f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dalam

Rasionalisasi Cinta dalam Islam (2)

Dalam Islam, Cinta Itu Jatuh atau Diciptakan?

Sering kita mendengar ramai orang berkata bahwa cinta itu jatuh. Itu di lain sisi, tetapi di sisi yang lain ada yang berkata bahwa cinta itu tidak jatuh tetapi diciptakan. Kalau dalam bahasa Inggris jatuh cinta adalah fall in love sedangkan jika kita menciptakan cinta bahasa Inggrisnya we create love. Lalu mana yang paling tepat dan mana yang paling cocok dengan kenyataannya?

Jatuh cinta berarti cinta itu jatuh. Kalau jatuh biasanya sakit. Jadi kalau orang yang jatuh cinta sebenarnya sedang mengalami rasa sakit. Maka benar pula jika cinta itu adalah penderitaan dan pengorbanan. Akan tetapi jika cinta itu benar-benar jatuh apakah bisa bangkit lagi? Atau justru tidak bisa bangkit kembali? Inilah dampak psikologis akibat cinta itu jatuh. Hanya akan menimbulkan penderitaan dan hanya bertahan sementara, dalam waktu yang terentu.

Tetapi jika kita yang menciptakan cinta (cinta diciptakan), maka akan ada proses yang dijalankan bersama. Di mana proses itu mulai dari mengenal, memahami, pengertian dan saling merelakan. Kemudian setelah itu akan ada proses upaya untuk saling menjaga, memelihara, merawat dan meningkatkan rasa cinta itu. Hingga akhirnya cinta itu berada pada tingkatan yang tertinggi. Itulah kenapa cinta harus kita yang menciptakan, bukan jatuh sekejap mata.

Cinta yang jatuh terkadang terlihat terlalu emosional tetapi apabila cinta itu kita yang menciptakan akan ada upaya lebih rasional (rasionalisasi cinta) dan kerja keras untuk menumbuhkan dan mempertahankan cinta itu.

Cinta dalam Al-Quran

Dengan menggunakan bahasa lain, di dalam Al-Quran apabila kita bicara tentang cinta tidak bisa lepas dari surat Ar-Rum ayat ke-21.

Baca Juga  Islamic Worldview dalam Studi Hubungan Internasional

“Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia men-ciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”.  

Dari ayat di atas Allah Swt menyebutkan kata kasih dan sayang dengan istilah mawadah dan rahmah. Kasih dan sayang itu adalah sama-sama cinta. Tetapi Pertanyaanya, kenapa jikalau artinya sama-sama cinta harus diulang dua kali dengan dua istilah yang berbeda?, yakni dengan mawadah dan rahmah. Sampai-sampai terkadang orang kalau datang ke tempat pernikahan harapan doanya adalah ingin menjadikan keluarga yang samawa (sakinah, mawadah wa rahmah).

Sederhananya memang di dalam Al-Quran itu menyebutkan bahwa cinta itu ada dua yaitu yang disebut dengan mawadah dan dan yang disebut dengan rahmah. Lalu apa perbedaannya? Kalau mawadah adalah cinta yang bersyarat sedangkan rahmah adalah cinta yang tidak bersyarat.

Mawadah memiliki makna mahabbah. Cinta yang tergantung syarat. Kalau syaratnya terpenuhi maka cinta, tapi kalau syaratnya tidak terpenuhi maka tidak cinta. Demikian juga kalau syaratnya bertambah maka cintanya juga bertambah. Tetapi juga sebaliknya jika syaratnya berkurang maka cintanya juga berkurang. Itulah mengapa disebut sebagai cinta bersyarat atau mahabbah.

Sebagai satu contoh pada awalnya seorang cinta karena kecantikannya, tetapi seiring cantiknya mulai hilang maka cintanya juga mulai hilang. Demikian juga dengan harta atau jika cintanya karena harta. Kalau hartanya tambah maka cintanya juga bertambah tetapi jika hartanya berkurang maka cintanya juga berkurang. Karena syaratnya ada pada hartanya. Itulah sederhananya dinamakan cinta yang bersyarat atau dalam bahasa inggris disebut sebagai conditional love.

Cinta yang Tidak Bersyarat

Berbeda dengan rahmah yang diterjemahkan sebagai Asy-Syafaqah, yang artinya keperdulian atau kerelaan. Jadi cinta yang kedua ini adalah penuh dengan keperdulian dan kerelaan. Itu artinya jika sudah mengaku cinta, ya harus sampai akhir dengan cintanya itu dan tidak tergantung pada terpenuhinya syarat atau tidak. Ada yang berkata makna cinta ini disebut sebagai cinta yang tidak bersyarat atau dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah unconditional love.

Sebagai satu contoh adalah sebuah kisah yang pernah dimuat dalam media online dan ditayangkan di salah satu TV nasional. Jadi, kisahnya ada seorang bapak yang sudah memiliki empat orang anak dan istrinya sedang sakit berat katakanlah stroke. Bapak yang satu ini setiap hari yang merawat istrinya yang sedang sakit itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Dan anak-anaknya karena sudah besar serta sudah memiliki keluarga masing-masing, maka tidak sempat untuk mengurusi ibunya.

Baca Juga  Nilai Kesetaraan Perempuan dan Laki- laki dalam Islam

Sampailah pada suatu kesempatan, anak-anaknya itu memutuskan untuk bergantian dengan bapaknya agar mereka saja yang merawat ibunya. Sampailah pada sebuah dialog di mana anak-anaknya menawarkan bapaknya ini untuk menikah lagi. “Pak, bapak ini sudah tinggal menikmati masa tuanya dengan kebahagiaan, silahkan kalau bapak mau menikah lagi kami ijinkan”. Begitu kata mereka atau anak-anaknya.

****

Tetapi yang luar biasa adalah jawaban dari bapak ini yang menentukan apakah bapak ini cintanya adalah pada tingkat  mawadah atau rahmah, yakni beliau menjawab, “Nak, ibumu itu melayani bapak dan merawat kalian jauh lebih lama daripada bapak merawat ibu sekarang. Jadi biarlah bapak meneruskan merawat ibu sampai bapak tidak lagi bisa merawat ibumu”. Satu jawaban yang luar biasa sebagai bukti cinta yang tidak bersyarat. Yang kita sebut sebagai  rahmah. 

Inilah tingkatan cinta yang luar biasa, justru semakin apabila kekasih yang dicintanya sedang dalam keadaan terjatuh atau terkena musibah kita jadi semakin perduli dan merelakan diri untuk berkorban menemaninya, menjaganya dan memberikan waktu untuk terus bersamanya.

Bukan justru meninggalkan atau mengabaikannya. Itulah hakikatnya cinta yang diinformasikan di dalam Al-Quran kepada kita agar tentu saja kita memilih pada tingkatan mana cinta yang kita berikan, mawadah atau rahmah.

RASIONALISASI CINTA DALAM ISLAM (1)

Bagikan
Post a Comment