f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hustle culture

Hustle Culture: Normalisasi Kultur Grinding

Kaum muda sedang ramai membicarakan tentang “produktif”. Stigma mengenai ‘bekerjalah terus sampai meraih kesuksesan’. Membuat semua orang menjadi bekerja tak kenal waktu dan tempat. Mereka berlomba-lomba menjadi yang paling sibuk.

Budaya seperti ini disebut dengan Hustle Culture atau budaya gila kerja. Hustle culture diartikan sebagai gaya hidup, di mana seseorang harus selalu sibuk bekerja di mana pun dia berada, dan kapan pun. Tidak ada waktu untuk istirahat. Pekerjaan dilakukan di kantor, di luar kantor, di kedai, bahkan di rumah.

Seseorang dituntut untuk menghasilkan sesuatu atau produktif. Sementara itu, orang yang selalu rebahan dianggap sebagai pemalas. Pemalas diasosiasikan dengan kemiskinan.

Munculnya Hustle Culture

Hustle culture muncul sejak ramainya dunia industri. Orang-orang termotivasi untuk menjadi pengusaha terkenal, seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Tae Lopez, dan masih banyak lagi. Mereka berpikir untuk menjadi sukses haruslah menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja.

Dalam beberapa kasus, hustle culture memang memiliki dampak positif bagi lingkungan kerja. Apalagi dalam dunia yang makin kompetitif dan serba cepat ini yang sangat menguntungkan. Kaum muda tentunya tertarik dengan tren dan berlomba-lomba tentang berapa juta yang mereka hasilkan dalam waktu yang cepat.

Budaya semacam ini, biasanya dilakukan tanpa sadar dan dianggap berbahaya. Misalnya, ketika makan sambil membalas WhatsApp tentang pekerjaan. Orang cenderung mengabaikan waktu untuk bersama keluarganya, waktu untuk liburan, bahkan cenderung abai kondisi dirinya sendiri khususnya masalah kesehatan.

Konsep Hustle culture yang dianggap akan membuat seseorang menjadi produktif justru tidak seperti itu. Pada kenyataannya pekerja memang menyelesaikan banyak tugas atau proyek yang diberikan dengan cepat, tetapi apakah kualitasnya juga bagus? Belum tentu. Produktif bukan hanya tentang melakukan banyak hal tetapi juga tentang kualitas hasilnya.

Baca Juga  Figur Ideal dalam Membangun Peradaban Rumah Tangga (2)
Kasus-kasus Hustle Culture

Padahal hanya sebagian kecil manusia di dunia ini yang dapat melakukan hal tersebut. Kegiatan ini membuatotak tidak fokus sehingga dalam mengerjakan sesuatu bisa tidak maksimal. Akibatnya adalah otak kita bisa lelah dan kinerjanya berkurang. University of London melakukan penelitian dan menunjukkan bahwa multitasking dapat memengaruhi IQ seseorang. IQ kita bisa turun hingga 10 poin.

Jepang merupakan negara yang masyarakatnya gila kerja. Mereka melakukan pekerjaan dengan maksimal dan berorientasi jauh ke depan. Akan tetapi, itu mengorbankan banyak hal. Bukan hanya masalah waktu dan kesehatan saja, tetapi juga mengorbankan nyawa mereka.

The Guardian melaporkan bahwa seorang jurnalis berusia 31 tahun bernama Miwa Sado benar-benar bekerja terlalu keras sampai mati. Dia menderita gagal jantung setelah menghabiskan 159 jam kerja lembur.

Beberapa kasus lain juga ada yang bunuh diri karena stress. Bekerja dengan waktu yang panjang juga menyebabkan kesehatan mental yang lebih buruk, lebih banyak kecemasan, dan kecenderungan lebih besar untuk depresi.

Hustle culture bisa saja dibawa secara turun-temurun. Orang tua yang senang membanding-bandingkan anaknya, akan memengaruhi ingatan bawah sadar sang anak bahwa ia harus berlomba-lomba jadi nomor satu bagaimana pun caranya.

…

Contoh yang beberapa bulan lalu saya alami adalah anak rela belajar seharian supaya dapat masuk universitas impian dambaan orang tuanya. Tanpa disadari anak kehilangan banyak waktunya untuk tidur, liburan atau sekadar menghibur dirinya sendiri.

