f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tega

Anak “Tawanan Perang” yang Gandrung Buku

…

Saya di sekolah dasar (SD) tempat bekerja diberi amanah tambahan sebagai pengajar ekskul menulis. Kegiatannya menulis cerpen, pantun, dan puisi.

Kegiatannya menulis setiap jam ekskul itu berlangsung. Kadang-kadang bila bosan menulis cerpen-pantun-puisi, anak-anak saya ajak menulis surat cinta untuk mister presiden. Juga untuk siap saja.

Saya bilang. “Jika kalian punya uneg-uneg ataupun sanjungan kepada Pak presiden silakan tulis, Nak. Anggap seakan-akan suratmu malam nanti pasti sampai dan dibaca Pak presiden.” Anak-anak girang dibuatnya.

Anak-anak murid senang dengan begitu. Saya pun senang. Setiap tahun dari ekskul ini saya ajak anak-anak berkarya dan saya jadikan buku antologi–resmi berISBN.

Saya punya pengalaman manis dengan banyak anak murid ekskul ini. Dulu (2018) ada salah satu peserta/anak murid yang sangat luar biasa–yang lain juga hebat-hebat, sih. Namun yang satu ini lebih.

Namanya Al, Riski Al-Falah lengkapnya. Anak kelas 4 ini sangat gandrung buku. Tiada hari tanpa membaca buku. Kalau jalan-jalan pulangnya wajib memborong buku.

Anda akan terkejut bila saya beri tahu berapa buku atau berapa biaya yang dikeluarkan setiap belanja buku. Saya loh terkejut awalnya.

Al selalu memborong puluhan buku dan menghabiskan jutaan rupiah setiap kali belanja. Kalau jalan-jalan pulang mesti mampir dan belanja buku.

Rumah si Al laksana perpus. Di ruang keluarga ada perpusnya, di dapur ada mini perpus, di kamar sudah jelas ada perpusnya, di teras ada perpus dan di loteng juga ada. Lebih persis gudang buku sih. Jadi rumah itu sudah sesak dengan buku. Buku di mana-mana. Sang empunya sangat cinta buku. Buku sains, komik, agama, sastra dan buku perang dunia yang paling favorit.

Baca Juga  Child Grooming Bukan Cinta yang Tak Memandang Usia

Dulu, bocah 10 tahun yang berkacamata tebal itu sebenarnya baru tiga kali ikut ekskul nulis sama saya. Tapi saya ajak dia ikut lomba cerpen tingkat Kota Suranaya. Alhasil ahamdulillah si Al juara harapan 1. Waow, itu prestasi keren. Idenya keren dan penuh kejutan. Mestinya dia juara 1. Sayang dia kalah kaidah penulisannya. Kalau idenya jelas juara.

Saya penasaran kok ada anak “unik” di zaman “edan” macam ni. Saya tanyai Bundanya.

“Nak Al itu anak yang cerdas, Bun. Apa rahasianya?” Saya bertanya di suatu waktu.

“Ah si ustadz berlebihan. Dia mah begitu-gitu aja anaknya.”

“Bunda jangan merendah begitu. Nak Al apa nggak makan nasi, Bun? Kok gemilang di pelajarannya, juga bagus agama dan akhlaknya?”

“MasyaAllah. Ya makan nasi lah Ustadz. Njenengan baik banget ustadz, sudi menyanjung sedemikian tinggi. Anak saya biasa aja. Alhamdulillah anak tunggal yang dianugerahkan Allah kepada kami.”

Sang Bunda Al tak mau selesai tersenyum malu lalu mengalihkan pandangan ke seantero. Saya merasa tidak enak juga karena mengajak beliau ngobrol sambil berdiri di halaman sekolah.

“Iya bunda apa sih rahasianya?” Sebenarnya saya sudah banyak diceritai si Al tapi tak salah juga kan bila mendengarkan langsung dari orang tuanya.

“Alhamdulillah Al anugerah terbaik dari Allah, tadz. Dia penurut sejak kecil. Tak neko-neko dan tak membuat saya dan Ayahnya stres.”

“Itu gimana jenengan mendidknya, Bun?”

