f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Lailatul Fithriyah

Lailatul Fithriyah Azzakiyah: Perempuan Muhammadiyah dan Ikhtiar Merawat Dialog Keulamaan

Merayakan Milad ’Aisyiyah ke-109, perbincangan tentang perempuan Muslim tidak lagi berhenti pada partisipasi semata. Lebih dari itu, ada pertanyaan penting yang perlu terus kita ajukan “Sejauh mana perempuan hadir sebagai subjek pengetahuan, dan bagian dari otoritas keagamaan?”. Di tengah percakapan itu, perjalanan Lailatul Fithriyah Azzakiyah menawarkan satu kisah tentang bagaimana perempuan menapaki jalan keilmuan, pengabdian, dan dialog keislaman.

Di Muhammadiyah, ulama bukan sekadar mereka yang piawai berbicara tentang agama. Spirit dadiyo kyai sing kemajuan yang diwariskan KH Ahmad Dahlan menempatkan ulama sebagai sosok yang berilmu, terlibat dalam kehidupan masyarakat, dan mampu menghadirkan Islam sebagai jawaban atas tantangan zaman. Dalam konteks inilah, keulamaan tidak berhenti pada otoritas teks, tetapi juga menyentuh kerja sosial, pendidikan, dan pengabdian.

Bagi perempuan yang akrab disapa Bu Ela atau Mbak Ela ini, gelar ulama bukanlah sesuatu yang layak diklaim secara personal. Keulamaan merupakan amanah sosial yang tumbuh dari proses panjang menuntut ilmu, keterlibatan di tengah masyarakat, dan pengakuan dari komunitas yang merasakan kebermanfaatannya.

Saat mewawancarai beliau, penulis begitu antusias menelusuri bagaimana tugas keulamaan ini dimaknai sebagai ketekunan menuntut ilmu, keterlibatan sosial, dan keberanian merawat percakapan keislaman lintas ruang, dan jejak Bu Ela menunjukkan jalan yang tidak sederhana.

Rumah Sebagai Madrasah Pertama

Perjalanan Bu Ela menapaki dunia keislaman bermula dari rumah. Lahir dalam keluarga religius yang menjadikan ilmu agama sebagai bagian dari keseharian. Ibunya menjadi guru pertama yang mengenalkannya pada ilmu nahwu, sharaf, hingga tafsir. Ayahnya turut menanamkan fondasi keislaman yang kuat.

“Baru terasa betul bekal itu ketika saya masuk pesantren, dik” kenangnya. Ia kemudian menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, Ponorogo. Dari pesantren, perjalanannya berlanjut ke Fakultas Syariah, Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum di sIAIN kala itu (sekarang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Sempat terlintas keinginan untuk mendalami hukum umum dan menjadi pengacara. Namun, dalam perjalanannya, ia justru menyadari bahwa panggilan intelektualnya tetap berada pada ilmu agama. “Bukan berarti ilmu hukum itu tidak baik, tetapi saya merasa passion saya tidak di situ, saya lebih enjoy belajar di ilmu agama, ” tuturnya.

Baca Juga  Mengenal Istri-Istri Rasulullah Setelah Khadijah dan Teladannya (2)

Selain orang tua, cara pandang keislamannya dibentuk oleh para guru yang kini dikenal sebagai tokoh intelektual Muhammadiyah, seperti Prof. Syamsul Anwar, almarhum Prof. Yunahar Ilyas, Assoc. Prof.Wawan Gunawan Abdul Wahid, dan sejumlah dosen lain yang membentuk cara berpikirnya. “Menariknya, sekarang saya justru sering bertemu beliau-beliau di forum Majelis Tarjih. Itu seperti mengingatkan bahwa perjalanan belajar ini masih terus berlanjut”.

Ilmu Agama Menjadi Jalan Pengabdian

“Kalau hanya bicara ibadah mahdhah, itu sudah selesai, ya. Tapi untuk membangun peradaban Islam, kita perlu menghadirkan agama yang ramah, berpihak, dan peduli pada realitas sosial.” Pandangan ini tidak lepas dari pengaruh Muhammadiyah, terutama spirit teologi Al-Ma’un yang menekankan keberpihakan kepada kaum lemah.

Hari ini, gagasan itu diwujudkan dalam kerja-kerja dakwah yang ia tekuni. Bu Ela aktif sebagai mubalighah, penyuluh agama Islam non-PNS di Kabupaten Malang, serta penyuluh agama di Lapas Perempuan Kota Malang.

Dalam forum lain, ia bersama anak-anak muda mengembangkan Tahfizh Qur’an Tematik (TQT), metode pembelajaran Al-Qur’an yang menghubungkan hafalan dengan pemahaman tematik. Metode ini bahkan menjangkau Muslimah diaspora Indonesia di berbagai Negara. Beberapa karyanya antara lain Modul Tahfizh Qur’an Tematik jilid 1–5, Tahfizh Hadits Tematik, hingga buku Perempuan Menggugat, Al-Qur’an Menjawab. Selain itu, ia juga terlibat sebagai tim penulis Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah.

Muhammadiyah dan Ruang Keulamaan Bagi Perempuan

Sebagai perempuan yang tumbuh di lingkungan Muhammadiyah, Bu Ela menapaki proses kaderisasi melalui IMM, Nasyiatul Aisyiyah, hingga Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang. Ada beberapa nilai Muhammadiyah yang paling membentuk cara berpikirnya. “Pertama, modernitas. Di Persyarikatan itu kan kita dibiasakan berpikir sistematis- organisatoris, dan mampu berdialog dengan dinamika zaman. Yang kedua, keterbukaan dalam berpikir. Ketiga, gerakan agama harus bertransformasi sebagai gerakan khidmah sosial.”

