f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Rumah Idaman Setiap Insan

oleh: Miftachul W. Abdullah*

“Rumahmu tak akan menjadi sebuah sangkar, melainkan tiang utama sebuah kapal layar.” -Khalil Ghibran

Samudera yang luas, yang penuh dengan hantaman ombak yang keras, terpaan badai yang sewaktu-waktu datang menyerbu, tentu ia menghendaki sebuah kapal yang terbaik. Yang terbuat dari bahan-bahan terbaik, perlengkapan terbaik, juga awak kapal dan nahkoda yang terbaik.

Namun, kapal akan hancur dan karam di tengah samudera, manakala itu hanyalah kapal yang tidak disiapkan, atau, tidak maksimal dalam mempersiapkan. Bisa-bisa, kapal tidak kuat akan serangan dan hantaman badai. Semua itu, bergantung dari siapa perancang dan pembuat kapal itu? Siapa awak kapalnya? Siapa Nahkoda kapalnya?

Bahan Membangun Kapal   

Rahmania, menikah bukan karena kebutuhan biologis. Dikatakan menikah adalah ibadah, karena padanya, ada pahala, ada juga dosa jika salah menjalaninya. Maka, ketika membangun sebuah kapal, kita harus mempersiapkan sedemikian rupa bahan-bahannya. Tentunya, dengan bahan yang terbaik, baik itu agamanya, akhlaknya, pengetahuannya, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Andai saja kapal itu terbuat dari bahan-bahan yang kurang baik, entah itu agama, akhlak, dan pengetahuannya. Mungkin ia akan menjadi sebuah kapal yang mudah terombang-ambing. Tidak memperhatikan batasan-batasan dalam berlayar. Atau bahkan, sekedar, ia merasa kapalnya yang paling baik di Samudranya, tetapi nyatanya ia telah mengabaikan hakikatnya dan melalaikan Rabbnya.

Saya jadi teringat dengan cerita si pembuat kapal Titanic. Dengan keangkuhannya, ia mengatakan, ‘Bahkan Tuhan pun tak akan mampu menenggelamkan kapal ini.’ Padahal, sombong dan angkuh adalah perbuatan yang tidak disukai Allah.

Semoga Rahmania terhindar dari perilaku yang demikian, termasuk ketika akan memilih bersama siapa kita membangun kapal. Sebab fenomena yang ada, banyak muda-mudi yang ketika memilih pasangannya hanya berdasar dari penilaian yang tampak mata. Tidak menyiapkan bahan-bahannya dengan maksimal. Terlebih urusan agama.

Baca Juga  Gen Z Mengembangkan Cara Pola Asuh pada Anak

Menikah Karena Agamanya

Banyak di antara mereka lebih memilih kecantikan atau ketampanan, dan menakar seberapa banyak jumlah harta yang dimilikinya. Atau istilah yang kita kenal adalah kemapanannya, mapan masa depannya. Padahal, mapan dan tidaknya hidup itu dapat dinilai dengan banyak hal dan dirasakan oleh hati. Bukan mata dan telinga.

Tersebab keangkuhan itu, nasehat Rasulullah untuk memilih berdasar agamanya menjadi terabaikan. Padahal, apabila kita mengikuti nasehat Nabi, kita akan terhindar dari fitnah. Misalnya, “Ah, nanti kita bisa kok belajar agama bersama-sama’ tetapi qadarullah, gemerlapnya dunia menyilaukan pandangannya, kesibukan kerja melupakan dia dari ibadahnya. Lalu perlahan terkikis imannya.”

Iman yang bagai ombak itu, adakalanya pasang, adakalanya surut, maka kita membutuhkan rembulan yang selalu menghadirkan ombak pasang. Rembulan yang semestinya kita hadirkan adalah ibadah-ibadah dan kebaikan. Seringkali kita salah, bukan menghadirkan rembulan purnama, melainan gerhana bulan total.

Agar Menjadi Rumah Idaman

‘Rumahku surgaku’ adalah benar adanya. Tidak hanya sekedar ungkapan mesra dari seorang pengantin baru yang sedang berbunga-bunga. Surga adalah apa-apa yang indah lagi menyenangkan. Tapi tak semudah itu kan membuat suasana surga dirumah kita?

Membangun rumah surga perlu disiapkan sejak belia oleh keluarga. Seorang anak dididik dan dibina agar kokoh iman dan jiwanya. Peran orangtua sangat penting kelak untuk pondasi rumah anak-anaknya. Jangan sampai salah melatakkan pondasi dihatinya.

‘Hidup tidak sekedar hidup. Karena babi di hutan pun juga hidup.’ Begitu kata Buya Hamka. Maka hati-hati dalam menanamkan ambisi dan cita-cita anak sejak belia. Salah menanam, maka berdampak buah yang dihasilkan. Tidak akan kamu dapatkan buah Apel, jika yang kau tanam adalah padi.

Baca Juga  Para Kartini di Pabrik-Pabrik Mayong

Oh, betapa beruntungnya yang memiliki rumah idaman. Rumah yang di dalamnya di penuhi ibadah dan kebaikan-kebaikan. Setiap yang dilakukan bernilai ibadah. Setiap yang dikerjakan berasa ringan dan penuh kenikmatan. Dan, setiap hari disibukkan dengan visi-visi surga dan misi-misi ukhrawi.

Oh, betapa inginnya kita menjadi penghuni rumahNya. Kelak di dalamnya, ada seorang anak-anak yang menangis bukan karena iri dengan mainan baru milik teman-temannya. Tetapi menangis karena iri dengan temannya yang sudah lebih dulu hafal qur’an.

Betapa bahagianya, ketika sang istri dapat membelanjakan harta keluarga dengan baik, membelanjakan dengan memprioritaskan untuk urusan surga. Betapa bahagiannya, ketika sang suami sebelum pergi bekerja di bisiki mesra, ‘Mas, aku mampu menahan lapar dunia. Tetapi aku tak mampu menahan panasnya api neraka. Bawalah yang halal, tinggalkan yang haram.’

Betapa bahagiannya, ketika kelak sang suami adalah seorang pengganti ayah yang melindungi dan menafkahi. Menjaga keluarga dari panasnya api neraka, dan meneduhkan bagaikan teduhan-teduhan pohon di dalam surga.

Kebahagian-kebahagian itu ada karena Allah benar-benar menurunkan berkahnya pada seluruh penghuni kapalnya. Dan, mempertemukan awak kapal dengan nahkoda kapal yang sama-sama taat dan tunduk pada Rabbnya, Allah Sang Maha Cinta.

*Penulis Buku Maharku Untukmu; Mudah, Berkah, Sah

Bagikan
Post a Comment