f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu politik

Menjadi Ibu adalah Urusan Politik: Panduan Praktis Menjaga Kedaulatan Keluarga

Selama ini, kita sering menganggap politik adalah urusan elit yang paling aktif nyumbang berita buruk tiap harinya atau tentang mereka yang sibuk kampanye menjelang pemilu. Padahal, jika kita tengok lebih dekat, sosok paling politis di muka bumi ini sebenarnya adalah seorang Ibu. Politik adalah tentang pengambilan keputusan dan distribusi sumber daya. Ibu adalah politisi paling sibuk yang lupa kalo dia punya kekuasaan. Sedihnya, banyak Ibu yang merasa hanya “menjalani takdir” padahal mereka sedang menjalankan “pemerintahan”. Banyak dari kita-para Ibu-yang nggak sadar bahwa setiap keputusan yang kita ambil dari mulai memilih menu sarapan sampai urusan mendelegasikan cucian ke laundry adalah sikap politik. Tanpa kesadaran politik ini, seorang Ibu hanya akan menjadi ‘korban’ keadaan. Mari kita bedah, apa saja sikap politik Ibu yang sering dianggap “rutinitas” padahal sebenarnya adalah strategi kebijakan keluarga.

Kedaulatan Domestik

Ibu kerap cerewet padahal urusannya sepele, misalnya ketika ada yang meletakkan kunci motor sembarangan. Bukan karena ingin, tapi kalo kunci hilang, bisa terlambat antar anak sekolah, dan seterusnya. Jadi, buat Bapak-Bapak yang merasa istrinya ribet, jangan baper dulu ya. Bisa jadi Ibu sedang menjalankan ‘SOP Birokrasi Domestik’. Bagi saya, menjadi detail itu adalah bentuk manajemen risiko. Buktinya, Ibu kerap menunjukkan kehebatan indra keenam jika ada potensi masalah. Misalnya tahu kapan suara batuk anak terdengar “nggak enak” atau kapan tabung gas mulai berbau aneh. Menjadi detail adalah cara Ibu memastikan urusan domestik yang nggak pernah berhenti itu punya sistem yang sustainable sekaligus memitigasi agar masalah kecil nggak berubah menjadi krisis nasional. Tapi Bu, tolong bedakan detail dan ngeribetin orang lain, ya.

Baca Juga  Jeritan Rakyat Saat Pilkada Mulai Tiba
Power Sharing

Politisi yang pinter itu nggak kerja sendirian, Bu. Dia bagi-bagi tugas. Ibu harus berani mendelegasikan urusan nyuci ke laundry atau urusan masak ke warung kalo memang energi sudah limit. Ini bukan soal boros ya Bu, tapi prioritas. Bayangin aja, pekerjaan Ibu itu dalam satu waktu bisa datang bersamaan. Urusan makan aja, kalo kita beli lauk di warung Ibu bisa punya waktu lebih untuk mengerjakan yang lain. Minimal kita nggak perlu mikir menu yang biasanya mentok itu, toh masak sendiri dan beli lauk di warung sama-sama keluar uang. Bagi saya, nglarisi warung tetangga atau memakai jasa setrika bakul laundry itu bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi mikro dan solidaritas sosial. Membagi peran dengan pihak lain atau anggota keluarga lain, bukan berarti lemah, Bu. tapi strategi “pemerataan beban kerja” supaya Ibu nggak burn out. 

Bekal Menjadi Ibu: Critical Thinking

Di tengah gempuran tren parenting yang bikin insecure, Ibu harus kritis. Ibu dan Bapak bisa bersama-sama duduk bareng dan mencari gaya parenting apa yang cocok untuk karakter anak dan situasi keluarga. Ilmu parenting dan gaya parenting itu berbeda, jangan hanya memaksakan gaya yang nggak sesuai tapi teruslah membekali diri dengan ilmu pengasuhan yg sesuai visi keluarga. Jangan berhenti disitu, Bu. Berpikir kritis ini juga perlu kita latih barangkali kita mau “maju perang” melawan kebijakan nggak adil yang dibuat Pemerintah.

Mungkin masih ada anggapan kalo anak susah masuk sekolah unggulan bisa jadi Ibu yang kurang giat mengajari di rumah padahal bisa saja terjadi “ketidakadilan struktural”. Tidak semua orang memiliki kesempatan dan akses yang sama bahkan kemampuan ekonomi yang cukup. Urusan pendidikan mendasar ini adalah urusan banyak pihak. Ingat ya, semua beban di dunia nggak bisa diselesaikan dengan ketahanan individu seorang Ibu. Disini Ibu bisa lho, ambil sikap politik yang lebih berani dengan melakukan diplomasi kolektif dengan Ibu-Ibu lain untuk membawa perubahan yang lebih baik.

Baca Juga  MAARIF Institute Gelar Diseminasi Publik dan Luncurkan Buku Kisah Inspiratif Pemimpin Pesantren
Independensi Mental: Bahagia yang Berdaulat

Sikap politik paling radikal seorang Ibu adalah berani bahagia tanpa nunggu divalidasi anggota keluarga lain. Istilahnya aja radikal, artinya kebahagiaan itu menjadi salah satu kebutuhan mendasar. Jangan sandarkan bahagia pada “kalo anak juara satu” atau “kalo suami romantis”.  Itu namanya politik ketergantungan. Ibu harus punya “wilayah teritorial” kebahagiaan sendiri-entah itu nonton drama korea, baca buku atau sekadar ngopi diam-diam. Ibu yang mandiri secara emosional nggak akan gampang dijajah oleh rasa iri saat melihat pencapaian orang lain. Selain itu, saat Ibu bahagia stabilitas keluarga terjamin. Coba bayangin seandainya Ibu jadi pejabat rumah tangga yang tantrum, bisa-bisa terjadi gejolak stabilitas nasional gak tuh.

Pilihan Karir sebagai Langkah Strategis

Mau kerja kantoran atau di rumah, itu adalah pilihan taktis. Ketika memilih berkarir di luar rumah, perform-lah sebagai representasi kekuatan perempuan di ruang publik. Kalo Ibu memilih kesibukan di rumah, jadilah Ibu cerdas yang mampu mengelola sumber daya rumah tangga dengan efisien, meskipun hari-hari ini kondisinya agak sulit. Para Ibu menjerit, boro-boro mau mengelola sumber daya, yang dikelola aja nggak selalu ada. Bagi saya udah gak jamannya mendikotomi ibu bekerja dan Ibu di rumah, semua Ibu harus berdaya dan punya fungsi material. Karena untuk mencapai kesejahteraan dewasa ini, cukup sulit untuk diwujudkan satu orang saja. Pilih peran yang ingin dikerjakan dengan kesadaran penuh, bukan karena terpaksa.

Ibu yang Berdaya adalah Ibu yang Sadar Politik

Menjadi Ibu memang melelahkan, tapi akan jauh lebih melelahkan kalo kita merasa hanya jadi “korban” keadaan. Keberdayaan Ibu nggak diukur dari seberapa ia lelah di akhir hari, tapi seberapa efektif keputusan politis yang dia buat untuk mengarahkan tujuan keluarga. Dengan menyadari bahwa setiap keputusan kecil di rumah adalah sikap politik, Ibu sedang memegang kendali. Karena menjadi Ibu, harusnya tidak membatasi kita untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga maupun sesama.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment