f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
wanita

Alah Bisa karena Biasa: Tentang Komentar Seksis Sehari-hari

Oleh: Achmad Santoso*

Magdalene, sebuah majalah daring independen yang fokus pada narasi isu-isu gender, pernah menerbitkan video pendek berjudul Madge Series #1 – 5 Komentar Seksis Sehari-hari. Isinya komentar-komentar, malah lebih tepat disebut nyinyiran, yang galib kita lihat, alami, bahkan lakukan sehari-hari. Baik kepada perempuan sebagaimana yang umumnya terjadi maupun kepada laki-laki yang jarang kita bahas.

Di wilayah perempuan, dari pertanyaan ”Kapan kawin?”, ”Cewek tuh harus bisa masak”, hingga ”Cewek jangan bilang kasar”. Di domain laki-laki, ada ”Laki-laki kok dandan, kayak cewek aja” sampai ”Cowok kok nggak ngerokok, kayak cewek aja”. Bagaimana dialog utuh dalam video tersebut?

Kapan Kawin

”Eh, Elma kan?
”Iya.”
”Kamu yang dapat S-2 kan ya?”
”Iya dong.”
”Wah hebat. Nikah kapan nikah?”
”Nggak tahu.”
”Cepetan atuh, nanti kamu keburu kedaluwarsa.”

Dialog seperti di atas bukanlah barang baru. Kita bisa menemuinya kapan saja dan di mana saja. Di momen Lebaran apalagi. Ketika berhalalbihalal, hampir selalu ada saudara yang menanyakan kapan menikah. Terutama kepada perempuan yang menurutnya sudah berusia cukup. Ehm, untunglah tahun ini mudik dilarang dan karena itu meminimalkan acara halalbihalal…

Manusia memanglah diciptakan berpasang-pasangan, sebagaimana ciptaan Allah lainnya. Dalam surah Ad Dariyat ayat 9 ditakwilkan bahwa segala sesuatu memang diciptakan berpasang-pasangan: langit dan bumi, surga dan neraka, siang dan malam, laki-laki dan perempuan. Tapi, urusan jodoh tentu ada di tangan Allah SWT. Manusia hanya bisa berikhtiar.

Maka, komentar-komentar berbentuk nyinyir, yang cenderung ke arah perisakan, termasuk perbuatan tercela dan bisa saja digolongkan ke hate speech. Alangkah arifnya jika kita mendoakan seseorang yang belum memiliki jodoh. Kalau perlu, membantu mencarikannya. Jadi makcomblang, misalnya. Jika tak bisa kedua-duanya, lebih baik diam. Bukankah Rasulullah telah memerintahkan yang demikian itu. ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau ia diam.” (Muttafaq alaih: Al Bukhari No 6.018; Muslim No 47).

Cewek Harus Bisa Masak

Baca Juga  Rabi'ah Al-Adawiyah, Teori Cinta Ilahi dan Konsepnya dalam Tasawuf (1)

”Udah jam segini nih, maksi (makan siang) yuk.”
”Aku pesen dulu deh.”
”Pesen lagi? Pesen mulu. Gue aja masak sendiri. Nih bawa bekal, tinggal diangetin.”
”Kan sekarang udah bisa pesen pakai aplikasi-aplikasi.”
”Cewek itu harus bisa masak, tahu! Latihanlah masak tiap hari, biar suami happy.”

Komentar seksis bias gender lainnya adalah ”Cewek harus bisa masak”. Ini pernyataan yang cukup problematis dan amat rawan diperdebatkan. Jika mengacu pada dialog di atas, lagi-lagi ada seseorang yang memasuki wilayah privasi lawan tutur. Memasuki pribadi manusia. Itu poin pertama.

Yang kedua, stereotip bahwa perempuan adalah tukang masak sudah usang. Faktanya, tidak sedikit pula laki-laki yang lihai memasak, bahkan pada kondisi tertentu lebih mahir daripada perempuan. Di warung nasi goreng, di rombong tahu telur, di lapak martabak, mayoritas penjajanya adalah laki-laki. Bahkan, di era modern koki laki-laki lebih melimpah daripada chef perempuan.

