Belajar Adil dalam Pikiran
“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” ―Pramoedya Ananta Toer
Ungkapan Pram ini selalu menginspirasi namun sekaligus menampar. Bagaimana tidak, saat ini, diberbagai sektor kehidupan bernegara terlihat carut marut. Baik itu dari tatanan sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya. Kondisi ini merupakan dampak dari tertutupnya pintu keadilan.
Adil diartikan sebagai meletakkan atau menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, sedangkan untuk lawan kata dari adil adalah zalim.
Berbuat adil harus dimulai sejak dini yaitu dari pikiran. Sebab pikiran, diartikan sebagai hasil dari berpikir.
Pikiran menjadi power dan dianggap sebagai cerminan ideologi sosial politik yang dianut; yang menjadikan orang atau kelompok tidak sejalan, berseberangan ideologi; menjadi sepaham atau seketika menjadi lawan.
Buah dari pikiran, berupa pengetahuan dan ilmu juga, kerap kali dijadikan alat untuk menundukan pihak lain. Parahnya, pengetahuan dan ilmu sebagai cara untuk mendapatkan akses ekonomi, sosial maupun politik secara membabi buta. Sederhananya, saat ini, barangkali kita sudah tidak mandiri lagi dalam berpikir.
Pertanyaannya adalah masih adakah ruang untuk bersikap adil sejak dalam pikiran?
Pertanyaan ini mengisyaratkan akibat dari keberpihakan yang terbentuk dalam pikiran, kemudian tercermin pada pendapat maupun tindakan ego sektoral. Dampaknya nanti berupa keadilan yang dipenjarakan dan berujung pada diri sendiri yang dikerdilkan. Sehingga pelajaran pertama untuk belajar adil dalam pikiran adalah berpikirlah dengan jernih tanpa keberpihakan.
Memformulasikan kalimat “adillah sejak dalam pikiran” itu, penulis pun dalam proses belajar. Sepengetahuan penulis ketika prasangka sudah memakan rasa dalam diri, untuk melihat secara adil dan bebas nilai, nampaknya sulit.
Seperti ketika memakai kacamata hitam, ketajaman indera penglihatan kita terhadap warna-warni di sekitar menjadi berkurang. Mata kita tidak bisa melihat warna dengan adil, dengan apa adanya. Kacamata hitam akan menutupi warna yang sesungguhnya. Sehingga pelajaran kedua untuk belajar adil dalam pikiran adalah melepaskan kacamata hitam, artinya melihatlah dari sudut pandang yang luas dan berbeba.
Belajar adil dalam pikiran!
Sudah pasti yang namanya belajar memerlukan sebuah proses, baik dari berlatih, berusaha maupun berdoa. Jika banyak yang mau dan bersedia untuk terus berlatih adil dalam pikiran, maka itu pertanda baik bagi proses pembangunan budaya demokrasi bangsa ini.
Sehingga proses pertama adalah dimulai dari apa yang kita pikiran; apa yang kita pikirkan itu akan menjadi apa yang di ucapkan; apa yang kita ucapkan itu akan keluar menjadi tindakan. Tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akan menjadi karakte.
Dengan kata lain, apa yang kita pikirkan disitulah karakter kita. Sederhananya adalah kita adalah apa yang kita pikirkan.
Apa yang pikirkan jangan menjadi sebuah kekeliruan (kekeliruan berpikir). Misalnya, saya professor maka saya lebih baik dari yang doctor. Atau yang doctor merasa lebih baik dari yang master, dan seterusnya. Sehingga, pelajaran berikut untuk belajar adil dalam pikiran adalah jangan merasa bangga dengan kepemilikan, yang hanya berdampak pada keangkuhan diri. Kemudian menjadi sombong, berperilaku menghakimi ataupun menyesatkan.
Berbicara adil dalam pemikiran, kadangkala tanpa sadar membuat orang tidak adil dalam persepsi. Memang tepat adanya jika ada ungkapan ‘suara hati siapa yang tahu’, bayangan akal siapa pula yang dapat menerka.
Tapi buah pikiran atau pemikiran tentu saja tetap bisa kita indera. Bentuknya memang abstrak, namun dapat kita pahami dan dimengerti juga oleh orang lain. Sehingga adil merupakan salah satu karakter utama serta mulia yang dimiliki manusia. Sikap adil menuntun manusia menjadi bijaksana dalam memutuskan suatu perkara.
Mari sama-sama kita belajar adil sejak dalam pikiran!
Jika sejak berpikir saja sudah adil, maka perbuatannya harus mengikuti. Tidak boleh terjadi kontradiksi antara pikiran dengan perbuatan. Keadilan dalam Islam merupakan perintah Tuhan yang harus dilaksankan sebagaimana firman-Nya. Seperti apa kita yang sesungguhnya, ditentukan oleh apa yang kita pikirkan. Sikap dan kondisi kita mencerminankan apa yang kita pikirkan.
Masyarakat Ujung Pasir NTT; Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Djazman AL-Kindi Kota Yogyakarta
