f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
isolasi mandiri

Menuju Kehidupan New Normal

Oleh : Arif Jamali Muis*

Istilah new normal mulai muncul ke permukaan bersamaan dengan Presiden Jokowi mengungkapkan genjatan senjata dengan Covid-19, ya berdamai dengan Covid-19.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan maksud Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat berdamai dengan virus corona (Covid-19) yang masih mewabah Indonesia dalam dua bulan terakhir.  Bey mengatakan, maksud berdamai dengan corona sebagaimana dikatakan Jokowi itu adalah menyesuaikan dengan kehidupan. Artinya masyarakat harus tetap bisa produktif di tengah pandemi Covid-19. Suara istana tersebut mengindikasikan bahwa walaupun virus ini semakin menyebar dan korban yang terjangkit semakin banyak, masyarakat tetap diperbolehkan untuk aktif normal seperti biasa dengan menerapkan protokol kesehatan, inilah yang kemudian disebut oleh pemerintah sebagai new normal.

Menurut pemerintah perputaran ekonomi sangat penting karena menyangkut kehidupan rakyat banyak terutama masyarakat kecil, lalu bagaimana dengan adanya Covid-19 yang mengancam. Dalam prespektif pemerintah ya harus berdamai dengan ancaman Covid-19. Berdamai dengan cara menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Maka dalam kehidupan new normal ekonomilah yang utama sedangkan kesehatan dan keselamatan sebagai warning, oleh karenanya ke depan akan banyak protap atau SOP yang akan dibuat dan diterapkan, misalkan bagi yang suka nonton bioskop akan diterapkan nonton bioskop dengan SOP atau protokol new normal, bagi yang suka jalan ke mall, makan bersama teman-teman, nongkrong akan diterapkan protokol kesehatannya, dan jika ada yang terkena virus dipastikan mereka tidak menerapkan protokol kehidupan new normal.

Timeline Menuju New Normal

Proposal berdamai dengan Covid-19 dalam aspek ekonomi diajukan oleh menteri koordinator perekonomian dengan beberapa fase.

Fase 1 (1 Juni 2020)

  • Industri dan Jasa Bisnis ke bisnis (B2B) dapat beroperasi dengan social distancing, persyaratan kesehatan, jaga jarak (termasuk pakai masker)
  • Toko, pasar, dan mall belum boleh beroperasi dikecualikan untuk toko penjual masker dan fasilitas kesehatan
  • Sektor kesehatan full beroperasi dengan memperhatikan kapasitas sistem kesehatan
  • Kegiatan lain sehari-hari outdoor, untuk dilarang berkumpul ramai (maksimal 2 orang di dalam suatu ruangan), belum diperbolehkan olahraga outdoor.
Baca Juga  Tetap Membahagiakan Anak Sekolah di Masa Pandemi

Fase 2 (8 Juni 2020)

  • Toko pasar, dan mall diperbolehkan pembukaan toko-toko tanpa diskriminasi sektor (protokol ketat). Meliputi pengaturan pekerjaan, melayani konsumen, dan tidak diperbolehkan toko dalam keadaan ramai.
  • Usaha dengan kontak fisik (salon, spa, dan lain-lain) belum boleh beroperasi
  • Kegiatan berkumpul ramai dan olahraga outdoor masih belum diperbolehkan.

Fase 3 (15 Juni 2020)

  • Toko pasar, dan mall tetap seperti pada fase 2. Namun ada evaluasi untuk pembukaan salon, spa, dan lain-lain dengan protokol kebersihan ketat.
  • Kegiatan kebudayaan diperbolehkan dengan menjaga jarak. Contoh kegiatan kebudayaan tersebut, antara lain pembukaan museum, pertunjukan dengan tidak adanya kontak fisik (tiket jual online), dan menjaga jarak.
  • Kegiatan pendidikan di sekolah sudah boleh dilakukan, namun dengan sistem shift sesuai jumlah kelas
  • Olahraga outdoor diperbolehkan dengan protokol.
  • Sudah mulai mengevaluasi pembukaan tempat untuk pernikahan, ulang tahun, kegiatan sosial dengan kapasitas lebih dari 2 – 10 orang.

