f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berbakti

Rida Kepada Orang Tua Mendatangkan Rida Allah

Oleh : Khoirum Majid*

Kisah Alqamah

Alqamah adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang shaleh dan selalu berada di shaf pertama saat salat berjamaah. Ia dikenal sebagai pemuda yang baik hati kepada sesama, mudah memberi dan pandai.

Ia memiliki ibu yang selalu berada dalam seluruh perhatiannya. Semua keperluan ibunya dipenuhi. Namun semua itu berubah saat Alqamah berumah tangga. Perlahan-lahan perhatian Alqamah kepada ibunya berkurang. Ibu Alqamah ternyata menyimpan sedikit rasa sebal padanya.

Suatu ketika Alqamah mengalami sakit keras hingga datang gejala sakaratul maut. Istrinya mengirim seseorang untuk melaporkan kejadian ini kepada Nabi Muhammad.

‘Ammar, Bilal dan Shuhaib diutus Nabi Muhammad agar melihat secara langsung apa yang sebenarnya terjadi dan men-talqin Alqamah. Tak disangka, Alqamah tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah.

Seorang sahabat pun mengadukan permasalahan ini kepada Nabi Muhammad sehingga membawanya datang langsung di kediaman Alqamah.

Beliau bertanya kepada para sahabat, “Apakah di antara kedua orang tuanya masih ada yang hidup?” Seorang sahabat menjawab, “Ada wahai Nabi Muhammad. Ibunya sudah sangat sepuh.”

Nabi Muhammad meminta agar ibunya ditemui dan dimintakan untuk datang menghadap. Ibu Alqamah pun datang memenuhi undangan.

Setelah Nabi Muhammad bertanya kepada ibu Alqamah perihal anaknya, ternyata Alqamah telah melakukan perbuatan durhaka. Ketidakridaan ibunya membuat Alqamah tidak bisa mengucapkan talqin sekaligus ajalnya tak kunjung datang.

Sebab ibu Alqamah tidak mau memaafkan kedurhakaan anaknya, Nabi Muhammad hendak membakar Alqamah. Namun berkat kecintaan seorang ibu kepada anak, akhirnya Alqamah mendapatkan rida dari Ibunya dan ia dapat mengucapkan kalimat laa ilaha illallah menjelang ajalnya.

Rida Orang Tua Menghadirkan Rida Allah

At-Tirmidzi menyebutkan sebuah hadis yang sejalan dengan kisah Alqamah tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca Juga  Fatherless dalam Film Animasi Anak

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد

Artinya: Rida Rabb berada dalam rida orang tua dan kemurkaan Rabb berada dalam kemurkaan orang tua.

Jika seorang anak ingin mendapatkan keridaan Allah Ta’ala maka ia harus memastikan bahwa orang tua menganugerahkan keridaan padanya. Tentu saja dalam hal ini keridaan orang tua kepada anak tetap berada dalam bingkai ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Nabi Muhammad.

Lantas bagaimana seorang anak bisa mendapatkan keridaan orang tua?

Jika kita memperhatikan QS Al-Fajr [89]: 28, terdapat cara pandang yang ditawarkan Al-Qur’an untuk menjawab pertanyaan di atas. Ayat tersebut menyebutkan frasa raadhiyatan mardhiyyah yang berarti orang yang rida (juga) yang mendapat rida (Allah).

Jika seorang anak ingin mendapatkan keridaan orang tua maka ia harus terlebih dahulu meridai keduanya. Keridaan anak meniscayakan ketaatan dan penghormatannya kepada orang tua. Segala harta pemberian anak tidak mencukupi jasa-jasa kedua orang tua kecuali disertai ketaatan dan rasa hormat.

Kita bisa merujuk QS Al-Isra [17]: 23-25 sebagai basis keridaan kita kepada orang tua sebagaimana digariskan oleh Allah Ta’ala. Di sini penulis kemukakan terjemahan kemenag terhadap ayat tersebut agar dapat memperjelas pembahasan.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (24) Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat. (25)”

Kita dapat menggarisbawahi beberapa pesan penting dari ayat tersebut.

Pertama, perintah agar berbuat Ihsan kepada kedua orang tua. Bentuk ihsan disini adalah berbakti kepada orang tua yang dapat diwujudkan dengan perbuatan baik yang tersus-menerus, menahan diri dari gunjingan dan taat kepada keduanya.

Baca Juga  Perjalanan Spritual Ibrahim Alaihissalam (1)

Kedua, tidak mengeluh dalam memenuhi kebutuhan orang tua dan tidak membentaknya yang terutama rawan terjadi ketika orang tua beranjak lanjut usia. Ketika sudah semakin beumur dan lemah, tidak jarang orang tua harus dibersihkan kotorannya dan disucikan kembali.

Jika kedua orang tua sudah berusia lanjut Allah Ta’ala berpesan agar seorang anak mendahulukan kebutuhan-kebutuhannya, tidak merasa jemu dan menggerutu. Sebab kedua orang tua hampir tidak menggerutu dan jemu melayani anak ketika ia masih kecil, menyuapi dan membersihkan kotorannya.

Seandainya hendak menegur orang tua ketika mereka melakukan kesalahan maka hindari menggunakan nada suara yang tinggi, diksi yang tidak pantas dan sulit dicerna.

Ketiga, bersikap lunak dan lembut kepada orang tua serta mencurahkan kasih sayang kepadanya dan berdoa supaya sepanjang hidupnya selalu dalam pengampunan dan rahmat Allah ta’ala. Perlu diingat bahwa memintakan pengampunan Allah Ta’ala atas orang tua bersyaratkan ketauhidan keduanya.

Keempat, perasaan buruk dan tidak rida kepada perkatan dan /atau perbuatan dari orang tua adalah wajar dan diakui oleh Allah Ta’ala. Namun perasaan tersebut tersebut harus segera dihilangkan dan meminta pengampunan kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai ketidakridaan anak kepada orang tua meghadirkan ketidakridaan Allah Ta’ala padanya.

Allah Ta’ala mengetahui segala perasan hati anak kepada orang tua. Jika perasaan hatinya dipenuhi rasa rida, cinta dan hormat maka Allah Ta’ala akan memberinya ganjaran yang lebih baik. Namun jika perasaan hatinya dipenuhi rasa keburukan kepada orang tua maka Allah Ta’ala akan membalasanya dengan keburukan pula.

*) Penulis adalah alumni Ma’had Ar-Raudlatul Ilmiyah Kertosono

Bagikan
Post a Comment