Raga ada di atas sajadah, tapi jiwa melanglang buana entah ke mana. Berkeliaran menuju sesuatu yang abstrak, layaknya adegan sinetron ketika salah seorang pemain mengalami amnesia dan berusaha membuka memori lama dalam benaknya. Semuanya seakan terekam secara acak, tak jelas rupa, samar peristiwa.
Kita kerap kali teringat berbagai hal ketika shalat, yang padahal tidak terpikirkan sebelum melaksanakannya. Atau ketika sebelumnya merasa sulit mengingat-ingat sesuatu, tapi justru teringat ketika shalat. Apakah ini pertanda tidak khusyuk atau justru nikmat dari Allah karena kita sudah melaksanakan perintah-Nya?
***
“Lupa” tentunya sifat manusiawi, yang bahkan ungkapan atau pepatahnya sudah sangat terkenal dan tidak asing lagi, Manusia adalah tempat salah dan lupa. Seperti saya ini, sering sekali teringat sesuatu justru ketika shalat, tapi kadang juga lupa lagi ketika usai menunaikannya.
Kalau mendengar ceramah-ceramah tentang shalat yang khusyuk, “teringat sesuatu ketika shalat” jelas bisa menjadi faktor ketidakkhusyukan. Sambil tetap bermuhasabah, sampai saat ini saya menganggap bahwa mungkin saja itu adalah bagian dari anugerah.
Seolah Allah tengah berfirman, “Hamba-Ku mau menunaikan perintah-Ku dan rela melepas kesibukan duniawinya untuk bermunajat pada-Ku sejenak.” Tentu ini hanya khayalan liar saya saja, bukan suatu doktrin untuk diyakini bersama.
Pikiran semacam ini memang berbahaya. Kalau tidak merujuk pada Al-Quran dan Hadis, bisa menjadi doktrin sesat nan menyesatkan. Apalagi kalau alasan “bisa mengingat sesuatu ketika shalat” dijadikan sebagai pendorong atau penyemangat untuk melaksanakan shalat. Jadi, shalatnya tetap hanya karena imbalan duniawi, dong?
***
Namun, sebagai kaum awam, jelas saya amat penasaran dan ingin segera mendapat jawaban yang pas. Selama ini, hanya sebatas menjadikan keyakinan pribadi saja, sambil berikhtiar dengan mencari jawaban di berbagai literatur atau bertanya pada ahlinya.
Dulu sempat ingin menanyakan hal ini pada salah seorang guru besar di kampus, tapi urung. Karena, saat itu rasa percaya diri saya belum sekuat sekarang. Khawatir, pertanyaan itu dianggap tidak berbobot, pertanyaan anak SD, ataupun cemoohan lainnya. Maklum, saya kerap overthinking sebelum melakukan sesuatu.
Di sisi lain, saya tetap bersyukur bila mengalami hal demikian. Tiba-tiba teringat sesuatu yang padahal tidak saya ingat-ingat sebelumnya. Ia datang secara tiba-tiba tanpa diminta. Meski kemudian, saya pun tetap berusaha untuk fokus kembali dan ingat bahwa saya sedang menghadap Gusti Allah.
Lalu, pada satu waktu ketika tengah berbincang dengan seorang kawan, kebetulan dia sedang merokok. Saya pun iseng bertanya, “Apa enaknya, sih, ngerokok? Bakar bibir sendiri gitu.” Lalu katanya, “sama halnya dengan bertanya “shalat yang khusyuk itu gimana, sih, rasanya? Cuma orang yang ngalamin yang bakal ngerasain, kan?’”
Hmm … bener juga.
Kenikmatan Beribadah
Jadi, perihal kenikmatan beribadah pun sepertinya tak terdefinisikan. Hanya orang yang betul-betul mengalamilah yang bisa merasakannya. Ia pun sepertinya akan sulit mendefinisikan bagaimana nikmatnya shalat khusyuk itu. Seperti nikmatnya merokok bagi perokok akut seperti kawan saya tadi.