Baca Juga  Perkembangan Hukum Islam di Masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq (11-13 H atau 632-634 M)

Namun ia juga menyampaikan refleksi kritis. Menurutnya, ruang keulamaan perempuan di Muhammadiyah memang mulai tumbuh, terutama di tingkat pusat. Tetapi di akar rumput, penguatan kapasitas itu masih perlu diakselerasi. “Kita masih butuh lebih banyak perempuan Muhammadiyah yang kuat secara kapasitas keilmuan agama.”

Merawat Dialog di Tengah Ragam Tradisi

Salah satu babak penting dalam perjalanan intelektual Bu Ela adalah keterlibatannya di Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Perjalanan itu bermula dari sebuah pertemuan tak terduga pada 2019, ketika seorang perempuan berlatar belakang NU menghubunginya untuk sebuah wawancara. Jejaring itu kemudian mempertemukannya dengan Asian Muslim Action Network (AMAN) dan LSM Rahima. Di Rahima, Bu Ela mengikuti proses kaderisasi ulama perempuan dan menjadi satu-satunya peserta dari Aisyiyah kala itu.

Dari proses itu, ia justru menemukan ruang belajar yang dinikmati. Ia menmperoleh penguatan keilmuan yang serius dan berkelanjutan di dalamnya. Keterlibatan itu membawanya aktif di KUPI, bahkan menjadi bagian dari Majelis Musyawarah KUPI Divisi Pengetahuan. Di sana, Bu Ela bertemu dengan beragam wajah Islam Indonesia: bu Nyai pesantren, akademisi, aktivis sosial, penyusun fatwa, hingga mereka yang berasal dari tradisi berbeda.

“Di situ saya belajar kemajemukan yang hakiki,” terang Laila. Perjumpaan dengan para ulama perempuan dari beragam latar organisasi, tradisi keilmuan, hingga pengalaman sosial membuatnya melihat Islam dari ruang percakapan yang lebih luas. Di forum-forum itu, ia bertemu dengan bu nyai pengasuh pesantren, akademisi, aktivis sosial, hingga para perempuan yang sehari-hari bergelut dengan isu kemanusiaan dan keadilan sosial.

Bagi Laila, pengalaman itu memperkaya cara pandangnya tentang keberagaman dalam memahami agama. Dirinya menyadari bahwa keyakinan terhadap agama bisa tetap teguh, sembari membuka ruang untuk mendengar cara pandang yang berbeda.

“Kebenaran agama itu pasti mutlak. Tapi pemahaman manusia terhadap agama bisa berbeda. Bisa jadi menurut kita pendapat kita yang benar, menurut orang lain pendapat mereka yang benar. Yang perlu kita bangun adalah penghormatan terhadap kehadiran orang lain.”

Baca Juga  Huda Sya’rawi: Feminis yang Mengguncang Mesir di Akhir Abad 19 (2)
Pengalaman Perempuan sebagai Pengetahuan

Meski ruang keulamaan perempuan terus tumbuh, Bu Ela mengakui otoritas perempuan masih kerap dipertanyakan. Bahkan perempuan-perempuan dengan kapasitas keilmuan tinggi pun masih harus bernegosiasi dengan budaya yang lebih mengakui suara laki-laki. Di sisi lain, perempuan juga membawa pengalaman yang khas dalam kehidupan beragama, pengalaman yang justru penting bagi pembentukan pengetahuan Islam.

“Pengalaman menstruasi, kehamilan, persalinan, menyusui, pengasuhan, itu lived experiencenya perempuan. Maka pengalaman perempuan penting dalam perumusan pengetahuan Islam,” jelasnya. Bagi Bu Ela, perspektif ini tidak sedang mempertentangkan perempuan dan laki-laki, melainkan memastikan pengalaman yang selama ini kurang terdengar ikut menjadi bagian dari percakapan dalam forum keagamaan.

Pesan untuk Kader Muda Muhammadiyah

Untuk kader muda Muhammadiyah yang ingin menapaki jalan dakwah intelektual, Bu Ela berpesan agar tidak terburu-buru merasa cukup dengan pengetahuan instan. Baginya, tradisi membaca terutama membaca buku secara utuh dan bersentuhan dengan khazanah turats tetaplah menjadi fondasi penting untuk membangun kedalaman keilmuan agama.

Ia juga mendorong lahirnya lebih banyak ruang belajar, baik formal maupun kultural, untuk memperkuat tradisi keilmuan di tubuh Persyarikatan. “Selagi muda, belajarlah banyak hal. Jangan malas membangun relasi. Karena proses itu yang akan membentuk siapa kita ke depannya.”

Di tengah semangat Milad ’Aisyiyah ke-109 yang mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian,” perjalanan Bu Ela menghadirkan satu wajah dakwah islami; dakwah yang tidak berhenti pada ceramah, tetapi hidup dalam kerja-kerja pengabdian, penguatan ilmu, dan kesediaan membuka ruang dialog dengan mereka yang berbeda. Dari jalan yang sedang ia rawat, keulamaan sama sekali tidak tampak sebagai gelar yang diburu, melainkan ikhtiar untuk terus menghadirkan wajah Islam yang menyejukkan qalbu.

Bagikan
Post a Comment