Tiga ”Kata Sakti” dari Orang Rendah Hati
Oleh: Achmad Santoso*
Mungkin sudah banyak yang tahu dan membahas topik ini. Namun, tidak ada salahnya jika dibicarakan kembali. Terutama ditinjau dari sudut pandang tindak tutur dalam kajian sosiolinguistik.
Judul di atas sebetulnya mengelipsis kata setidaknya, sedikitnya, atau sekurang-kurangnya. Jadi, jika ditulis secara utuh menjadi: Setidaknya Ada Tiga ”Kata Sakti” dari Orang Rendah Hati. Namun, demi keindahan artikulasi, adverbia itu dilesapkan. Sebab yang lain, tiga ”kata sakti” ini memang sulit keluar dari mulut orang yang tidak memiliki sikap rendah hati.
Yang perlu digarisbawahi lebih dulu, rendah hati berbeda dengan rendah diri. Rendah hati mengandung energi positif, sedangkan rendah diri sebaliknya, negatif. Salah satu definisi menyebutkan, rendah hati adalah sikap hati yang memiliki fakta kelebihan diri, tapi hal itu tidak membuatnya merendahkan dan mengecilkan orang lain. Rendah hati itu humble, sederhana. Buya Hamka menyatakan bahwa orang yang rendah hati tidak mudah mencampuri urusan yang tidak ia pahami.
Rendah diri, atau bahasa lainnya minder, adalah kondisi jiwa yang menempatkan diri sendiri pada posisi lebih rendah daripada orang lain karena beberapa hal. Orang rendah diri akan senantiasa dihantui rasa tidak pantas, tidak layak, tidak percaya diri, malu, dan energi negatif yang lain.
Perbedaan lainnya, rendah hati berlawanan dengan sombong, angkuh, tinggi hati. Di sisi lain, rendah diri berantonim dengan percaya diri. Dalam kebudayaan Jawa, rendah hati atau orang yang tidak menyombongkan diri disebut andhap-asor. Dalam jiwa orang yang rendah hati sudah tertanam sikap respek dan hormat. Oleh sebab itu, tiga kata ini akan terbiasa meluncur dari orang yang rendah hati.
Tolong
Dalam kajian sosiolinguistik dikenal istilah tindak ilokusi (di samping lokusi dan perlokusi). Penutur menghendaki mitra tutur melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu pula. Tindak tutur ini dapat dikatakan sebagai the act of doing something. Meminta tolong adalah bagian dari tindak tutur direktif, yaitu agar mitra tutur melakukan suatu tindakan.
Menurut Esther Kuntjara, tindak tutur memohon atau meminta tolong seseorang untuk melakukan sesuatu dalam berkomunikasi bisa digolongkan sebagai bentuk strategi bersopan santun. ”Tolong bukakan jendela itu” akan terdengar lebih sopan daripada ”Bukakan jendela itu”. Memang ada yang bilang bahwa bentuk yang lebih sopan ialah permohonan yang disampaikan secara tidak langsung. Pendapat tersebut diutarakan Leech. Misalnya, ”Sungguh panas udara di sini. Sedikit udara masuk akan sangat menyejukkan.” Namun, ujaran tidak langsung ini rawan tidak berjalan efektif apabila mitra tutur kurang peka.
Blum Kalka juga tidak sependapat bahwa kesopanan dalam memohon ditentukan oleh permohonan secara tidak langsung. Kalangan ini menganggap permohonan yang jelas adalah bagian dari kesopanan. Maka, lanjut Blum Kalka, tindakan yang sopan dalam permohonan harus mengandung unsur keseimbangan antara kejelasan isi dan unsur tidak memaksa.
Nah, tolong adalah peranti penyeimbang itu. Dengan menggunakan kata tolong, seseorang merasa tidak lebih hebat dari mitra tutur dan apabila tidak terpenuhi ia juga tak kecewa. Singkatnya, dalam kata tolong ada unsur tidak memaksakan kehendak. Dengan meminta tolong kepada orang lain, seseorang merasa andhap-asor. Maka, jangan lelah menyertai ”kata sakti” tolong setiap kali meminta bantuan orang lain, apalagi kepada orang yang lebih tua.
Terima Kasih
”Kata sakti” yang kedua adalah terima kasih. Terima kasih merupakan tindak tutur ilokusi ekspresif, yaitu bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan.
