Si Capung Belang (2)
Oleh: Ali Audah*
Namaku Aliyanda. Ayahku dulu penggemar berat petinju tersohor, Muhammad Ali. Yanda berarti hebat, agung dan suci. Mungkin Ayahku ingin aku menjadi petinju besar seperti idolanya dulu. Tetapi aku tak mungkin menjadi petinju. Aku anak pemalu.
Waktu kecil, aku lebih senang mengajak Jasmin bermain di pinggir sungai kecil di belakang rumah kami. Jasmin mengaduk adonan pasir, aku menyiapkan tungku dari batu dan ranting kecil sebagai kayu bakarnya. Sering permainan kami terganggu oleh ulah anak-anak lain yang bermain di kali. Mereka mengajak kami berenang, lebih tepatnya berendam karena air kalinya dangkal sebatas lutut orang dewasa. Namun ajakan mereka tidak kami hiraukan. Aku dan Jasmine membayangkan sedang sibuk menyiapkan masakan istimewa untuk Pak Presiden. Kami sering bermain hingga sore hari. Itu masa-masa SD yang menyenangkan, meskipun SD negeri kami tidak sebagus SD di kota.
Desa kami bernama Dusun Koplak. Terletak di dekat kampus swasta tertua di Yogyakarta. Dulu waktu kecil, kampus itu masih belum ada di sana. Semua masih sawah dan ladang, juga banyak kandang sapi dan tempat pembuatan dokar.
Di jaman Jepang dulu, kata kakekku almarhum, desa kami menjadi salah satu tempat persembunyian tentara Republik. “Jenderal Sudirman juga pernah ditandu melewati desa ini,” kata kakekku bersemangat. Mbah Gondo namanya. Badannya kuat. Jika berjalan seperti Pak Lurah sedang maju menjadi Pembina Upacara di Padukuhan. Kakekku tidak pemalu seperti aku. “Le, nek dadhi wong lanang kudu wani,” suatu hari kakekku menasehati. Aku mengangguk. Lalu diam menunduk. Kakekku menggelengkan kepala lalu menghisap rokok jagungnya dalam-dalam.
*
Siang ini aku berencana akan ke kota, membawa titipan Lek Wana, dua bungkus besar ikan wader goreng dan dua kilo ikan nila basah ke Pasar Beringharjo. Selain membantu membajak sawah milik tetangga, saya juga memelihara ikan tawar di dua tambak peninggalan kakek. Tambaknya kecil saja, hanya tiga kali empat meter. Ikan wader dengan mudah dapat diciduk di saluran-saluran irigasi di sepanjang desa, orang kota senang menyantap ikan kecil ini dan tangkapan ini lumayan dapat menambah uang jajanku sehari-hari.
Saat motor honda legendaku sampai di parkiran mesjid pasar, ada satu teriakan yang memanggilku. “Aliyanda! Aliyanda!” Aku menoleh ke sumber suara, ternyata itu panggilan dari Hardi, kawan sekampungku. “Hey, Di..” aku membalas panggilannya. Ia menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. “Ayo ikut aku ke Keraton,”katanya lagi. “Jangan sekarang, Di..” aku menepis tangannya dengan kuat. “Lek Wana sudah menunggu titipan ikannya dari tadi,” kataku dengan suara yang tegas. “Baiklah,”katanya mengendurkan cengkraman. “Sehabis mengantar ikan-ikan itu, ku harap engkau langsung ke sini,” Hardy berbicara dengan nada tidak sabar.
Aku segera mencari pria yang telah memintaku datang ke pasar yang terletak di depan Istana Agung ini. Ia adalah adik kandung Ayahku, sehari-hari memang berjualan di kios ikan. Suaranya terdengar lebih berat dari Ayah, dan tidak suka banyak cerita. Jadi aku tidak berani menuruti ajakan Hardy tadi sebelum titipan paklikku ini sampai ke tangannya. Aku segera melihat kesibukan paklik, bungkusan ku letakkan di atas lemari pendingin. “Lek, iwak wader nya taro sini, ya,” kataku setengah berteriak. Lek Wana hanya mengangguk dua kali. Tangannya lincah membersihkan ikan yang dipesan pembeli. Aku lalu pamit dan bergegas kembali ke tempat Hardy.
Hardy kelihatan senang melihatku. Ia langsung membalikkan badan dan terus mengoceh tentang mengapa kami harus segera ke Keraton. Di dalam Keraton itu ada sebuah masjid, atau mungkin lebih pas disebut mushola atau surau. Katanya aku harus segera ke sana karena ada hal penting akan diceritakan padaku. Sebenarnya aku kurang begitu menyukai gaya komunikasi teman kecilku ini. Dia ini memang senang mendesak keinginannya agar selalu dituruti. Hardy inilah yang sering mengganggu keasyikanku bermain dengan Jasmin. Jika melihat api di tungku kami mulai membesar, dia tidak segan menyiramkan air dari kali agar api tersebut padam. Aku sering kesal melihat tawa gelaknya jika api kami padam. Namun Jasmin tidak pernah marah. Ah, lagi-lagi aku teringat Jasmin.
“Sini, Nda. Kita duduk sini,” kata Hardy mengajakku menurunkan badan di teras mushola. Aku menuruti saja. Aku penasaran dengan cerita singkat Hardy tadi. Katanya ia telah mendapat wangsit agar membawaku masuk ke dalam salah satu ruangan Keraton. “Lanjutkan, Di. Siapa yang telah memberimu wangsit itu?” aku bertanya tanpa mengedipkan mata. “Ibunda Ratu, Nda. Ibunda Ratu,” jawabnya sambil menundukkan wajahnya lebih dekat denganku. “Tadi subuh aku didatangi dua orang prajurit Kraton, menyampaikan titah Ibunda Ratu agar membawamu masuk ke dalam Ruangan Khusus di Keraton ini,” lanjutnya lagi.
Aku mengernyitkan kening. Ibunda Ratu? Apakah ini berhubungan dengan mimpiku tentang Si Capung Belang? Aku merinding sendiri. “Di, jangan main-main kamu,” aku menggigil ketakutan. “Ayo kita pulang saja,” ujarku menarik tangannya untuk segera pergi dari situ. “Tidak bisa, Nda. Ini adalah titah yang harus kutunaikan. Jika tidak, penduduk desa kita akan terkena kutukan,” Hardy semakin mendekatkan wajahnya ke mukaku. Kami saling beradu mata untuk sekian waktu. Akhirnya aku mengalah. Mungkin Hardy benar, aku harus memenuhi permintaan Ibunda Ratu. Semoga ini bukan awal nasib yang buruk, aku menghela napas panjang. “Baiklah, Dy. Mari kita pergi ke ruangan yang telah ditetapkan oleh Ibunda Ratu untuk kuziarahi,” suaraku melemah. Hardy sangat antusias melihat persetujuanku. Kami segera berangkat dari mushola menuju pintu gerbang Keraton Jogja.
**
Bersambung..

Ali Audah adalah Dosen Luar biasa Sastra Inggris FSBK UAD dan UP 45 Yogyakarta, Kepala Pusat Bahasa Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