Budaya hustle ini secara tidak nampak sudah menjamur dan terjadi pada orang sekitar kita. Contohnya pada orang yang saya kenal. Sebut saja Pak Suryo, seorang karyawan pabrik A terobsesi untuk menjadi seorang bos.

Akibat dari obsesi dan ambisinya yang tak memiliki batas, ia hampir menghabiskan 24 jam hanya untuk bekerja. Semata-mata karena ingin mengerjar mimpinya dan bangga dengan kesibukannya. Alhasil, kini diagnosis penyakit datang bertubi-tubi karena kebiasaan buruknya. Seperti penyakit jantung, ginjal, dan lain-lain.

Baca Juga  Saat Istri Minta Tambahan Uang Belanja

Bukan hanya pekerja tapi budaya hustle secara tak sadar juga dilakukan oleh para pelajar. Pelajar kehilangan banyak waktunya untuk bersosialisasi dengan temannya. Bahkan, mereka rela menjatuhkan teman mereka sendiri hanya untuk universitas impian atau nilai yang tak bisa menjamin masa depan mereka. Di takutkan jika budaya ini terus berlanjut maka pelajar akan kehilangan banyak waktu berharganya untuk mengeksplorasi diri sendiri.

Gila Kerja dan Tuntutan Kerja

Di sisi lain, pekerja dituntut untuk memberikan waktu dan tenaga sebanyak yang ia punya untuk kemajuan perusahaan. Padahal dengan seperti itu seorang karyawan tidak akan langsung mendapat keuntungan; seperti naik jabatan atau sekadar naik gaji. Justru para bos yang mendapatkan keuntungan itu.

Pekerja dengan jam kerja yang sangat banyak tidak menjamin apapun. Dengan bekerja keras seperti itu, tidak ada jaminan ia dapat mengubah dunia. Dari contoh kecil saja, bahkan ia sendiri belum tentu bisa mengeluarkan dirinya atau keluarganya dari belenggu kemiskinan.

Bahkan jika dibayar untuk lembur, apakah itu sepadan dengan stres dan kecemasan yang timbul karena terlalu banyak bekerja?

Bagaimana bisa menikmati hasil kerja ketika tidak punya waktu untuk hal lain selain pekerjaan?

Zaman milenial seperti ini, kompetisi antara manusia sangat gila-gilaan. Kita memang dituntut untuk selalu bekerja supaya kita dapat bertahan. Kecuali kalian anak konglomerat pewaris harta tujuh turunan. Kalau kita tidak berusaha dengan maksimal dan mengerahkan semua tenaga serta pikiran kemungkinan terburuk akan terjadi. Kita tidak dapat bertahan dan mungkin bisa mati.

Membatasi Gila Kerja

Bekerja memang suatu keperluan untuk mencukupi kebutuhan kita. Kebutuhan mengenai makan, sandang, dan kebutuhan penting lainnya. Permasalahannya adalah jika bekerja itu mendapatkan title “gila”. Manusia menjadi gila kerja dan tak acuh dengan sekitarnya.

Baca Juga  Pembelajaran Daring : Solusi di Masa Pandemi

Padahal, kebutuhan manusia bukan hanya bekerja saja tetapi juga bersosialisasi, liburan, menghibur diri sendiri, dan lain-lain. Maka sebelum kita menormalisasi budaya grinding dalam bekerja, haruslah kita memberi batasan untuk diri sendiri. Kita harus tau porsi diri masing-masing dan tak memaksakan terhadap suatu hal.

Hustle Culture memang membuat kita menjadi termotivasi untuk selalu bekerja. Membuat kita selalu semangat dalam mengejar mimpi dan tentunya berharap akan sukses dalam finansial.

Kegiatan ini memberi pengaruh yang sangat besar tentunya untuk pemilik perusahaan. Sementara karyawan tidak mendapat manfaat yang sama dengan pengorbanan yang ia lakukan.

Budaya ini seharusnya tak dilakukan lebih lama lagi. Akibatnya sudah kita ketahui. Mulai dari depresi, abai dengan lingkungan sekitar, dan masalah mental hingga bunuh diri. Lebih baik jika kita hidup tidak hanya memikirkan tentang materialistik dan duniawi semata.

Segala hal yang dilakukan berlebihan memanglah tak baik. Semuanya harus seimbang antara pekerjaan dan keluarga serta urusan lainnya.

Bagikan
Post a Comment