Dalam sebuah forum kajian bertema pengasuhan anak yang saya ikuti, dua panelis sepakat tantangan era digital berkorelasi terhadap tantangan pengasuhan. Gawai sebagai simbol digitalisasi disebut sebagai faktor penyebabnya. Krisis waktu, komunikasi, dan kesehatan mental akibat interaksi intens dengan gawai berkorelasi terhadap berbagai kesenjangan. Seperti, anak lebih sering sibuk dengan gawai dan lebih memilih berkonsultasi di internet ketimbang berdiskusi langsung dengan orang tua. Pada anak di bawah lima tahun, jamak ditemui anak yang ditemani gawai agar lebih anteng, tidak rewel, dan orang tua bisa melakukan aktivitasnya.
Sebagai penutup, panelis memberi catatan tebal agar orang tua menjadi sahabat anak dengan membangun hubungan yang erat dan komunikasi positif. Caranya dengan menjadi pendengar yang baik, mendampingi proses belajar, hingga mengajak anak berpendapat dan berdiskusi untuk menumbuhkan nalar kritis. Dari sini ada yang menyentil kesadaran saya: bagaimana orang tua menjadi sahabat anak alih-alih memercayakan tugas tersebut kepada gawai?
Sebuah sindiran sosial yang populer di era digital menyebut gawai adalah pengasuh terbaik di dunia karena bisa menjalankan fungsi rekreatifsekaligus edukatif. Namun, gawai dituduh sebagai biang keladi atas semua perilaku negative pada anak. Di ranah akademik, gawai juga dikambinghitamkan atas kondisi anak malas belajar, terlambat bisa membaca, lemah memahami bacaan, menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, atau lemah perihal hitung-hitungan sederhana.
Saat fenomena ini menjadi permasalahan, apakah kita layak menyalahkan gawai ketika sebagai keluarga belum cukup serius membangun alternatif aktivitas yang menumbuhkan minat literasi anak?
Literasi Keluarga: Menyoal Terampil Memahami Informasi
Literasi tidak sesempit kemampuan membaca buku atau bacaan. Lebih kompleks, literasi diawali dari kemampuan dasar membaca aksara, melahirkan kemampuan memahami informasi yang dibaca, dan berujung pada keterampilan memanfaatkan informasi yang diperoleh. Demikian selayaknya literasi sebagai sebuah alur dan itu membutuhkan rangkaian waktu untuk membangun pondasi menjadi sebuah budaya.
Di era digital, informasi berada di ujung jari, tapi pengetahuan yang terkurasi belum tentu berada dalam jangkauan semua orang. Ponsel dan internet mudah diraih, sementara buku bisa terasa mahal bagi sebagian keluarga. Dua anak bisa sama-sama memiliki ponsel, tapi seberapa besar anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses buku, bacaan, atau keluarga yang membimbing mereka untuk membaca?
Dalam konteks era digital, anak usia 0 – 8 hingga 9 tahun di tahun 2026 umumnya memiliki orang tua dari kalangan generasi Z dan milenial. Kedua generasi ini termasuk digital native karena tumbuh dan berkembang bersama teknologi yang sangat masif, selain masih merasakan ekosistem literasi buku yang kuat. Harusnya perpaduan tersebut membentuk orang tua yang literet sebagai modal kuat menjadi orang tua post gen-Z dalam hal pemanfaatan teknologi.
Namun, sayangnya data Badan Pusat Statistik tahun 2023 mencatat hanya 17,21% anak usia 0-6 tahun yang dibacakan buku oleh orang tua. Lebih sedikit lagi, hanya 11,21% anak yang membaca buku bersama orang tua. Riset global yang dimuat di situs Kids360, sebuah aplikasi kontrol penggunaan ponsel menuliskan bahwa Indonesia, termasuk beberapa negara di Asia Tenggara, merupakan negara dengan aktivitas orang tua kalangan Gen Z yang menghabiskan waktu hingga 7-8 jam di depan layar.
Keterampilan literasi anak menjadi tanggung jawab utama keluarga. Keluarga adalah lingkungan pertama yang memberikan pengalaman berbahasa kepada anak. Kemampuan berbahasa menjadi pintu gerbang kemampuan komunikasi, interaksi sosial, dan akses memperoleh pengetahuan. Dalam konteks psikologi, perkembangan bahasa menjadi indikator perkembangan komprehensif, utamanya terkait perkembangan kognitif. Keterlambatan perkembangan bahasa juga menjadi indikator masalah perkembangan lain yang berkaitan dengan saraf.
