f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
travelling

Ibumu, Engkau, dan Temanmu (1)

Alhamdulillah, dalam bergantinya waktu yang ada Allah Subhanahu Wata’ala masih berkenan memberikan keafiatan kepada kita semua untuk beribadah dan berkarya di jalan-Nya. Pergeseran waktu dalam kehidupan ini telah jauh membawa kita kepada berbagai macam perubahan. Tanpa sadar waktu telah menggeret kita pada sebuah peradaban yang kita sendiri tidak tahu apakah peradaban yang kita jumpai hari ini lebih baik atau tidak. Namun sebuah hal yang pasti adalah puncak dari peradaban dan zaman keemasan kaum muslimin yang ada pada masanya Rasululllah SAW dan tiga kurun setelah beliau.

Ada sebuah fakta menarik yang terjadi dalam ekosistem sosial kita hari ini, yang obyek kajiannya melibatkan antara seorang anak, orang tua dan teman-teman. Fakta ini menjadi menarik dan perlu untuk dikaji bersama karena di antara ketiganya terbaca  sebuah ironi sosial yang semestinya tidak boleh terjadi.

Tentang Ibumu

Adalah orang tua, sosok yang selalu hadir memberikan kasih sayang dan cinta kepada buah hatinya. Dia hadir dalam setiap helaan nafas sang buah hati. Karena dia sadar sang buah hati adalah penerus garis keturunan.

Perjuangan seorang ibupun tidaklah mudah karena dia rela bertaruh nyawa dalam detik-detik kelahiran si buah hati. Sementara seorang ayah selalu siap mendampingi istri tercinta. Dia memberikan motivasi, menyirami nasehat-nasehat  kesabaran sehingga rasa sakit yang sedang dialami sang istri. Itu tak tergantikan dengan semangat yang membara untuk menyambut kehadiran sang buah hati.

Tersungging seutas senyum pertanda syukur kepada Allah sekaligus kegembiraan manakala si buah hati dengan izin Allah lahir dalam keadaan sehat wal afiat. Penantian sembilan bulan sepuluh hari terbayar sudah ketika mendaengar tangisan si bayi.

Baca Juga  Memaknai Rezeki Tak Hanya Berupa Materi

Hampir semua hal diikhtiarkan oleh kedua sosok ini untuk kebaikan buah hatinya. Untuk tumbuh kembangan sangan buah hati dipilihkannya makanan yang sehat dan bergizi. Memilihkan pendidikan sang buah hati dipilihkannya guru dan madrasah terbaik. Selain itu juga yang paling ekstrim untuk kesenangan dan kegembiraan sang buah hati dibelikannya keinginan yang dia mau asalkan sang buah hati bahagia dan senang. Realita ini seakan ingin berkisah kepada kita semua bahwa dalam bingkai kehidupan seorang anak. Di belakangnya berdiri sosok orang tua yang begitu perhatian dan penuh sayang.

Tentang Engkau

Gayung pun bersambut, tidak sedikit kita menjumpai anak-anak yang tumbuh dan berkembang dalam siraman kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya biasanya menjadi sosok yang baik. Anak tumbuh sesuai harapan dan berkembangan sesuai harapan baik dalam akhlaq perilaku maupun bawaan sehari-hari di usia anak-anaknya.

Demikianlah fitroh yang Allah gariskan. Bagi orang tua penyayang maka dia akan mendapatkan balasan dari Allah berupa anak yang juga sayang kepadanya.

Dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu berkata: Rasulullah saw menciumi Al Hasan bin Ali, di hadapan Al Aqra’ bin Habis At Tamimiy yang sedang duduk. Lalu Al Aqra’ berkata: Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak, dan aku belum pernah menciumi seorang pun. Lalu Rasulullah saw memandanginya dan bersabda: “Barang siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi” (HR. Bukhari) 

Demikianlah sejatinya potret kehidupan antara anak dan kedua orang tuanya, kehidupan yang harmonis, membahagiakan dan betul-betul menjadi impian setiap keluarga muslim.

Tentang Temanmu

Selanjutnya bergulirlah waktu, anak yang tadinya masih bayi, kecil dan masih dalam buaian kedua orang tuanya akhirnya tumbuh dan berkembangan menjadi sosok remaja dan sudah berusia sekolah. Lingkungan yang tadinya hanya ada ibu, menjadi lebih luas. Lingkungan sekolah dan masyarakat yang ada di sekitarnya telah menjadi tempat kedua dan ketiganya dalam menemani hari-harinya. Akhirnya kehidupannya pun berwarna, bukan hanya orang tua dan saudara yang ada di rumah tapi telah bertambah dengan kehadiran teman di sekolah dan masyarakat.

Baca Juga  Mewujudkan Pendidikan Unggul pada Masa Pandemi

Inilah titik awal perubahan dalam kehidupan seorang anak remaja sekolah, kehadiran teman dalam ruang kehidupannya telah mengurangi ruang yang selama ini begitu luas untuk kedua orang tuanya.

Teman adalah sosok yang memang tidak bisa dihindari kehadirannya dalam kehidupan anak remaja sekolah. Statusnya sebagai makhluk Allah yang memiliki sifat sosial membuat seseorang sulit untuk tidak memilih teman, baik di madrasah maupun di masyarakat. Sulit rasanya kita membayangkan anak remaja sekolah hidup tanpa teman dan sahabat. Justru seorang remaja sekolah dimasukkan ke dalam kotak tanda tanya besar jika dia tidak memiliki teman dan sahabat dalam kesehariannya.

Belati Bermata Dua

Selanjutnya muncul fakta sosial yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Teman adalah belati yang bermata dua. Dia bisa memberikan manfaat kepada teman lainnya dan juga bisa melukai bahkan sampai merusak teman lainnya.

Oleh karena itulah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam terus memberikan peringatan kepada kita agar tepat dalam memilih teman dan sahabat beliau bersabda: “Janganlah bersahabat kecuali dengan orang beriman. Janganlah yang memakan makananmu melainkan orang bertakwa.” (HR. Abu Daud no. 4832 dan Tirmidzi no. 2395. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Teman yang baik bisa mendatangkan banyak manfaat kebaikan bagi kita. Sehingga dekat dengan orang baik minimal ada aliran kebaikan yang akan ditularkan kepada kita.

Bersambung

Bagikan
Post a Comment