan pendidikan agama yang komprehensif. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menekankan pemahaman terkait nilai-nilai agama yang harus dipegang dengan kuat.
Lingkungan sekolah dan masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan komunitas beserta dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menarik. Selanjutnya, juga bisa dilakukan pengoptimalan media sosial sebagai bentuk dakwah maupun ajakan kegiatan positif.
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.
