Iman Bertambah dengan Healing
Hiburan menjadi salah satu keadaan yang dibutuhkan oleh setiap orang. Dia mampu menjadi refleksi ketika seseorang merasakan kepenatan dan kejenuhan aktivitas yang selalu digeluti setiap harinya. Mulai dari bekerja, belajar, dan lain sebagainya. Wajar saja jika semua manusia membutuhkan hiburan.
Setiap orang memiliki cara untuk menghibur diri. Ada orang yang menghibur diri dengan membaca buku, melakukan tamasya, menikmati ketenangan, berbincang dengan kawan. Cara-cara itu terkadang hanya dapat berpengaruh pada satu orang dan tidak untuk orang lain.
Salah satu alternatif hiburan yang efektif ialah tamasya, sebab Indonesia memiliki banyak wisata yang menghadirkan keindahan alam. Hampir setiap daerah mampu menghadirkan alam untuk dijadikan sebagai destinasi wisata yang menarik wisatawan. Tamasya berkaitan erat dengan pertemuan manusia dan alam sekitarnya; Pegunungan, perbukitan, pantai, perkebunan, dan lain sebagainya. Semua hal itu menghadirkan keindahan pemandangan dan ketenangan alam yang tidak bisa didapatkan lewat hiburan lain.
Di dalam Islam, alam semesta merupakan karunia Allah Swt. yang mengandung kebesaran-Nya. Banyak ayat-ayat al-Quran yang turut menghadirkan gambaran besarnya alam semesta. Sebagai contoh ialah Qaf ayat 6, Al- Mulk ayat 5, Al- Mulk ayat 19, Al- Mu’minun ayat 14, dan masih banyak lagi. Kemudian Allah Swt. memberikan Informasi bahwa kekuasaan-Nya berupa alam semesta itu dapat menjadi jalan seseorang untuk beriman kepada-Nya. Ayat yang menyebutkan hal ini di antaranya ialah surat Ar-Ra’du ayat 3, An-Nahl ayat 11, Al-Baqarah ayat 164, An-Nahl ayat 64.
Oleh karena itu, perjalanan tamasya sebenarnya memiliki esensi yang berharga dalam Islam. Tamasya mampu memancing akal seseorang untuk merenungi ciptaan Allah Swt. dan mengantarkannya menjadi lebih beriman kemudian tunduk kepada-Nya. Dengan memerhatikan hal ini, hiburan tamasya akan memberikan pengaruh positif kepada setiap jiwa yang beriman.
Seiring berjalannya waktu, tamasya sebagai alternatif bertafakkur, menangkap kebesaran Allah Swt., justru kehilangan esensi utamanya. Tamasya yang sering disebut dengan healing oleh anak muda hanya dilakukan karena dorongan aspek dunia. Misalnya, sibuk mengambil gambar demi postingan yang menarik pengguna sosial media, atau bahkan melakukan hal-hal yang berbau melanggar syari’at Allah Swt.
Ketika tamasya dilakukan hanya karena dorongan hal tersebut maka seseorang akan kehilangan kesempatan mendapat balasan kebaikan di akhirat. Sebab Allah Swt. hanya membalas aktivitas sesuai dengan niat yang ada di dalam hati. Allah menginformasikan perkara ini di dalam ayat-ayat Nya. Di antaranya tercantum dalam surat Asy-Syura Ayat 20 :
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ
20. Siapa yang menghendaki balasan di akhirat, akan Kami tambahkan balasan itu baginya. Siapa yang menghendaki balasan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (balasan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat.
Perkara ini juga termaktub pada surat Ali Imran ayat 145 dan Hud ayat 15. Selain itu, ketika tamasya sudah kehilangan esensinya maka seseorang juga akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki imannya pada saat itu.
Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi siapapun sebelum bertamasya. Dengan ini, harapannya seseorang bisa mendapatkan balasan ketika di akhirat tanpa menghilangkan rasa nikmat di dunia ketika bertamasya. Beberapa hal tersebut ialah :
1. Memperbaiki Niat di Dalam Hati
Perbaikan niat yang dimaksud ialah memperbaiki niat yang semula hanya untuk mencari kepuasan, bersenang-senang atau memotret gambar demi like di media sosial menjadi niat yang melibatkan Allah Swt. Niat dalam hati juga bisa lebih dikuatkan dengan pembacaan lafal basmalah ketika memulai Tamasya. Nabi SAW bersabda :
كُلُّ كَلَامٍ, اَوْ اَمْرٍ ذِى بَالٍ لَايُفْتَحُ بِذِكْرِاللّهِ فَهُوَ اَبتَرُ أَوْ قَالَ : أَقْطَعُ
“ Setiap perkataan atau perkara penting yang tidak dibuka dengan dzikir kepada Allah, maka terputus berkahnya.”
Dengan penjelasan ini, perbaikan niat bukan berarti melarang segala hal yang berhubungan dengan dunia ketika bertamasya. Seperti memotret, berkemah, dan lain sebagainya. Namun, perbaikan niat ini hanya memperbaiki maksud utama yang ada di dalam hati ketika bertamasya.
2. Melakukan Perenungan/Tafakkur
Melakukan perenungan ketika tamasya juga termasuk hal yang penting. Sebab proses inilah yang akan mengantarkan seseorang pada bertambahnya iman. Sehingga Allah Swt. dalam ayat-Nya seringkali melibatkan manusia untuk memerhatikan Alam semesta. Al- Qur’an surat Asy-Syu’ara ayat 7 menyebutkan :
اَوَلَمْ يَرَوْا اِلَى الْاَرْضِ كَمْ اَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ
Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami telah menumbuhkan di sana segala jenis (tanaman) yang tumbuh baik?
Jadi, bertamasya merupakan salah satu alternatif bagi seseorang untuk menghibur diri dari kejenuhan. Tamasya memiliki esensi utama yaitu menambah keimanan dan memungkinkan sebagai ladang pahala. Untuk mencapai tujuan itu, seseorang harus memerhatikan beberapa hal, yaitu memperbaiki niat dan melakukan perenungan/tafakkur.
