Viennetta dan Keinginan-Keinginan Kita
Soal Viennetta, kita-kita yang lahir tahun 80-90-an punya kenangan tersendiri. Kenangan itu beragam tergantung kondisi orang tuanya saat itu. Sekedar gambaran bagi anak masa sekarang, tahun 90-an orang belum sehedon sekarang. Jajanan belum seberaneka rupa seperti saat ini. Dan tidak setiap keluarga menganggarkan untuk jajan-jajan seperti kita yang hidup saat ini.
Masa kecil saya, jajan “dine in” atau bahasa jawanya “ngiras” itu hal yang tabu, saru, dan jadi bahan olok-olok. “Welookkk, Royal” begitu rupa olok-oloknya kalau di kampung saya. Kalaupun jajan, itu pasti dibawa pulang. Pun jajanan sederhana yang dari dulu sampai saat ini masih sama murahnya: getuk, gatot, geblek, tempe benguk dll. Harus dimakan di rumah sebagai bentuk empati barangkali anak lain tak pernah jajan “Le maem neng njero! Saru!” nasehat orang tua saat itu.
Sementara sekarang, jajan sudah jadi social statement. Semua orang jajan, hanya apa yang dijajanin dan di mana jajannya itu yang bikin beda. Tergantung ekonomi dan status sosialnya. Tapi ada juga yang pansos. Kantongnya tidak mampu tapi jajannya harus yang instagrammable.
Kembali ke Es krim Viennetta, sebagian generasi 80-90-an mengingatnya sebagai momen membahagiakan keluarga bersama-sama menikmati es krim berkelas dan saat itu sangat mahal harganya. Saya rasa tidak banyak yang memiliki kenangan ini. Tidak selalu karena tak mampu beli, tapi kultur saat itu tidak seperti sekarang di mana orang terbiasa dan rela keluar uang rada banyak sekedar untuk camilan atau jajanan yang tidak mengenyangkan.
Maka di banyak kepala anak-anak 80/90-an yang saat ini telah mendewasa, kenangan akan es krim Viennetta adalah kenangan tentang keinginan. Sebagian sangat-sangat ingin hingga merengek-rengek pada orang tuanya. Sebagian berhasil mendapatkannya. Sebagian yang lain dicup-cup pake paddle pop atau populaire. Atau es campina. Sebagian yang lain sangat menginginkan tapi cukup tahu diri. Bahkan meminta saja tak berani. Tapi keinginan tak begitu mudah padam. Tetap menghayalkan akan mendapatkannya suatu saat nanti, setiap kali iklan Viennetta lewat, saat nonton TV yang mungkin numpang TV tetangga.
Lalu berbulan lalu, dua puluh sekian tahun sejak kita merasakan nyeseknya menginginkan sesuatu yang mungkin nggak akan pernah kita dapatkan Viennetta datang kembali. Datang pada saat kita sudah lupa bahwa kita pernah sangat sangat menginginkannya. Dengan harga yang mungkin jika dikurs dengan harga saat itu tidak jauh beda, tapi karena kondisi kita sudah membaik, dan karena kita sudah sering jajan, Viennetta yang tadinya sama sekali tak terjangkau menjadi seperti sangat mudah kita jangkau. Beberapa dari kita membelinya untuk memuaskan rasa penasaran selama dua puluh tahunan. Tapi banyak dari kita hanya tersenyum saat melihatnya di minimarket, sambil mengenang bagaimana dulu pernah sangat menginginkannya. Meski kini viennetta sudah menjadi sangat terjangkau, tapi rasa ingin itu sudah tak ada lagi.
Begitulah kita dengan keinginan-keinginan kita. Mungkin banyak hal yang sangat-sangat kita inginkan tapi tak terjangkau untuk kita. Seberapapun kita berusaha dan berdoa. Lalu setelah sekian waktu, ketika Tuhan jadikan apa yang pernah kita inginkan itu menjadi sangat mudah untuk kita jangkau, kita sudah tidak menginginkannya lagi.
Maka tentang hal-hal yang kita inginkan hari ini, yang kadang menyesakkan dada, mungkin hanya butuh sedikit kesabaran. Lantas mempercayakan pada waktu yang nantinya akan membuktikan, apakah Tuhan akan menjadikannya terjangkau dan menjadi milik kita, atau Tuhan jadikan kita lupa pernah begitu menginginkannya. Untuk Vinetta, butuh 25 tahun kurang lebih, dan waktu itu kita sabar-sabar saja. Begitu pula seharusnya dengan keinginan-keinginan kita hari ini. Tak semuanya akan berjalan sebagaimana kita ingini, tapi semuanya pasti akan baik-baik saja pada akhirnya.