“Sejak usia 2 tahun saya sibukkan dia dengan buku tadz. Mau tidur saya bacakan buku. Mau makan saya ajak membaca buku. Mau main ya main sama gambar-gambar lucu di buku. Pokoknya bukuuuuu terus. Awalnya saya beli buku di pasar buku loak. Tapi tak lama saya mikir takut bukunya jamuran maka kami belikan yang baru. Ya begitu tadz.”

Baca Juga  Anak dan Pilihan Karir Masa Depan

“Keren Bun. Jadi sejak itu dia suka buku?”

“Iya betul. Tiada hari tanpa buku. Hanya membaca dan melihat gambar-gambarnya. Semua buku dibaca. Koleksi novel saya pun dibaca. Koran majalah ayahnya dibaca. Buku sains dan yang ilmiah-ilmiah dibaca. Sekarang dia suka baca buku perang yang Bahasa Inggris. Saya saja nggak paham tadz. Hee.”

“Iya Nak Al banyak cerita tentang Hitler juga perang Prancis sama saya, Bun. Kadang menjelaskan kenapa awan bergumpal lalu kenapa ada hujan dan pelangi. Hehe.” Masih penasaran saya tanyai terus. “Apa Al nggak jenengan beri HP, Bun? Game di komputer mungkin?”

“Hee. Alhamdulillah dia nggak mau dan nggak suka, ustadz. HP, laptop, TV kabel lengkap sebenarnya di rumah tapi dia abaikan saja. Sejak kecil memang saya doktrin dia bahwa HP bukan buat main. Itu buat komunikasi dengan Ayahnya yang kerja di luar kota, dengan sanak sudara dan handai tolan.”

“Hebat, Bun. Terus-terus, Bun?” Saya asli-asli kepo.

“Alhamdulillah Kak Al nggak suka HP, baik main game atau youtube-an, tadz. Dia baca buku saja tadz.”

“Apa dia nggak bosan ya, Bun?”

“Kami dukung dia sekuat tenaga, Tadz. Kami manjakan dia sama buku. Berapapun saya belikan. Saya yakin buku adalah pusatnya ilmu, tadz. Saya rasa usianya yang masih suci harus banyak berkawan dengan buku juga dengan hal-hal baik. Saya tidak ingin tidak ridha tidak ikhlas kalau Al menuntaskan masa kanak-kanaknya dengan sia-sia. Makanya sekuat tekat saya mau Al Falah sibuk dengan buku, dengan membaca, dan bersahabat dengan ilmu, tadz.”

“Kalau ngajinya (alQuran) gimana, Bun?”

“Alhamdulillah dia hafal Juz 30 dan sekarang ngafalin juz 1. Kalau ngaji dia baca berlama-lama dengan terjemahnya juga, tadz.”

Baca Juga  Pandemi Masih Berlangsung, Apa Kabar Kesejahteraan Anak?

“Alhamdulillah. Tabarakallah, Bun.”

“Aamiin yaa Allah.”

“Bunda hebat betul. Juga Bapak pasti hebat.”

“Tidak, tadz. Ini hanya ihtiyar kami. Kami takut diadzab Allah kalau meninggalkan keturunan yang lemah iman dan ilmunya tadz. Makasih loh, tadz atas bimbingannya pak Ustadz.” Si Bunda Al menangkupkan dua tangannya di dada. Saya membalas.

“Mohon maaf, Bun. Jelas jenengan dan Bapak yang berhasil mendidik Nak Al. Saya nggak berjasa apa-apa.”

“Pak Ustadz baik bener, ah. Ya berkat jenengan juga, tadz.”

Saya melepas senyum saja buat si Bunda. Lalu dibalasnya dengan tulus.

Si Bunda dan si Bapak Al telah sukses mengamalkan konsepsi Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam mendidik anak. Mereka menjadikan Al sebagai “tawanan perang” yang gandrung buku. Selamat Nak Al. Selamat Bunda, Bapak. Kalian luar biasa. Salut.

Anak kita usia 7 tahun kedua dididik bagaimana, Ayah, Bunda?

Semoga bermanfaat.

…
Pamekasan, 1 Juni 2020

Bagikan
Post a Comment