Catatan untuk Presiden
Aku berpetualang Membawa buku catatan dan kamera Melihat Indonesia Raya dari Lamongan utara, cukup jauh dari Jakarta.
Di pantai utara kita lihat ada Wisata Bahari Lamongan, Di seberang pulau, bukit-bukit penuh tanda Tanya menjulang Penanda rebah dan hilang dalam sungai coklat pekat Anak-anak santri dan jalanan lupa merekam saat menjaring ikan di dalam sejarah.
Aku berpetualang Meninggalkan pekerjaan di rumah yang perekonomian yang tetap begini saja tanpa ada kenaikan Tampak tak memiliki harapan Sekolah-sekolah indah warna dan anak-anak yang kehilangan identitas budaya menyayikan Indonesia raya.
Aku menyaksikan kontes dangdut di televisi Indonesia Kontroversi demontrasi, perdebatan hukum, inpeksi pasukan Aku membaca peresmian proyek triliyunan di surat kabar Aku mendengar siaran radio tentang pidato kemarahan presiden yang berapi-api di sini, Aku memotret dan mencatat.
Maka lihat dan bacalah sendiri, Nunukan defisit anggaran eskapator penggali batu bara Nunukan teras depan republik defisit anggaran di riuhnya perdagangan lintas Negara.
Cermati foto itu, Aku menyaksikan jalanan berlubang-lubang memanjang Persetan dengan keadilan 74 tahun Indonesia merdeka Seminggu lalu, bantuan BLT menjadi demo rakyat miskin yang tidak dapat Rakyat miskin mintak, mereka bilang rakyat kok minta-mintak
74 tahun menunggu rumah sakit yang layak, jalanan beraspal yang layak Indonesia macam apakah kita jika masih membiarkan rakyat mengeluarkan 8,5 juta rupiah dari sebuah kecamatan menuju kota kabupatennya sekedar untuk mengurus sim, ktp, surat ijin tetek bengek dan halo-halo birokrat dan politisi di warung kopi?
Ow Tuhan Jangan kau tempatkan di murkamu pejuang konfrontasi di nyala apimu Mereka berjuang mengorbankan jiwa untuk sejengkal tanah Negara kesatuan republik Indonesia Mereka tentu menitipkan merah putih berkibar di hati anak cucunya Di hati kita semua.
Pemuka-pemuka republik Jangan paksa mereka melipat bendera Lalu mengembalikannya padamu Sambil berurai air mata Sungguh mereka ingin tetap mengibarkan merah putih itu dalam rumahnya Cukuplah itu menjadi janji setia sebagai pusaka.
Presiden di Jakarta Jalan-jalanlah ke sini Lihat dari dekat Betapa mereka ingin memelukmu sambil menyanyikan lagu tanah air pusaka.
Di Lamongan utara Aku melaporkan kepadamu dengan air mata yang berurai di dalam hatiku.
Pegiat literasi dan juga Koordinator Bidang Komunikasi dan Teknologi Informasi Kwarda Hizbul Wathan Lamongan.
