Dari Hafalan ke Kesadaran: Perjalanan Menemukan Pembelajaran Mendalam
Saya guru agama dan tak merasa bangga jika hanya menyuruh siswa hafalan doa. Saya guru Kemuhammadiyahan dan kecewa saat siswa belajar sebatas untuk ujian. Dan saya pun berpikir tak ingin menjadi guru Bahasa Arab setiap kali melihat wajah para siswa yang merasa pelajaran ini membosankan. Hingga bertemu dengan pendekatan yang mengubah cara saya memandang kelas, siswa, dan proses belajar itu sendiri. Pembelajaran Mendalam (PM) namanya. Saya mulai yakin, pembelajaran seharusnya berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
Setiap mengawali hari, saya melihat wajah-wajah ceria siswa. Ada yang tersenyum di pagi hari. Namun jadi cemberut di siang hari. Atau tertawa saat masuk kelas. Tapi menghela napas sangat dalam pas keluar kelas. Di momen-momen sederhana itu saya sering merenung. Apa sebenarnya yang paling mereka butuhkan dalam belajar agama?
Selama mengajar, saya menyadari satu hal penting. Anak-anak tidak butuh tumpukan hafalan. Mereka butuh pengalaman belajar yang membuat nilai-nilai agama terasa dekat, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan. Sebab, agama bukan hanya tentang memahami hukum. Tetapi juga tentang merasakan kedamaian. Belajar berbuat baik. Juga tumbuh menjadi pribadi yang punya empati.
“Ustadzah, orang itu pasti masuk neraka kan ya? Terus gimana caraku masuk surga?” Jika saya menjawab benar bahwa orang itu pasti ke neraka, saya ingat saya juga hanya hamba. Neraka dan surga menjadi hak prerogatif Allah sepenuhnya. Allah lah satu-satunya yang berhak menentukan. Segera kualihkan pertanyaan tadi menjadi, “Apa yang membuatmu berpikir orang itu masuk neraka?” Jika perbuatan itu merusak dirimu dan merugikan orang lain, maka jauhilah. Dan jika ingin mendekati surga-Nya, maka berbuat baiklah. Ia pun kuminta untuk mendata apa saja yang termasuk perbuatan baik menurutnya. Sambil kuakhiri obrolan kami dengan cerita seorang pembunuh dan pezina yang masuk surga. Ingin kusampaikan bahwa hamba hanya berusaha. Akhirnya biar Allah yang menentukan.
Saya ingin menjadikan obrolan agama tak hanya perkara benar dan salah. Surga dan neraka. Haram dan halal. Untuk menjadikan pelajaran agama bermakna, siswa perlu tahu mengapa. Mengapa yang itu benar dan yang ini salah. Apa yang menjadikan itu halal dan ini haram. Dan seterusnya. Itulah berkesadaran dalam pembelajaran. Mindful learning bahasa kerannya dalam pendekatan PM.
Di kesempatan lainnya saya ditanya. Kenapa Al-Maun yang menjadi spirit Muhammadiyah. Kenapa bukan Al-Fatihah atau Al-Ikhlas. Kuminta ia baca Al-Maun dan maknanya berulang kali. Kuputarkan pula potongan film Sang Pencerah. Bagaimana Kiai Dahlan melakukan kontekstualisasi pesan ayat-ayat Al-Qur’an dengan realitas sosial yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Mereka pun bertanya lagi. Mengapa Muhammadiyah membangun banyak panti? Bukannya tiap anak punya orang tua atau setidaknya saudara yang peduli. Tak buru-buru kujawab pertanyaan itu. Sontak kujadwalkan observasi ke Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) terdekat.
Saya tak ingin menjelaskan lewat kata-kata. Karena tak semudah itu membicarakan panti asuhan pada anak yang ‘penuh’ dalam hidupnya. Saya ingin mereka memaknai sendiri apa yang ia tanyakan. Melihat langsung realita sosial di sekitarnya. Membangun empati pada sesamanya. Yang tak mungkin dilakukan sebatas di balik pintu kelas. Inilah pembelajaran berkesadaran (meaningful learning) yang tersemat dalam prinsip PM.
Pun saat belajar bahasa Arab. Untuk apa belajar toh tidak terpakai dalam percakapan keseharian. Untuk apa menghafal jika Alquran bisa dibaca terjemahannya saja. Pertanyaan kritis gen A tak mudah untuk dijawab dengan kata-kata. Namun, kalimat ajaib mereka membuat saya tak bisa melangkah ke kelas tanpa persiapan. Segeralah membuat tabel dan kartu untuk mengajarkan fi’il (kata kerja). Kata kerja bahasa Arab perlu disemati 14 dlomir (subjek) yang membuat pusing. Atau membuat nyanyian seraya melompat-lompat bersama.
Itu semua demi memastikan siswa terlibat secara aktif. Baik fisik maupun pikirannya harus dipastikan mengikuti pembelajaran. Itu kiranya usaha saya untuk menjadikan pembelajaran yang menggembirakan (joyful learning).
Pada akhirnya, saya belajar bahwa tugas seorang guru agama bukan mencetak siswa yang paling hafal ayat. Tugas itu jauh lebih besar dan manusiawi. Menuntun mereka menemukan makna hidup melalui ajaran agama. Menuntun mereka merasakan bahwa Islam adalah jalan pulang, bukan beban. Bahwa belajar agama bukan untuk diujikan, tetapi untuk dijalani.
Di ruang kelas yang sederhana itu, saya menyadari bagaimana PM mampu mengubah suasana hati anak-anak. Dari gelisah menjadi tenang. Dari pasif menjadi ingin tahu. Dan dari sekadar menghafal menjadi memahami. Di sanalah saya semakin yakin bahwa PM bukan sekadar pendekatan. Tapi jembatan agar nilai agama turun ke bumi. Mmenyentuh wajah-wajah kecil yang kelak akan tumbuh menjadi manusia yang lembut hati dan luas empati.
Jika saya boleh berharap, semoga kelas-kelas agama di Indonesia ini menjadi ruang yang membuat siswa merasa aman, didengar, dan ditantang untuk berpikir. Serta diajak untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka. Karena pada akhirnya, tujuan pembelajaran agama bukan hanya membuat siswa tahu apa yang benar. Tapi membuat mereka mencintai kebenaran itu sepenuh hati.

Guru SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Wakil Ketua Bidang Dakwah Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur

Ahmad Ali Shodiq
SANGAT MENCERAHKAN DAN MENCERDASKAN