Kuota, Makanan Pokok Baru Generasi Milenial
Zaman semakin modern, pembaruan-pembaruan sudah merambah ke semua bidang. Kehidupan tak hanya ramai di kehidupan nyata, tetapi juga di kehidupan maya. Semua serba online, ada jualan online(olshop), ada ojek online , dan banyak lagi lainnya.
Adanya akses internet memang mempermudah gerak kita ke penjuru dunia tanpa harus berpindah tempat. Saat kita menggunkan internet, tentu saja kita butuh yang namanya kuota.
Nah, Rahmania, saat ini kuota menjadi hal yang wajib untuk dimiliki setiap orang agar tidak ‘kudet’ katanya. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Siapa yang menyangka, tahun 2020 menjadi tahun yang mengejutkan untuk semua orang. Spesimen baru muncul dengan tiba-tiba seperti jailangkung. Datang tak diundang, meresahkan dan menakuti semua orang.
Kegiatan Online
Corona virus atau yang sering kita sebut covid-19 memang sangat berbahaya apabila sudah menyerang tubuh kita, jika tubuh masih memiliki immun yang cukup kuat, maka memungkinkan kita untuk bisa berperang melawan virus yang masuk, namun jika tubuh kita lemah, otomatis kita yang akan takluk oleh makhluk mikro tersebut.
Pemerintah segera menggambil langkah kebijakan-kebijakan baru dalam mengahadapi masa pandemi. Semua kegiatan di liburkan dan segala fasilitas umum ditutup demi mencegah penulran virus ini. Kita seperti dikerangkeng dalam penjara rumah, hanya diperbolehkan melakukan aktivitas dari rumah, istilahnya work from home dan sekolah online(daring).
Semua serba online, otomatis kita butuh sarana seperti gadget, laptop, hape yang pastinya tidak bisa lepas dari tangan kita. Ada yang menggunakannya untuk bermain game online, ada yang sekedar untuk eksis di medsos, ada yang untuk belajar, bekerja, dan masih banyak lainnya.
Bantuan Taskin
Dalam melakukan kegiatan online, pastinya kita harus punya kuota. Kuota saat ini bagaikan cahaya di tengah kegelapan. Terkesan ‘lebay’ dalam mengistilahkan, namum memang benar adanya. Kuota menjadi makanan pokok baru dalam masa sekarang .
Saya yang notabennya adalah seorang mahasisa, tentu dalam mengikuti perkuliahan wajib dan harus punya kuota, dalam pelaksanaan sekolah daring ini. Tak hanya itu, orang tua dari anak-anak di semua jenjang pun kini harus memberikan jatah kuota per hari, per minggu atau per bulan agar si anak bisa mengikuti kegiatan online.
Hmmm, bisa-bisa akan ada progam semacam raskin (beras untuk warga miskin) ditambah dengan progam taskin (kuota untuk warga miskin).
Saat ini, pemerintah pun telah memberikan subsidi berupa kuota pendidikan yang dibagikan kepada para siswa dan juga mahasiswa. Kendati demikian, saya rasa bantuan tersebut tidak bisa membackup seluruh siswa yang ada di penjuru tanah air, pun dalam pelaksanaanya tidak bisa secara langsung terbagi secara rata dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Masih banyak mahasiswa yang mengeluh belum mendapatkan kuota belajar, sehingga dalam pelaksanaan proses pembelajaran tiap bulanya harus menguras uang cukup banyak dari biasanya untuk membeli kuota.
Berdasarkan survey yang saya lakukan kepada teman-teman , kebanyakan mereka menghabiskan uang sekitar Rp 50.000-Rp 150.000 untuk membeli kuota setiap bulanny naik dua sampai tiga kali lipat dari biasanya. Bagaimanapun juga, kebijakan subsidi kuota belajar sudah sangat membantu meringankan meskipun masih ada kendala dalam pelaksanaanya .
Sebelum masa pandemi, memang sudah tentu banyak orang yang menggunakan gadget dan kuota untuk pekerjaan mereka, akan tetapi kali ini sangat menonjol karena seluruh aktivitas di lingkup masyarakat membtuhkan itu, dari usia TK sampai dewasa. Apalagi masa sekarang, anak kemarin sore saja sudah lihai dalam mengoprasikan gadget.
Saya pun merasakan hal itu, sehari tidak ada kuota saja membuat saya gelisah dan ingin cepat-cepat membeli kuota, merelakan uang jajan saya untuk membeli kuota.
Makanan Baru Bernama Kuota
Beras dan kuota menjadi sejajar kedudukannya. Sama-sama peting dan sama-sama dibutuhkan. Bayangkan saja satu hari tanpa kuota, seakan-akan kita hidup di pedalaman hutan yang terasingkan dari kehidupan globalisasi yang gemerlap ini.
Problem yang timbul dirasakan bagi kalangan dengan status ekonomi menengah kebawah. Kini, mereka harus mencukupi kebutuhan pokok barunya. Mengobati rasa laparnya sekaligus membeli kuota agar anak-anak mereka tetap bisa bersekolah.
Kemarin saya mendengar berita di salah satu stasiun televisi ternama bahwa ada seorang anak kecil, atau bisa dikatakan anak di bawah umur yang rela bekerja, membantu orang tuanya, salah satunya agar bisa membeli kuota. Sebegitu pentingnya kuota bagi kita.
Benar-benar akan merasa sangat primitif jika kita tidak punya kuota. Sebenarnya sah-sah saja sih, karena di era modern ini semua serba digital. internet memberikan akses untuk kita agar bisa belajar dan tahu mengenai dunia luar.
Rahmania, bagaimana pun alasannya, bukankah dalam dunia ini selalu ada dua sisi? sisi positif dan negatif. Yang jelas, dinamika kehidupan tidak bisa kita elakkan. Memilih ketinggalan zaman sebagai makhluk primitif ataukah bergerak, berproses mngikuti dinamika kehidupan.
Menanggapi adanya makanan pokok baru ini, tentu tidak semua orang siap dan mampu untuk memenuhinya. Dampak positif dan negatif pun tetap ada. Akan tetapi, harus kita akui bahwa kuota memang sudah menjadi makanan pokok baru bagi kita.
Mahasiswi Universitas Sebelas Maret
