f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
langit

Langit Abu-abu

Musim kembali rusuh.

Bayangan luka tergambar jelas di sudut matamu sama seperti empat tahun lalu.

Aku bergerak melangkahkan kaki ke ufuk untuk menghampirimu; tapi tak kulihat sedikitpun bayangmu di ujung jalan sore itu.

Aku tau ada yang berbeda dengan langitku, ku acuhkan sehelai kabut tipis yang menutupi sinarmu; ku biarkan napasku tersenggal oleh partikel yang mungkin akan merusak paru ku kelak saat ku menua.

…


Pagi itu, aku kembali ingin menghampirimu ke arah timur. Namun tak sedikitpun kau sambut aku dengan senyum merona mu layaknya dahulu.

Aku melihat jelas, gambaran luka mengoyak habis bahagiamu saat tangan rakus membunuh teman hijaumu.

Aku tidak peduli, kubiarkan kau menangis, kubiarkan kau terluka untuk kesekian kalinya. Ku biarkan sehelai kabut tipis menjadi berlapis lapis menutupi hangatnya sinarmu.

Dan aku tidak peduli racun itu terus menelusup tidak sopan ke tubuhku yang mungkin sebentar lagi; ia akan menghujamkan tajamnya belati dan membunuhku.

Sungguh aku tidak peduli.

…

Tapi hari itu, aku tertegun melihat ribuan pasukan armada langit biru bergerak memelukmu.

Terlihat jelas di pelupuk, lukamu turut menggores sudut hatinya.

Ia ulurkan tangan untuk menarikmu lepas dari derita, ia kuatkan pijakan untuk menopangmu yang patah, ia rentangkan sayap untuk menarikmu dari jurang penuh duri.

Ia tidak peduli ribuan anak panah menancap di tubuhnya; ia korbankan segenap jiwa hanya untuk kau kembali tersenyum. Namun kau tak kunjung hadirkan itu.

Kau yang ku panggil ibu pertiwi kian merintih, tak hanya mata pedang asap yang melukaimu. Namun kertas keputusan pun ikut mematahkan kakimu.

Tubuhmu kian berdarah, setiap tangan-tangan yang kau percaya akan menjagamu satu persatu menancapkan pisau di balik punggungmu.

Baca Juga  Setulus Cinta Bumi
…

badai terus datang menghampirimu dan  menghancurkan segalanya.

Melenyapkan senyum embun yang tak lekang untuk pagi.

Menghilangkan terik, hingga siang di rundung duka.

Mematahkan bahu gelap dan malampun hilang arah.

Menyeret angin sampai ranting pohon remuk tak berdaya.

…

Mereka terluka, pagiku, siangku, malamku, dan bumi pertiwiku.

Merintih disudut sepi, di kaki lagit yang hampir roboh tak sanggup menopang gundah hati.

Menangis di persimpangan jalan, menyeret langkah tak tau arah.

Meronta meminta tolong.

Namun, tubuhku kaku, kakiku keluh, tanganku layu, hatiku mati enggan menarik mereka keluar dari siksa badai yang tak berujung.

Bukan ku tak ingin. Namun aku terlalu kecil untuk menembus badai yang diciptakan jiwa-jiwa serakah.

Bagikan
Post a Comment