Site icon Inspirasi Muslimah

Atasi Konflik Tanpa Libatkan Publik

tanpa

Wurry Srie

Hampir semalam suntuk, Ani membuat beberapa loyang bolu karamel untuk sebuah hajatan pernikahan. Pernikahan yang bisa dikatakan sederhana dari seorang gadis, sebut saja Mawar, yang dua tahun terakhir ini telah bekerja di toko sembakonya. Sebagai wujud kepedulian Ani atas jasa-jasa Mawar, dia lakukan ini tanpa pamrih sedikitpun.

Tak ada perasaan apa-apa selain rasa syukur dan legowo, atas pernikahan Mawar dengan pemuda desa sebelah yang dalam waktu singkat telah mempersuntingnya untuk dijadikan istri. Kalau hanya selusin dua lusin loyang bolu, bagi Ani belumlah seberapa, dibanding tekanan batinnya beberapa bulan sebelumnya.

*

Setiap insan akan bertemu dengan jodohnya masing-masing, sesuai garis takdir. Entah berjodoh sampai akhir hayat ataupun berjodoh sementara. Sementara di sini bisa karena salah satu meninggal atau karena terpaksa berpisah.

Meski sejak awal pernikahan hampir semua pasangan berharap bahagia, rukun, sejahtera hingga tutup usia, namun bukan berarti tidak ada aral melintang di tengah perjalanan menuju ke arah sana.

Masalah demi masalah akan selalu datang silih berganti. Kerikil dan batu sandungan hadir secara rutin memaksa kaki ini harus tetap berjalan walau sesekali tersandung. Ombak dan badai juga mewarnai perjuangan sepasang manusia dalam mengayuh biduk rumah tangga.

Badai itu akhirnya hadir juga di usia pernikahan Ani yang ke-15 tahun, setelah beberapa kali berhasil menyingkirkan kerikil, batu sandung, onak dan duri. Rumor yang mengatakan bahwa di tahun pernikahan tertentu akan ada guncangan dahsyat yang harus dihadapi, mungkin ada benarnya. Siap atau tidak, kembali ke diri kita sendiri, mampu menghadapi dengan segenap kekuatan atau menyerah kalah.

Kadang kerikil-kerikil yang kita hadapi itu, sebenarnya tidaklah tajam. Bahkan mudah kita lewati tanpa harus berdarah-darah di kaki. Tapi kenyataannya, lingkungan keluarga sendirilah yang membuatnya tajam, melukai dan menyakitkan. Misalnya, bila ada campur tangan dari saudara-saudara atau mertua yang bisa memperkeruh suasana.

*

Ujian dalam berumah tangga, hampir setiap pasangan pernah mengalami. Tentu dengan tingkat kedahsyatan yang berbeda. Seperti badai perselingkuhan yang pernah menghampiri Ani dan menghampiri pasangan-pasangan lain.

Ternyata dengan adanya campur tangan orang-orang yang tak berkepentingan telah membuat badai itu makin sulit dihadapi. Alih-alih mau menolong, sebaliknya lebih sering menambah masalah pada setumpuk masalah yang sudah ada. Meskipun kita akui ada juga yang benar-benar membantu mencarikan solusi.

Aku lebih suka mengatakan kerikil, batu sandungan, ombak dan badai untuk menggambarkan ujian demi ujian yang menghadang selama berumah tangga dengan pasangan. Karena yakin pasangan adalah jodoh dari-Nya, maka ujian apapun yang ada harus kita hadapi sambil tak lupa melangitkan sejumlah permohonan hanya kepada-Nya pula.

Fitnah atau fakta yang tiba-tiba muncul, memerlukan pembuktian. Ketika ada yang mengabarkan bahwa pasangan telah berpaling ke orang lain, sementara kita merasa dia masih baik-baik saja, hendaknya tak terlalu buru-buru untuk percaya. Sebab bukan tidak mungkin ada yang kurang suka dengan keharmonisan yang mereka lihat di diri kita dan pasangan.

Berita-berita miring di luar sana tentang pasangan, dalam hal ini suami, bisa benar bisa salah. Jika beberapa hari ini ada sedikit perubahan penampilan, wajarlah bila ada sedikit curiga. Istri mana yang tidak cemburu bila mendapati pasangan tiba-tiba tampil lebih necis dari hari-hari sebelumnya?

