f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
IMM

Apa Benar IMM Telah Mati?

Sepanjang semakin rapatnya pergerakan mahasiswa akan semakin matang pula mahasiswa menghadapi krisis yang melanda. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan suatu organisasi besar yang dalam pergerakannya di kalangan mahasiswa Muhammadiyah menjalankan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar[1]. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sendiri dalam sejarahnya dipelopori oleh Mohammad Djazman Al-Kindi, Rosyad Sholeh, Amin Rais, Marzuki Usman, Ummi Kalsum, dan tokoh-tokoh pendiri IMM lainnya[2]. Pergerakannya saat didirikan pertama kali higga saat ini telah melewati berbagai konflik dan krisis.

“Perjuangan-perjuangan membawa kesulitan-kesulitan. Perjuangan besar tidak hanya menuntut pengalaman tetapi juga menuntut keberanian.” –Ir. Soekarno

Penulis mengambil kutipan tersebut bukanlah semata-mata sebagai kalimat semangat; namun kalimat tersebut merupakan salah satu spirit nyata di dalam IMM saat ini; yang mana IMM sendiri telah mengarungi beragam dinamika, baik dalam tubuh internal organisasi maupun secara eksternal; sampai di mana perjalanan IMM juga menjadi saksi dan pelaku sejarah dalam perjuangan dari rezim orde lama menuju orde baru hingga reformasi.

Dengan kiprah pergerakannya, IMM yang berisi kaum akademisi dan intelektual tentu akan banyak mengalami perubahan, dengan ide dan pemikiran para kader juga akan berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Namun, hal tersebut tidak akan menggoyahkan nafas gerakan Islam serta kepribadian muhammadiyah sebagai ideologi.

Hal tersebut sebagaimana yang Kuntowijoyo pernah sampaikan, “Seharusnya kita hadirkan kesadaran sejarah kedalam diri kita. Namun, tidak untuk mengajaknya berlarut-larut dalam nostalgia dan berkutat pada sejarah saja. Jadi poin pentingnya, bagaimana cara mengambil semangat  zaman tokoh-tokoh besar Muhammadiyah yang kemudian di relevansikan dan kontekstualkan dengan kondisi perjuangan kita saat ini.”

***

Setelah kejayaan IMM yang selama ini telah berhasil melintasi zaman dengan pergerakan dan perlawanannya berbekal intelektual yang matang sudah sepatutnya kita apresiasi dan rayakan[3]. Mengapa demikian? Meski masih banyak tugas yang harus diselesaikan di dalam tubuh internal maupun eksternalnya; IMM hari ini merupakan pusat aktivisme pergerakan yang kelak akan menjadi tujuan baru peradaban intelektual, perlawanan, hingga pergerakan[4]. Apalagi semakin banyaknya krisis yang terjadi di Indonesia. Atas dasar hal tersebut para kader IMM telah rela dalam pergerakannya untuk senantiasa melawan ketidakadilan yang terjadi. Dengan hegemoni media massa yang terus menerus berulir, pergerakan kemanusiaan yang menjadi basis pemberdayaan, hingga ide-ide  intelektual kader yang menjadikan IMM masih mengalir seperti aliran darah.

Baca Juga  Membumikan Gerakan, Menguatkan Kemandirian

Penulis mengetahui semakin tingginya krisis yang terjadi akan membuat pikiran menjadi tidak karuan hingga buram; namun hal tersebut tidak mematahkan semangat penulis sebagai kader IMM untuk memunculkan ide-ide dalam pergerakan IMM itu sendiri. Tunggu dulu, penulis teringat akan salah satu kader yang bertanya tentang ketidakpahamannya akan suatu diskusi “Kanda/ayunda mohon maaf sebelumnya, kami masih belum paham akan diskusi yang di paparkan, memangnya akan terdampak pada kita sebagai mahasiswa jika kita tidak melakukan sebuah pergerakan maupun perlawanan?” Hhmm, pertanyaan ini kadangkala masih menjadi suatu kendala para kader-kader IMM dalam mengasah kematangan intelektualnya, dan penulis mengetahui hal tersebut.

Namun dalam salah satu buku yang ditulis oleh salah satu kader IMM, Bayujati Prakoso yang berjudul “Meniti Gerakan” ia menuliskan bahwa diskusi memang akan membutuhkan banyak waktu durasi yang lumayan cukup lama agar ide-ide cocok, tepat, dan bagus muncul. Hingga kemudian ide-ide dengan tujuan yang baik, benar, serta jelas tersebut muncul menjadi salah satu gerakan selanjutnya dalam pergerakan IMM di masa yang akan datang[5].

***

Dengan terus berkembangnya ide-ide hingga gagasan-gagasan baru, walaupun dengan diskusi yang membutuhkan waktu yang cukup lama, intelektual para kader IMM akan terus terasah dan tidak akan pudar yang mana kader IMM akan mempelajari bagaimana kapasitas intelektualnya masing-masing untuk menalar suatu sikap hingga pergerakan selanjutnya.

Jika kader IMM mulai mengetahui bagaimana kapasitas intelektualnya masing-masing, hal tersebut akan memberikan ruang terbuka dalam prosesnya menjalani program kerja di ranah organisasi; karena program kerja merupakan suatu pencapaian kader dalam pergerakan baik pada ranah internal maupun eksternal. Apakah berfokus pada program kerja dapat menjadikan IMM saat ini menurun kapabilitasnya? Jawabannya tidak, banyak kader IMM yang menjalankan program kerjanya dengan tetap menerapkan nilai ideologi.[6] Yang mana dalam setiap program kerja yang mereka lahirkan tetap berada dalam poros religiusitas, intelektualitas, dan humanitas sebagai identitas dalam gerakan.

