Menurut sosiologi, keluarga adalah sebuah kelompok domestik intim dari orang-orang yang terkait satu sama lain dengan ikatan darah, perkawinan seksual, dan ikatan hukum.(1) Keluarga adalah rumah pertama saat seseorang lahir ke dunia ini dan disambut dengan penuh suka cita apapun kondisinya.
Membangun sebuah keluarga tentunya diawali dengan peristiwa pernikahan yang menyatukan dua sejoli laki-laki dan perempuan dari latar belakang berbeda menjadi satu ikatan. Pernikahan hanya akan terjadi apabila kedua mempelai saling berkomitmen untuk hidup bersama, menerima kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing.
Tujuan dari pernikahan adalah untuk melanjutkan keturunan dan melestarikan populasi manusia agar terus berganti generasi yang nantinya akan menggantikan generasi sebelumnya. Maka dari itu, impian pasangan yang baru saja menikah adalah menjadi orang tua, dalam kata lain memiliki seorang anak.
Dalam sebuah pernikahan, tentu tidak mungkin berjalan dengan baik-baik saja. Pasti ada saja hambatan dan tantangan yang dilalui dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya terjadi cultur shock ketika telah menetap tinggal satu atap bersama pasangan yang mungkin dalam beberapa hal yang berbeda sehingga menyebabkan kurang siap nya diri dalam menghadapi permasalahan yang terjadi.
Cekcok, perdebatan, adu mulut, adalah sebuah keniscayaan yang terjadi dalam sebuah keluarga. Belum lagi masalah eksternal, seperti ekonomi, tekanan dunia kerja, dan lain sebagainya yang sangat berpotensi memicu pecahnya keluarga. Sedangkan ketika sudah memiliki anak, maka tanggungjawab tidak hanya menjadi seorang istri atau suami, melainkan kepada kehidupan anak juga.
Keluarga sebagai Tempat Pulang
Setiap orang pasti berkeinginan memiliki keluarga yang mampu menjadi rumah. Artinya, keluarga yang dapat menjadi tempat pulang setelah lelahnya menghadapi heterogennya kehidupan di luar sana.
Keluarga sebagai tempat pulang yang dimaksud adalah keluarga yang mampu menerima baik dan buruknya, keluh kesah, dan seluruh cerita kehidupan dari anggota keluarganya. Keluarga yang kehadirannya selalu dirindukan dan keluarga yang mampu membangun atmosfer kenyamanan. Dalam kata lain yaitu membangun keluarga yang harmonis.
Membangun keluarga yang harmonis memerlukan rasa saling percaya antar anggota keluarga. Perlu adanya sikap keterbukaaan sehingga setiap saat dan setiap waktu selalu ada dialog yang bisa membuat suasana menjadi hangat. Di sinilah pentingnya peran orang tua, tentang bagaimana orang tua mengajarkan kepada anak untuk membangun suasana keluarga yang harmonis.
Begitupun dengan anak, tentang sikap seorang anak yang akan selalu merasa nyaman dan terbuka kepada orang tuanya. Anak yang memberikan kepercayaan penuh kepada orang tuanya untuk menjadi tempat cerita, sharing, dan berbagi segalanya yang dialami.
Dari peran kedua belah pihak, akan menciptakan chemistry di mana masing-masing akan saling memahami dan menghargai perbedaan yang ada. Chemistry yang telah terbangun akan memupuk rasa nyaman dan hangatnya suasana keluarga sehingga terciptanya keluarga harmonis.
Di era post modern saat ini, sangat sulit membangun suasana keluarga yang harmonis. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Discover Ferries dan One Poll, 70 persen orang tua lebih lama sibuk dengan pekerjaan yang dilakukan melalui gadget atau handphone nya daripada berbincang atau berkomunikasi dengan anak meskipun di meja makan.(4) Alhasil anak pun seolah-olah tidak ada rasa memiliki orang tua dan cenderung merasa tidak penting atau tidak diperhatikan. Hal yang seperti ini pula yang membuat anak kurang percaya untuk terbuka kepada orang tuanya. Anak akan tenggelam dengan ketakutannya sendiri akibat respon orang tuanya terhadapnya yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Berdasarkan survey British Heart Foundation (BHF) yang juga mengatakan bahwa 42 persen anak cenderung lebih suka bermain media sosial sehingga menomorduakan keluarga.(5) Ternyata tidak hanya dari sisi orang tua yang terlalu sibuk, namun berubahnya kebiasaan seorang anak juga menjadi salah satu tantangan dalam usaha membangun keluarga yang harmonis.
Dari sini dapat disimpulkan, betapa berpengaruhnya perkembangan teknologi dan pentingnya waktu yang dihabiskan bersama keluarga. Jika tidak dibarengi dengan kesadaran individu, maka mewujudkan keluarga harmonis hanya akan menjadi angan-angan belaka.
Massifikasi Komunikasi Antar Anggota Keluarga
Menurut Hawari (Nawafilaty,2015), keluarga yang harmonis adalah keluarga yang memberikan tempat bagi anggota keluarga untuk menghargai perubahan yang terjadi dan mengajarkan keterampilan berinteraksi sedini mungkin pada anak dengan lingkungan yang lebih luas.(2) Dari pengertian itu, dapat diambil kesimpulan bahwa terciptanya keluarga harmonis tergantung dari bagaimana interaksi antar anggota keluarga itu sendiri. Maka dari itu, komunikasi menjadi hal yang penting dalam rangka membangun keluarga harmonis.
Perkembangan teknologi terutama dalam hal mempermudah komunikasi jarak jauh sudah cukup mengambil separuh waktu untuk keluarga. Perbaiki komunikasi antar anggota keluarga adalah kunci untuk kembali menghidupkan semangat membangun sebuah keluarga yang harmonis.
Menurut De Vito (1976), komunikasi antar pribadi merupakan pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang yang lain, atau sekelompok orang dengan efek umpan balik yang langsung.(3) Dengan adanya komunikasi yang baik, akan membangun rasa percaya dan menghargai satu sama lain. Sebaliknya, komunikasi yang buruk akan menimbulkan permasalahan baru di dalam tubuh keluarga yang dapat berakhir dengan perceraian.
Komunikasi yang massif hanya dapat dilakukan jika antar anggota keluarga dapat memahami betul apa urgensi dari sebuah kabar. Memastikan seluruh anggota keluarga baik-baik saja adalah rasa ketenangan tersendiri ketika akan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Akan timbul banyak prasangka ketika komunikasi itu tidak massif
Massif nya komunikasi ini sangat penting. Baik sejak sebelum terjadinya pernikahan hingga nanti ada sesuatu hal yang memisahkan, komunikasi adalah elemen yang selalu mengelilingi setiap perjalanan kehidupan. Karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang akan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Begitupun keluarga, pasti akan saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain.
Tetap semangat wujudkan keluarga yang harmonis. Karena keluarga yang harmonis akan menciptakan generasi emas yang tidak hanya mampu membangun atmosfer keharmonisan keluarga tetapi juga mampu membangun kehidupan bangsa dan negara.
Mahda Khufiati Syaharani
“Mencerahkan pemikiran, menggerakan nurani, membentuk perempuan Islam yang progresif dan berdaya”
