Rahmania, pernahkah membayangkan para siswa yang mendapatkan kesimpulan bahwa generasi Z adalah generasi yang tidak mudah termakan hoax. Saya penasaran dengan statemen ini lalu saya bertanya mengapa begitu? Dan mereka menjawab karena sumber informasi (baca= internet) ada di tangan mereka sehingga berita apapun akan mereka cross-check pada gawai mereka.
Saya menjadi teringat pada teman-teman saya yang suka kopi paste postingan atau tulisan orang lain tanpa re-check. Saya lalu membayangkan apa yang dipikirkan milenial ini pada perilaku kita yang masuk kategori generasi X dan Y? Bisakah anda membayangkannya? Mereka menertawai kita karena kita suka copy- paste pada berita-berita yang belum tentu benar. Hal ini saya dapatkan melalui ruang forum tempat saya berdiskusi di dalam ruang kelas virtual yang menggunakan platform Google Classroom. Saya mengangkat isu Millenial. Kalau dalam kategori memang siswa usia SMA saat ini terkategori paska milenial. Namun diksi milenial sudah menjadi icon yang mengacu pada sifat-sifat yang melekat pada native digital.
Forum ini juga menjadi tempat berceloteh tentang angan-angan mereka dan bagaimana mereka memandang diri mereka. Berikut ini kata-kata yang saya dapatkan: broad-mind, do things easily and quickly, technology adapted, innovative, creative, cooperative, net-working, open individual mind, respect new ideas, tolerant, good behavior dan masih banyak sifat-sifat yang mereka cantumkan.
Mereka juga tahu beda antara hard and soft skill yang akan menentukan fungsi mereka kelak dalam kompetisi profesional mereka. Sampai pada tahap ini, saya juga cukup surprise pada penjelasan tentang apa saja dan bagaimana soft-skill harus mereka persiapkan bagi masa depan mereka. Public speaking, communication, leadership, cooperation, adaptation, dan net-working adalah soft-skill yang harus mereka miliki sementara design operating software, foregn languages adalah bagian hard-skill yang perlu mereka persiapkan. Wow! I can’t believe it!
Eits, jangan menyanggah dulu..
Mungkin banyak yang berpikir, itu kalimat anak-anak pinter, dan bagaimana dengan anak-anak malas, suka bolos, suka cari perhatian dan hal merusa lain. Saya tidak pernah menggap anak tidak mampu memiliki daya imajinasi jika mereka di beri ruang dan kesempatan.
Saya sendiri mendesain forum ini tidak sekedar sebagai tugas biasa, namun ada harapan dan upaya self-reflection dan reconstruction. Saya mengurutkan mulai dengan pertanyaan, apakah milenial itu punya sifat buruk dan baik. Lalu jika kamu milenial, sifat seperti apa yang kamu harapkan untuk mencapai masa depan kamu.
Sanggahlah pendapat saya, pendapat temanmu dengan cara yang elegan, beri alasan yang kuat, jangan asal bicara tanpa data dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagi saya ini adalah agenda hidden curriculum yang sangat penting membantu mereka mengenali diri dan membuat upaya sistematis dengan melihat inside mereka.
Bagaimana sekolah kini?
Meminjam istilah yang digunakan Liasidou (2008) pada Jurnal of Education Policy, saya menggambarkan generasi Z seolah berada dalam bed procrustean dari mitologi Yunani dengan mengibaratkan sekolah sekarang seperti bed procrustean. Dalam kamus bed-procrustean dimaknai sebagai a plan or scheme to produce uniformity or conformity by arbitrary or violent methods. Liasidou memberi kata ‘pemaksaan untuk beradaptasi’ dan ‘mono-dimensi’.
Visualisasi istilah bed-procrustean adalah tempat tidur milik Procrustes, tempat dia memaksa para korbannya untuk berbohong. Dia akan memaksa korbannya untuk menyesuaikan diri dengan ukuran badannya dengan ukuran tempat tidur. Jika ukuran tubuh korban lebih panjang, dia akan memotong kaki dan jika lebih pendek, dia akan memalu untuk meregangkan kaki korbannya.
Hal ini digunakan oleh Liasidou untuk menggambarkan kesewenang-wenangan dengan memaksa seseorang atau sesuatu untuk menyesuaikan diri dengan skema atau pola yang tidak wajar. Sementara diksi mono-dimensi adalah sebuah gambaran pemaksaan pada skema tunggal yang membuat seseorang tak memiliki pilihan selain menerima.
Bayangkanlah habitus masa depan siswa ini di masa depan mereka adalah sebuah profesi di mana kualitas mendominasi dalam inovasi, kreasi, kerja sama, dan net-working. Namun sekolah masih menggunakan gaya tradisional di mana keseragaman lebih penting dari kreatifitas individu. Kurikulum masih melihat siswa dengan cara yang sama. Ruang belajar tidak didesain sebagai tempat berkreasi. Kritikan masih tabu, kadang dianggap pembelaan diri.
Saya menggunakan kata moderate untuk membuat saya benar-benar berfungsi sebagai fasilitator. Fasilitator bahkan pada titik tertentu hanya boleh mengarahkan, bukan menilai atau menjustifikasi. Memberi gambaran tentang effort siswa lebih bermakna dari sekedar memberi angka. Saya tak mampu membayangkan bagaimana siswa kita ini adalah pejuang yang harus keluar dari situasi mono-dimensi sementara mereka adalah generasi yang akan bertahan pada situasi multi-dimensi.
Ketua Majelis Dikdasmen PCM Ngemplak, Guru SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, Kandidat Doktor Linguistik UGM.
Penulis juga pernah aktif di PP IPM, PC IMM Kota Yogya, PD NA Tuban
