f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Privilege

Orang Lain Menyebutnya Privilege, Saya Menyebutnya Persiapan

Akhir-akhir ini saya sering memikirkan satu hal; ternyata tidak semua privilege adalah kebetulan.

Selama ini kita sering menganggap privilege sebagai suatu keistimewaan yang melekat begitu saja pada seseorang, atau bahkan malah yang diwariskan. Lahir di keluarga yang berkecukupan, memiliki akses pendidikan yang baik, atau bertemu dengan lingkungan yang mendukung. Semua itu memang bentuk privilege.

Namun semakin lama saya menjadi orang tua dan berkecimpung di dunia pendidikan selama lebih dari setengah usia,saya, akhirnya saya menyadari bahwa ada beberapa privilege lain yang ternyata merupakan privilege yang bisa kita bangun sendiri, sedikit demi sedikit, dengan konsistensi dan akan terlihat hasilnya secara pelan-pelan. Sebuah keistimewaan yang bukan warisan dan keberuntungan, tetapi didapat dengan upaya yang konsisten.

Beberapa hari ini saya benar-benar terlibat secara pribadi dengan agenda tahunan dunia pendidikan Indonesia, yaitu SPMB. Anak bungsu saya tahun ini masuk SMP. Dan, karena kami memutuskan untuk memilih sekolah negri, otomatis kami sekeluarga ikut memantau perkembangan SPMB.

 Setiap kali musim SPMB, banyak linimasa media sosial dan tema percakapan yang sangat popular adalah tentang cerita tentang anak-anak yang berhasil masuk sekolah impian. Ada yang diterima di pilihan pertama, ada yang bisa memilih sekolah dengan lebih leluasa karena akumulasi nilainya tinggi. Dalam hal ini saya sangat bersyukur karena anak saya termasuk yang memiliki privilege memilih sekolah karena akumulasi nilainya cukup tinggi.

Sebagian besar dari kita akan berkomentar, “Wah, dia beruntung”. Tak banyak dari kita yang menyadari bahwa kita hanya melihat hasil akhirnya saja. Tak menyadari bahwa di balik nilai yang tinggi itu ada proses yang sangat panjang. Ada anak yang sudah terbiasa mengerjakan latihan soal sejak berbulan-bulan sebelumnya. Ada anak yang belajar mengalahkan rasa malasnya sedikit demi sedikit.Ada anak yang rajin mengikuti pengayaan materi bahkan ketika teman-temannya masih tenang-tenang saja karena merasa waktu ujian masih lama.

Baca Juga  Manusia Berisik dan Tak Berhati Memang Selalu Ada

Jangan lupa juga, ada para orang tua yang tak bosan mendampingi dan mengingatkan anaknya unuk tetap belajar. Ada juga para guru di sekolah dan para guru les yang setia mengajar,  membersamai, memberikan evaluasi dan memperbaiki penguasaan materi anak-anak tersebut.

Ketika akhirnya nilai mereka tinggi dan pilihan sekolah menjadi lebih luas, saya tidak melihatnya semata sebagai keberuntungan. Saya melihatnya sebagai privilege yang sedang mereka ciptakan sendiri.

Nilai yang baik memang tidak menjamin kesuksesan seseorang. Tetapi nilai yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh sering kali membuka lebih banyak pintu. Anak memiliki lebih banyak pilihan. Orang tua memiliki lebih banyak ruang untuk mempertimbangkan sekolah yang sesuai. Mereka tidak dipaksa menerima pilihan yang tersisa, tetapi diberi kesempatan untuk memilih. Dan bukankah kemampuan untuk memilih juga merupakan sebuah privilege?

Semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa pola yang sama juga saya terapkan di rumah. Saya membiasakan anak-anak ikut terlibat dalam pekerjaan domestik. Bukan karena saya kekurangan bantuan, apalagi karena ingin meringankan pekerjaan saya. Jujur saja, sering kali justru lebih cepat jika saya mengerjakannya sendiri.