Fase 4 (6 Juli 2020)

  • Pembukaan kegiatan ekonomi seperti di fase 3 dengan tambahan evaluasi.
  • Pembukaan secara bertahap restoran, kafe, bar, tempat gym, dan lain-lain dengan protokol kebersihan yang ketat
  • Kegiatan outdoor lebih dari 10 orang
  • Travelling ke luar kota dengan pembatasan jumlah penerbangan
  • Kegiatan ibadah (Masjid, Gereja, Pura, Vihara, dan lain-lain) sudah boleh dilakukan dengan jumlah yang dibatasi
  • Kegiatan berskala lebih dari yang disebutkan masih terus dibatasi.

Fase 5 (20 dan 27 Juli 2020)

  • Evaluasi untuk Fase 4 dan pembukaan tempat-tempat atau kegiatan ekonomi lain dalam skala besar
  • Akhir Juli/awal Agustus diharapkan sudah membuka seluruh kegiatan ekonomi, namun tetap mempertahankan protokol dan standar kebersihan dan kesehatan yang ketat
  • Selanjutnya akan dilakukan evaluasi secara berkala, sampai vaksin bisa ditemukan dan disebarluaskan.

Awal Agustus menurut pemerintah kita sudah masuk dalam kehidupan new normal. Ada beberapa catatan saya menuju kehidupan new normal tersebut

1. Pemerintah kelihatannya hanya fokus pada roda perekonomian dan ada kesan terpaksa untuk menjalankan roda perekonomian mungkin ditekan oleh pembisnis kelas kakap, ini terlihat dari kocar-kacirnya koordinasi di pemerintah. Harusnya selain timeline perekonomian yang diungkapkan tersebut pemerintah menyertakan kajian epidemologi versi pemerintah, seperti apa kurva perkembangan Covid-19 ini, bagaimana peta penyebarannya dan apa tindakan pemerintah dalam penghentian Covid-19 ini agar inline dengan tahap fase perekonomian menuju new normal tersebut. Sependek pengetahuan saya, kita belum menemukan kajian epidemologi versi pemerintah yang menyakinkan untuk menuju new normal, jangan sampai logika yang dikembangkan asal pokoknya perekonomian berjalan tanpa ada pertimbangan Covid-19, dan mengatakan kurva Covid-19 harus turun di bulan mei, karena kalau ini terjadi logika pokoknya maka masyarakatlah yang akan dirugikan apalagi ada ungkapan jika masyarakat terpapar Covid-19 merupakan kesalahan sendiri karena tidak mengikuti protokol kesehatan.

2. Kehidupan new normal di masa pandemi Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat bukan berarti masyarakat bebas dari Covid-19, karena protokol kesehatan hanya memperkecil kemungkinan terpapar Covid-19, oleh karenanya pemerintah yang telah berencana bulan Agustus membuka keseluruhan roda ekonomi harus juga menyiapkan fasilitas kesehatan dari puskesmas hingga rumah sakit, termasuk di dalamnya tenaga kesehatan. Jika banyak masyarakat yang terinfeksi Covid-19, rumah sakit sudah sangat siap menangani dan masyarakat merasa aman karena jika mereka sakit pasti tertangani dengan baik. Jika fasilitas kesehatan pemerintah tidak memadai dan banyak yang terpapar bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi. Di sinilah letak tanggung jawab pemerintah sebagai pemegang amanat rakyat, yang bertugas melindungi segenap warga negaranya termasuk dari ancaman Covid-19.

Baca Juga  Kenapa Sekolah Belum Dibuka Pak?

3. Kehidupan new normal di masa Covid-19 ini menuntut kesadaran tinggi dari masyarakat, harus ada budaya baru dari masyarakat, tidak bisa lagi masyarakat kita pola kehidupannya sama seperti sebelum wabah Covid-19, masyarakat harus merevolusi kehidupan karena ancaman Covid-19 ini nyata ada disekitar kita, dan keselamatan masyarakat sangat tergantung pada diri masyarakat sendiri.

Selamat datang di kehidupan new normal versi negara +62, semoga masyarakat selalu sehat. Walahualam bishowab.

*) Arif Jamali Muis; Relawan Muhammadìyah Covid-19 Command Center/Wakil Ketua PWM DIY

Bagikan
Post a Comment