Terima kasih bisa berfungsi untuk menghargai bantuan seseorang, bisa pula sebagai bagian dari cara membalas sebuah pujian. Kata terima kasih terdengar mudah, remeh, tapi sangat mungkin sulit untuk sekadar diucapkan bagi orang yang sombong atau tinggi hati. Bukannya menyampaikan terima kasih, orang yang sombong atau tinggi hati malah mengalihkannya menjadi: oh, gitu; baiklah; oke; iya; siap.
Seorang atasan yang rendah hati tidak akan sungkan-sungkan bilang terima kasih kepada karyawannya apabila mereka berhasil membantu sang pimpinan. Seorang ayah/ibu mesti mengajari anaknya bilang terima kasih bukan hanya melalui lisan, melainkan juga ucapan langsung. ”Terima kasih, Nak, telah membantu pekerjaan ayah.” ”Terima kasih, Nak, sudah bantu cuci piring.” Sederhana, tapi sarat makna.
Maaf
Satu lagi ”kata sakti” yang, barangkali, paling sukar diucapkan: maaf. Meminta maaf juga bagian dari tindak tutur ekspresif. Holmes mengatakan bahwa memohon maaf bisa digolongkan dalam sopan santun berbahasa yang dipakai seseorang untuk memuaskan orang yang merasa dirugikan oleh perbuatan si penutur. Tujuannya, menciptakan suasana damai.
Akan tetapi, maaf membutuhkan keikhlasan luar biasa bagi penuturnya. Banyak yang menganggap permohonan maaf itu tanda kekalahan, kelemahan, dan ketidakberdayaan. Dalam diri orang takabur inilah sulit keluar ucapan maaf. Bagi mereka, lanjut Holmes, ucapan maaf akan menurunkan status satu tingkat.
Dalam percaturan politik, ”kata sakti” ini jarang keluar. Setidaknya, tidak akan keluar secara eksplisit. Kita masih ingat betul bagaimana seorang Arteria Dahlan, politikus muda temperamental itu, berperilaku tidak sopan terhadap tokoh senior Emil Salim dalam serial Mata Najwa Oktober 2019 lalu. Di video itu terang sekali perilaku sang politikus yang berkali-kali menyela pembicaraan Emil Salim. Bahkan dia sempat menunjuk-nunjuk dan mengatakan guru besar UI tersebut sesat. Tak ada penyesalan dan permohonan maaf sesudahnya. Memang sudah wataknya politikus enggan mengakui kekalahan dan karena itu meminta maaf.
Baru-baru ini juga sedang ramai somasi Muannas Alaidid terhadap jurnalis senior Farid Gaban. Teten Masduki sebagai sasaran kritik Farid Gaban sejatinya tidak mempersoalkan kritik itu. Dia juga tidak tahu-menahu perihal somasi Muannas Alaidid. Akan tetapi, dasar watak politikus, somasi itu tidak akan ditarik. ”Saya tidak akan cabut,” katanya. Teten Masduki, sebagaimana diungkap Farid Gaban di status Facebook-nya, sudah berkomunikasi dan justru mengapresiasi. ”Intinya, dia (Teten) berterima kasih atas kritik saya; dan saya berterima kasih atas tanggapan dia,” tulis Farid Gaban. Jadi, kalau yang dikritik saja menerima, kenapa si politikus yang ”kebakaran jenggot”?
Padahal, meminta maaf dapat meminimalkan, bahkan bisa menghilangkan, permusuhan di antara kedua pihak yang berseberangan atau bermusuhan. Meminta maaf sejatinya membuat kita semakin mulia. Bukan hanya kepada manusia, melainkan juga di sisi Tuhan. Maka, salah satu sifat Allah itu maha pemaaf. Ucapkanlah maaf dalam keadaan apa pun: berbuat salah, menyinggung perasaan, menyusahkan teman, dan hal-hal yang bikin orang lain tidak senang.
Tolong, terima kasih, dan maaf adalah tiga ”kata sakti” yang akan begitu mudah meluncur dari mulut orang yang rendah hati, tapi tidak untuk orang yang tinggi hati.
*Penulis adalah Editor Jawa Pos, Pegiat JIMM

Editor Jawa Pos, Pegiat Jaringan Intelektual Muhammadiyah.