Baca Juga  Hari Perempuan Internasional dan Perjuangan Kesetaraan di Nasyiatul Aisyiyah

Dengan masih banyaknya kader IMM memegang teguh prinsip tersebut dalam menjalankan program kerjanya, membuktikan bahwa IMM tidaklah redup maupun mati bukan?! Dengan slogan “anggun dalam moral dan unggul dalam intelektual” yang kemudian menjadi spirit dakwah IMM untuk menopang banyak kadernya dalam studi maupun pemahamannya mengenai Al-Qur’an dan Al-Hadis; karena hasil dari pemahaman tersebut akan menciptakan pergerakan intelektual pemberdayaan di lingkungan sosial sekitar dengan implementasi aktivitas pendampingan yang masif dan berkelanjutan.

***

Proses menjalani program kerja tersebut juga tidak akan lepas dari konflik internal. Wait, sebelum itu mana ada organisasi yang tidak ada konflik internal? Hmmmm. Penulis yakin bahwa setiap organisasi pasti memiliki konflik internal yang terjadi di dalamnya. Kemudian, apakah konflik tersebut dapat menimbulkan efek buruk dalam ikatan? Nyatanya belum tentu, jika para pemimpin ikatan mampu memposisikan dirinya dalam secara netral dan berkepala dingin dalam memutuskan sesuatu yang mana keputusan tersebut dapat menimbulkan efek win–win solution[7], serta baik untuk keberlangsungan ikatan yang dipimpin. Pemimpin yang mampu menempatkan kader dengan penataan yang bagus akan meminimalisir terjadinya konflik dalam berorganisasi. Jadi, konflik internal bukanlah suatu keadaan yang menjamur di suatu organisasi, namun hal itu wajar terjadi agar kita sebagai kader-kader IMM mampu menyelesaikan suatu masalah (problem solving) dan mampu menemukan solusinya bersama. Karena kemampuan problem solving merupakan soft skill yang harus dimiliki setiap makhluk hidup[8].

Dinamika-dinamika tersebut sebetulnya yang membuat IMM semakin tumbuh, dengan tetap menjadikan nilai IMM sebagai pedoman dan dasar ikatan. Tri kompetensi dasar yang selama ini telah banyak direfleksikan kader IMM dalam program kerja mereka masing-masing, telah mewujudkan banyak lini pergerakan di dalamnya bukan? Penulis yakin semakin banyaknya krisis hingga pergolakan di dalam maupun d iluar ikatan akan memberikan dampak baik terhadap kader-kader IMM dalam kapasitas mereka untuk terus setia terhadap ikatan. Semakin dewasa ikatan semakin besar pula peran hingga tanggung jawab yang dipengang oleh kader-kader IMM untuk terus mencari mata air yang jernih.

Baca Juga  Optimalisasi Peran Ibu sebagai Duta Pendidikan Toleransi dalam Rumah Tangga
Referensi

Pribadi, I. 2016. Peranan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam Membentuk Perilaku Beragama Mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Journal UMPalopo : Voice of Midwifery, 5(07) 39-54

Agham, Noor Chozin. 1997. Melacak Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dikdasmen : PP Muhammadiyah

Nurzaman, Jajang, dkk. 2021. Nalar Kritis Kader Muda Muhammadiyah. CV.Diomedia : Sukoharjo

Sholeh, Ahmad. 2017. IMM Autentik : Melacak Autentisitas dan Substansi Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Pustaka Saga : Surabaya, cetakan 1

Prakoso, Bayujati. 2021. Meniti Gerakan : Sehimpun Gagasan Terkini Untuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. CV. Semesta Irfani Mandiri : Depok

Maarif, Ahmad Syafii. 2007. Tri Kompetensi Dasar : Peneguhan Jatidiri Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. DPP IMM

Kristiana, Wita. 2012, Peranan Manajer Dalam Mengelola Konflik Organisasi. Jurnal Perspektif Arsitektur : Vol 7/ No. 2


[1] Pribadi, I. 2016. Peranan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam Membentuk Perilaku Beragama Mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Journal UMPalopo : Voice of Midwifery, 5(07) 39-54

[2] Agham, Noor Chozin. 1997. Melacak Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dikdasmen : PP Muhammadiyah

[3] Nurzaman, Jajang, dkk. 2021. Nalar Kritis Kader Muda Muhammadiyah. CV.Diomedia : Sukoharjo

[4] Sholeh, Ahmad. 2017. IMM Autentik : Melacak Autentisitas dan Substansi Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Pustaka Saga : Surabaya, cetakan 1

[5] Prakoso, Bayujati. 2021. Meniti Gerakan : Sehimpun Gagasan Terkini Untuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. CV. Semesta Irfani Mandiri : Depok

[6] Maarif, Ahmad Syafii. 2007. Tri Kompetensi Dasar : Peneguhan Jatidiri Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. DPP IMM

[7] Kristiana, Wita. 2012, Peranan Manajer Dalam Mengelola Konflik Organisasi. Jurnal Perspektif Arsitektur : Vol 7/ No. 2

[8] Bariyyah, Khairul. 2021. Problem Solving Skills : Essential Skills Challenges for the 21st Century Graduates. IICET : Vol 7/ No 1

Bagikan
Post a Comment