Rasa cemburu adalah fitrah manusia. Perempuan seagung istri Rasulullah saja punya rasa cemburu, apalagi kita sebagai manusia biasa. Dan rasa ini tidak mutlak milik perempuan, pria pun punya rasa cemburu, hanya saja mereka lebih pandai merahasiakannya.

Bila ternyata pasangan ketahuan “ada main”, tentu kita cemburu, sakit hati, sedih dan marah. Yang lebih menyakitkan lagi, jika ada mainnya dengan orang yang kita kenal dan sudah kita anggap sebagai saudara. Seakan ada bara api dalam dada, sementara isi kepala dituntut tetap dingin.

*

Nah, ketika hati terluka, kita harus sabar dan menahan diri untuk tidak marah membabi buta. Pasangan berbuat seperti itu mungkin karena ada salah dari diri kita yang tak kita sadari. Bisa pula ada faktor lain sebagai pemicunya. Koreksi diri akan lebih baik sebelum mencari akar permasalahan yang sebenarnya.

Marah, tidak akan menyelesaikan masalah. Kepada pasangan, kita tanya baik-baik, benarkah ia ada main? Bila iya, untuk apa? Apa yang ia cari? Jika yang dicari pasangan sudah ada di diri kita, tentu ia tidak akan mencari di luar sana. Oleh karena itu, masalah seperti ini perlu dibicarakan empat mata dengan pasangan secara dewasa demi kebaikan bersama.

Tak semua orang memiliki “keberanian” mencoba dengan cara tersebut. Kebanyakan terburu nafsu yang berujung pertengkaran. Alangkah baiknya secepat mungkin bertindak, sebelum perahu yang dinahkodai suami benar-benar oleng lalu karam. Kita selamatkan mahligai perkawinan yang suci ini dengan perhitungan matang dan dengan cara santun.

*

Prahara rumah tangga bisa menimpa siapa saja. Termasuk menimpa Ani yang awalnya merasa sang suami ada hubungan khusus dengan Mawar. Dan ini adalah sebuah petaka baginya. Dia selesaikan sendiri konflik yang ada tanpa perlu melibatkan orang lain apalagi publik.

Besar atau kecil petaka dalam rumah tangga merupakan noktah yang harus segera diatasi, dilenyapkan. Salah satu cara yakni mendekati para pelaku yang diduga terlibat, sembari mohon petunjuk kepada-Nya dan menyiapkan diri untuk berlapang dada apapun hasilnya.

Meski hati hancur dan kecewa, namun masih mampu berdiri tegak tanpa harus terpuruk, hanya karena sebuah kesalahan yang masih bisa diperbaiki. Manusia tak luput dari salah, khilaf dan tergelincir. Memaafkan kesalahan pasangan, lebih baik daripada dendam yang justru akan merusak diri sendiri lahir maupun batin.

Dengan berbekal keyakinan bahwa semua ini adalah ujian hidup yang sudah tertulis dan harus dilalui, maka seberat apapun problem yang ada akan terasa lebih ringan. Dalam hal ini kehadiran anak sangat membantu, karena anak sebagai penyemangat sekaligus penyelamat.

Kendati demikian, demi kesehatan jiwanya, mereka tak perlu tahu hal-hal yang memang belum selayaknya tahu, agar tak mengurangi rasa hormat mereka ke orang tua, kini hingga nanti.

*

Yang sudah terjadi di masa lalu biarlah berlalu. Mengorek luka lama dan mengungkit-ungkit kesalahan pasangan itu tidak perlu, lebih baik kita hindari. Dengan cara itu, kita bisa melewati ujian demi ujian tanpa menciderai siapapun. Ini akan membuka jalan, kembalinya keharmonisan yang pernah nyaris di tepi jurang.

Semua peristiwa yang pernah terjadi kita jadikan sebagai pembelajaran diri menuju kehidupan yang lebih berarti. Untuk mendapatkan solusi atas segala konflik yang menghadang, kita tetap berikhtiar, berserah diri dan mengadu hanya kepada Sang Pembolak-balik Hati, Illahi Robbi, tanpa henti.

Bagikan
Exit mobile version