Sebab utama anak tidak terampil literasi ialah keluarga tidak hadir untuk membangun ekosistem literasi. Di tengah tantangan global, keterampilan literasi bukan hanya sebagai penyeimbang kehidupan digital. Ia harus menjadi keterampilan utama yang menjadi pondasi pembelajar sepanjang hayat.
Konten dengan durasi pendek dan peralihan gambar yang cepat menuntun otak merespons sesuatu dengan instan tanpa penelaahan secara mendalam. Konten berdurasi panjang yang memuat penjelasan detail terasa membosankan. Barangkali ini yang menjadi penyebab membaca teks secara fisik seperti buku menjadi lebih menantang. Keluarga harus hadir untuk memastikan anak mengonsumsi informasi yang tepat, mengunyah perlahan, dan menelannya dalam kondisi yang telah disaring untuk menjadi nutrisi yang membentuk nalar kritisnya.
Dari Partikel Terkecil
Keluarga ialah lingkungan pertama pendidikan anak sekaligus organisasi terkecil dalam masyarakat. Di dalamnya, ada perempuan sebagai unsur yang berperan besar sebagai penggerak dan membentuk budaya keluarga. Salah satunya menjadi penggerak literasi.
Keluarga tidak selalu membutuhkan perempuan yang sudah membaca banyak buku. Tidak juga harus memiliki banyak koleksi buku di rumah. Gerakan literasi dimulai bukan berdasarkan kuantitas, tetapi kesadaran bahwa membaca sebagai titik awal literasi ialah hasil rekayasa kognitif. Ia bersifat lentur dan dipengaruhi kebiasaan sehari-hari. Untuk itu literasi harus diupayakan sedini mungkin.
Menyikapi era digital, gawai dan arus informasi yang kuat tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Setidaknya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan perempuan sebagai pihak yang berpengaruh dalam keluarga. Pertama, gawai dan bentuk literasi fisik seperti buku bukan lagi menjadi dua hal yang bisa dipertentangkan. Buku memiliki kekuatan esensial membentuk pondasi keterampilan literasi anak. Perempuan memiliki kekuatan untuk mengambil peran sebagai pengawal yang mengarahkan konsumsi konten daring. Konten yang dikonsumsi dari gawai dapat menjadi pintu gerbang untuk mengajak anak menelusuri lebih dalam bentuk literasi fisik.
Kedua, upaya literasi sejak dini dapat dimulai dari aktivitas sederhana yang kontinyu dan membudaya. Seorang perempuan, bekerja sama dengan orang dewasa lain di rumah, meluangkan waktu khusus untuk aktivitas membaca buku fisik. Jika seharian adalah waktu untuk mengaktualisasikan diri, dedikasikan waktu sebelum tidur malam sebagai waktu paling berkualitas untuk membentuk budaya ini. Cukup 15 menit membaca buku fisik untuk membentuk budaya jangka panjang.
Ketiga, akses terhadap buku dan bacaan berkualitas tidak selalu setara antarkeluarga. Kita bisa menjadikan fasilitas publik sebagai pendukung untuk membangun aktivitas literasi; membaca buku di taman baca, bergabung dengan forum membaca nyaring atau mendongeng, dan mengalokasikan waktu khusus untuk mengunjungi perpustakaan.
Keempat, hadirkan aktivitas literasi dalam perbincangan ringan sehari-hari. Sesederhana menanyakan pendapat anak ketika mengalami suatu hal di lingkungan rumah, sekolah, atau dari informasi yang dikonsumsi melalui gawai. Ibu bukan yang serba tahu. Anak bukan subjek yang selalu harus diberi tahu. Buka diskusi untuk menumbuhkan nalar kritisnya.
Najwa Shihab berkata, butuh jatuh cinta pada satu buku untuk terus jatuh cinta pada membaca. Satu hal yang mengusik rasa ingin tahu anak bisa menjadi umpan yang membuatnya terpanggil menelisik lebih jauh. Inilah bibit menjadi pembelajar sepanjang hayat. Jangan matikan apinya, mari kobarkan lebih besar. Mari membaca bersama dari dalam keluarga. (*)
________