Ini serupa dengan fakta tukang potong rambut. Dulu, tukang cukur rambut identik dengan laki-laki. Seiring perkembangan zaman, profesi ini jadi lintas gender. Di lapak potong rambut-potong rambut tradisional mungkin masih kita temui pekerja laki-laki. Namun, lain halnya dengan barber shop. Akan kita temui di sana para pekerja perempuan. Maka, seperti halnya memasak, tidak ada demarkasi pada profesi tukang potong rambut.

Cewek Dilarang Ngomong Kasar

”Gila, males banget deh ini. Cewek ngomongnya kasar.”

Pada dasarnya, berkata kasar tidak boleh dilakukan bukan hanya oleh cewek, tetapi juga cowok. Maka, komentar cewek dilarang ngomong kasar masuk kategori bias gender. Faktanya, cowok juga dilarang berkata kasar. Sederhana saja: mulutmu harimaumu! ”Sesungguhnya tidak ada sesuatu apa pun yang paling berat di timbangan kebaikan seorang mukmin pada hari kiamat seperti akhlak yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.” (Hadis Riwayat At Tirmidzi Nomor 2.002).

Baca Juga  Muhadjir Effendy dan Pernyataan Keluarga Miskin

Cowok Dilarang Dandan

”Hah, lu pake hand body? Kayak cewek deh.”

Bukan hanya kepada cewek, nyinyiran-nyinyiran unfaedah juga bisa menyasar laki-laki. Meskipun kadarnya, barangkali, tidak sebanyak perempuan. Kalian yang laki-laki, pernahkah dicecar dengan komentar seperti di atas?

Mendikotomikan laki-laki dan perempuan lewat perbuatan dandan atau macak (bahasa Jawa) jelas kontraproduktif. Contohnya pada sales promoting boys (SPB). Sebagai SPB, tentu yang bersangkutan tidak bisa sembarangan mengenakan pakaian apa adanya dan berpenampilan ala kadarnya. Bahkan tak jarang kita temui cowok metroseksual, yaitu cowok yang sangat memperhatikan tubuh dan penampilannya. Karena itu, komentar ”cowok kok suka dandan, kayak cewek aja” sudah tidak relevan dengan zaman.

Cowok yang Tidak Ngerokok seperti Cewek

”Korek gue mana ya? Lu ada korek?”
”Korek? Kan gue gak ngerokok.”
”Lah, gue pikir lu ngerokok. Kayak cewek aja lu.”

Ada logika yang rancu dari pernyataan di atas. Pertama, cowok yang tidak merokok seperti cewek. Kedua, kalau ada cewek yang merokok, lantas apakah jadi seperti cowok? Maka, nyinyiran sebentuk itu adalah perbuatan galat dan primitif.

Bagi golongan nyinyir ini, merokok adalah antitesis dari dandan. Mereka beranggapan bahwa merokok identik dengan cowok dan dandan identik dengan cewek.

Alah bisa karena biasa, begitu peribahasa yang tepat (dan telak) untuk mengibaratkan perbuatan merundung/merisak seperti lima contoh di atas. Alah di situ bukan Allah (Tuhan), melainkan kalah, dan bisa bukan dapat, melainkan racun.

Racun akan kalah atau hilang kekuatannya ketika orang sudah terbiasa meminumnya. Awalnya minum sedikit, lalu menambah terus dosisnya, lama-lama menjadi kebal. Maknanya: kalau kita melakukan perbuatan buruk (perbuatan buruk itu racun) dari yang sedikit-sedikit saja, lama-lama membesar dan jadi terbiasa, akhirnya kita tidak merasa bersalah atau kebal atau tak merasa berdosa lagi. Nah, karena komentar seksis itu lumrah dilakukan sehari-hari, para pelaku takkan pernah merasa bersalah lagi.

Baca Juga  Belajar dari Mak Na Willa: Perempuan Berpendidikan yang Melawan Arus

*Penulis adalah Editor Jawa Pos, Pegiat JIMM Malang

Bagikan
Comments
  • Moodies

    Nice

    Mei 15, 2020
Post a Comment