Mengajari anak mencuci piring berarti harus menerima piring yang belum benar-benar bersih. Mengajari mereka melipat baju berarti harus melihat lipatan yang masih miring. Mengajak mereka menyapu berarti bersiap menyapu ulang di beberapa bagian.

Kalau tujuan saya hanya rumah yang cepat rapi, tentu saya akan memilih mengerjakannya sendiri. Tetapi akhirnya saya menyadari adanya gambaran lebih besar daripada itu. Saya sedang membangun kebiasaan. Saya ingin mereka memahami bahwa rumah bukan tempat di mana satu orang melayani semua orang. Rumah adalah tempat setiap anggota keluarga belajar mengambil peran, belajar menjadi peka, dan belajar bertanggung jawab.

Baca Juga  Kritik Al-Qur'an terhadap Tatanan Sosial

Ada hari-hari ketika pekerjaan saya sedang menumpuk, jadwal padat, energi menipis, dan rasanya ingin menyerah saja. Di saat seperti itu, salah satu anak mengambil sapu, dan yang lain mencuci piring kotornya sendiri. Momen-momen kecil seperti itu akhirnya membuat saya tersadar bahwa support system ternyata tidak selalu harus dicari.

Bahwa support system bisa diciptakan, bukan hanya ditunggu.Ia bisa dibangun. Bukan dalam sehari. Bukan dengan satu nasihat panjang. Melainkan dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang kali hingga akhirnya menjadi karakter.

See? Ada benang merah antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah. Persiapan belajar sejak jauh hari menciptakan privilege berupa lebih banyak pilihan sekolah ketika SPMB. Sementara kebiasaan mengambil tanggung jawab di rumah menciptakan privilege berupa kemampuan mengurus diri sendiri, bekerja sama, dan menjadi pribadi yang dapat diandalkan. Keduanya lahir dari proses yang sama, yaitu konsistensi.

Hanya saja, kita hidup di zaman yang sering kali lebih sibuk merayakan hasil daripada menghargai proses. Kita melihat anak dengan nilai tinggi, tetapi tidak melihat ratusan latihan soal yang sudah ia kerjakan. Kita melihat anak yang mandiri, tetapi tidak melihat bertahun-tahun ia dibiasakan membereskan tempat tidurnya sendiri bahkan masih diomeli ketika ada ujung seprei yang kurang rapi. So, hasil yang terlihat hari ini merupakan akumulasi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin terasa membosankan saat dijalani.

Karena itu tidak bijak rasanya kalau mengejar hasil yang instan. Saya lebih ingin menciptakan privilege yang bertahan lama. Privilege berupa kemampuan belajar dan berjuang sebelum keadaan memaksa. Privilege berupa karakter yang membuat anak mudah beradaptasi di mana pun ia berada. Dan privilege berupa keluarga yang saling mendukung karena setiap anggotanya merasa memiliki tanggung jawab yang sama.

Baca Juga  Makna di Balik Pertanyaan ‘Sudah Hamil?’

Tanpa sadar, beberapa kesempatan untuk memilih sering kali merupakan hasil dari disiplin yang dilakukan jauh sebelum hari penentuan. Dan mungkin, itulah definisi privilege yang ingin saya tanamkan kepada anak-anak saya. Bukan privilege yang membuat mereka bergantung pada keberuntungan. Melainkan privilege yang lahir karena mereka dipersiapkan dan dibiasakan. Privilege yang dimiliki karena mereka bertumbuh dalam keluarga yang percaya bahwa hal-hal besar selalu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran.

Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu memberi kita kesempatan yang sama. Tetapi kita selalu punya kesempatan untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dan sering kali, persiapan itulah yang kemudian terlihat oleh orang lain sebagai sebuah privilege. Padahal itu adalah hasil dari pilihan-pilihan kecil yang dengan setia kita lakukan setiap hari.

Bagikan
Comments
  • Nania

    Suka dengan kata-kata menciptakan privilege yang bertahan lama dari kemampuan , ❤️

    Juli 4, 2026
Post a Comment