Bagaimana Cara Mendidik Anak Menurut Pandangan Islam?
Anak merupakan amanah Allah SWT. Amanah ini diharapkan kelak menjadi pribadi yang shalih, bertakwa, dan berakhlak mulia. Untuk itu, anak harus dipelihara dan dijaga dengan baik agar dapat tumbuh dan berkembang; baik secara jasmani maupun rohani.
Orang tua harus yakin bahwa Allah SWT menitipkan anak sebagai anugerah dan nikmat yang perlu kita syukuri. Selain sebagai anugerah dan nikmat, anak juga dapat menjadi ujian dan cobaan bagi orang tuanya. Sebagaimana dalam QS. At-Taghabun ayat 15 “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar”.
Tidak sedikit anak yang justru malah berani menentang kepada kedua orang tuanya. Mungkinkah permasalahan ini datang dari luar atau justru dari cara orang tua mendidik anak? Untuk itu, mari kita bahas bersama cara mendidik anak menurut pandangan Islam.
1. Menampilkan Suri Teladan yang Baik
Keluarga adalah lingkungan yang pertama kali bagi anak sehingga keluarga termasuk kelompok yang utama dalam pembentukan karakter anak. Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang sangat berpengaruh dalam proses mendidik anak. Setiap hal yang dilakukan oleh orang tua dapat dilihat dan ditiru oleh anak.
Anak tidak akan belajar cara menahan emosi jika ia selalu melihat orang tuanya marah-marah dan emosional. Anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik jika orang tuanya juga berakhlak yang baik. Hal ini karena pada dasarnya suri teladan yang baik memiliki dampak yang besar pada kepribadian anak.
2. Mencari Waktu dan Tempat yang Tepat untuk Memberi Pengarahan
Orang tua harus mengetahui waktu yang tepat untuk memberikan nasihat atau pengarahan kepada anak. Jika anak dalam keadaan emosi atau kurang nyaman, sebaiknya orang tua menunda dahulu untuk memberi nasihat sampai emosi sang anak telah mereda.
Orang tua juga perlu memperhatikan tempat saat memberi nasihat pada anak. Janganlah memberikan nasihat di tempat umum sehingga terlihat banyak orang, karena hal ini dapat membuat anak merasa kurang nyaman.
Rasulullah SAW selalu memperhatikan secara teliti tentang waktu dan tempat yang tepat untuk memberi pengarahan kepada anak. Hal ini perlu diterapkan karena dengan memahami waktu dan tempat yang tepat, dapat memberi pengaruh signifikan terhadap hasil nasihatnya.
3. Bersikap Adil Pada Setiap Anak
Beberapa orang tua terkadang tanpa sadar bersikap tidak adil kepada anak. Kondisi ini sebenarnya tak boleh dibiarkan dan Islam sangatlah melarang hal tersebut. Terkadang ada seorang anak merasa bahwa orang tuanya lebih sayang terhadap saudaranya, kemudian dalam diri anak tersebut merasakan iri hati dan rasa tidak adil. Akibatnya, orang tua kewalahan untuk meredam rasa kedengkiannya dan sang anak dapat melakukan perbuatan keji kepada saudaranya.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kedua orang tua untuk selalu bersikap adil kepada anak–anaknya. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang berbunyi: “Bersikap adillah terhadap anak-anak kalian, bersikap adillah terhadap anak-anak kalian, bersikap adillah terhadap anak-anak kalian.”
4. Menunaikan Hak Anak
Memberi nama yang baik, mendidik, mengajar, serta memberikan makan dan minum dari nafkah yang halal merupakan contoh kewajiban penunaian hak anak bagi orang tua. Orang tua berkewajiban memenuhi hak anak untuk mendapatkan nafkah sampai sang anak mempunyai kemampuan untuk menafkahi dirinya sendiri.
Sebagaimana dalam QS. Al Baqarah: 233, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.”
5. Doa
Doa dari orang tua merupakan doa yang mustajab, utamanya doa ibu. Ibu memiliki banyak keutamaan sehingga doa ibu selalu dinanti anak-anaknya. Untuk mendapat doa seorang ibu, tentu saja kita harus membuatnya bahagia sehingga ibu dapat mendoakan kebaikan kepada kita dari hati yang paling dalam. Jangan sampai kita melukai hati seorang ibu sehingga membuat kita mendapat doa buruk dari ibu.
6. Larangan Mendoakan Keburukan untuk Anak
Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa ada seseorang datang kepada Abdulloh bin Mubarak untuk mengadukan keduharkaan anaknya. “Apakah engkau sudah mendoakan keburukan atasnya?” Tanya Abdullah bin Mubarak. Dia menjawab, “Benar.” Kalau begitu engkau telah merusaknya”, kata Abdulloh.
Orang tua yang mendoakan buruk kepada anaknya maka akan menyebabkan rusaknya anak. Untuk itu, para orang tua lebih baik mendoakan anak dengan penuh kebaikan. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW yang mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya, sehingga Allah swt memberikan masa depan mereka dengan amal shaleh, harta benda, dan anak yang banyak.
7. Membantu Anak untuk Berbakti dan Mengerjakan Ketaatan
Orang tua harus mampu menciptakan suasana yang nyaman sehingga mendorong anak untuk melakukan hal yang terpuji. Hal ini akan memberikan jalan agar anak mengerjakan ketaatan kepada orang tua. Orang tua juga perlu mengapresiasi anak karena telah mengerjakan ketaatan. Dengan demikian, anak akan merasa bahwa berbakti dan taat pada orang tua merupakan hal yang harus dikerjakan anak.
8. Tidak Suka Marah dan Mencela
Orang tua janganlah mendahulukan perasaan marah kepada anak. Orang tua perlu mentabayunkan suatu hal sebelum memarahi anak. Selain itu, orang tua jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang mencela anaknya. Hal ini telah dijelaskan Syamsuddin al-Anbabi “tidak boleh banyak mencela anak, sebab hal itu menyebabkan anak memandang remeh segala celaan dan perbuatan tercela” (Al Anbabi, 2000:130).
Para orang tua ketika ingin marah supaya beristigfar dan mengambil air wudhu. Dengan demikian perasaan marah akan perlahan mereda dan kita dapat terhindar dari sikap marah dan mencela.