Dari apa yang sudah diajarkan pemuka-pemuka agama sampai saat ini, katanya, setan memang tidak akan pernah rela bila hamba Allah apalagi yang lemah imannya, bisa khusyuk ketika tengah menunaikan shalat. Mungkin mereka amat julid melebihi julidnya warganet termasuk kita, ketika melihat suatu fenomena yang di luar biasanya. Ya, berusaha shalat dengan khusyuk ini salah satunya.
Namun, kenyataannya, meraih kekhusyukan memang sulitnya minta ampun. Bahkan, sekaliber Ali bin Abi Thalib pun, bisa buyar juga konsentrasinya ketika melaksanakan shalat.
Pada satu riwayat yang sudah masyhur, suatu hari Rasulullah Saw menjanjikan untuk memberi sebuah serban kepada Ali bin Abi Thalib, bila Ali mampu shalat 2 rakaat dengan khusyuk. Ali pun menyanggupinya. Akan tetapi, ketika di penghujung shalatnya, Ali justru teringat akan serban yang dijanjikan Rasulullah tersebut.
Allah tidak memandang shalat orang yang tidak menghadirkan hatinya bersama badannya. (Ihyaa’ ‘Uluumiddiin bagian Fadhilah ash-Shalat)
Shalat, Sumber Ketenangan Hati
Seorang Muslim tentu akan menjadikan shalat sebagai sumber ketenangan, ketika hati betul-betul gersang dan merasa amat butuh pada Tuhan. Tidak hanya berkutat dengan gerakannya yang memang memberi manfaat, shalat (yang benar juga) mampu menghindari seorang hamba dari sifat jahat.
Sadar diri bahwa saya bukan makhluk nir-cela apalagi sempurna, saya pun tetap berdoa agar senantiasa diberikan kesempatan untuk merasakan nikmatnya beribadah. Meskipun sampai saat ini saya masih belum tahu, shalat yang nikmat nan khusyuk itu seperti apa.
Selama hati saya merasa tenang setelah shalat, saya merasa bahwa Allah mungkin saja telah menerima shalat hamba-Nya ini. Kemudian memberi imbalan berupa diberikannya ingatan yang sebelumnya mungkin sudah lama dilupakan. Ah, semoga saja benar begitu, ya Allah.
Namun, tetap saja, pengetahuan Allah tentu amat berbeda dengan kita, hamba-Nya yang banyak alpa ini. Oleh karena itulah, Allah memberi kita potensi akal, untuk berpikir dan merenungi berbagai hal.
“Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui minuman keras dan judi serta (bermaksud) menghalangi kamu dari mengingat Allah dan (melaksanakan) shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS Al-Maa’idah [5]: 91)
***
Terlepas dari itu semua, bagi saya shalat itu bagaikan privilege. Karena setidaknya, minimal ada lima waktu untuk menjauh sejenak dari lelahnya berbagai aktivitas duniawi. Belum lagi bila ditambah dengan shalat-shalat sunnah pada pagi atau malam hari.
Shalat itu menjadi jeda untuk beristirahat, sekaligus bermunajat pada Dzat yang Mahadekat bagi hamba-hamba-Nya yang memilih taat.
Mari kita sama-sama berdoa:
اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu‘, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR Muslim)
Aamiin.
Walllahu a‘lam bish-shawaab ….

Tulisan yang luar biasa dan layak untuk dibaca.
Dikira diriku saja yang seperti itu.
Ternyata banyak juga yang mengalami demikian🤭😅
Tulisan yang Excellence👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻.
Pasrahkan saja sama Allah ya.
Semoga sholat yang telah di lakukan di terima oleh Allah.
Aamiin allahuma aamiin.
Dan terus belajar untuk mencapai kenikmatan kekhusyuuuuaan.
Aamiin allahuma aamiin.
MasyaAllah banyak ilmu yang telah terbagi kebermanfaatannya untuk menambah wawasan yang awam ini