f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu parenting

Tips Parenting Menjamur, Tak Sedikit Membuat Ibu Baru Kewalahan

Akses informasi membuka kesempatan begitu luas untuk para ibu belajar banyak hal. Jika dahulu banyak ibu berpegang kuat dengan nasihat orang tua, yang kalau menurut orang Jawa ‘opo jare wong biyen’ yang berarti ‘apa kata orang tua dahulu’.  Hari ini, muncul para dokter anak meluruskan kekeliruan yang terkadang masih menjadi tradisi yang dilanggengkan. Sejak mulai hamil, melahirkan, menyusui hingga masuk dalam fase tumbuh kembang anak.

Fasilitas teknologi tentu saja memberi dampak positif tapi tak sedikit yang akhirnya menjadi kewalahan dikarenakan banyaknya informasi yang harus diserap. Diawali dengan kemunculan para dokter anak, akhirnya menyusul ribuan konten yang bertebaran menjamur di laman media sosial.

Fenomena ini sebenarnya bagian dari bentuk kesadaran ibu baru yang ingin menepis anggapan-anggapan masyarakat di luaran sana. Cara-cara baru ala dokter anak hari ini, ingin mereka terapkan dan akhirnya dikemas menjadi sebuah video menarik. Respon positif, sekaligus jumlah penonton yang mencapai angka ratusan ribu bahkan jutaan, memberikan ketertarikan sesama ibu lainnya. Tidak ada yang salah dari hal ini, tapi yang menjadi persoalan adalah tips parenting ini terkadang tidak disertai rujukan pasti, bahkan saling bertabrakan dengan konten para dokter.

Sebagai ibu baru dengan tantangan sekaligus kejutan-kejutan di depan mata tentu saja membawa mereka untuk mencari solusi-solusi alternatif. Dihantui ketakutan atas kembang tumbuh anak  membawa mereka mencari informasi-informasi agar apa yang dialami sang anak segera mendapat jawaban.

Misalnya saja, tentang persoalan tumbuh kembang anak, keingintahuan membawa para ibu jauh melihat dan mempelajari dari video yang mereka temukan di laman media sosial, beberapa menjelaskan dengan sangat bahagia bahwa di usia tepat 10 bulan anaknya sudah sedikit-sedikit bisa berjalan, kegalauan ibu baru dengan anaknya karena hingga di usianya 13 bulan belum bisa berjalan layaknya konten yang ia tonton.

Baca Juga  Pentingnya Orang Tua dalam Kesehatan Mental Anak

Dari ibu yang membuat video dengan ibu lain sebagai penonton tidak ada yang salah, mereka hanya belum paham bahwa sebenarnya tumbuh kembang anak tidak akan pernah sama satu sama lain. Ini bukan tentang perlombaan siapa yang cepat siapa yang hebat, tapi kita sedang berbicara kehadiran kita di setiap fase perjalanan sang anak.

Postingan-postingan yang berbicara tentang pola asuh memang memberikan wawasan baru, tapi karena semakin banyak tak terbendung membuat ibu baru akhirnya bingung terombang-ambing informasi di luaran sana. Ini bukan soal ibu yang malas belajar atau kurang literasi, melainkan terlalu banyaknya ‘suara’ yang hadir bersamaan dan semuanya mengklaim yang paling ini benar.

Bingung menentukan sebaiknya apa dan siapa yang harus mereka ikuti, sementara semua ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tips parenting A bisa mengatakan demikian, di saat yang sama sebuah konten memberikan Tips Parenting B dengan informasi yang berbeda, ini juga tidak salah. Tapi ibu dengan anak kondisi yang berbeda tentu kebingungan, kewalahan dan akhirnya membawa dampak psikis tersendiri. Mana yang harus diikuti? Apakah aku salah jika tidak melakukan semuanya?

Kalau boleh kita sebut, fenomena overload tips parenting ini juga akhirnya memicu budaya membandingkan diri sehingga membuat banyak ibu merasa gagal dan kurang percaya diri karena tidak mengikuti standar tertentu. Mereka takut salah langkah bahkan merasa tidak cukup baik sebagai orang tua. Sehingga ruang belajar bagi para ibu tertutup karena dikalahkan oleh rasa ketakutan yang berlebihan.

Tulisan ini tidak ingin menolak situasi teknologi yang serba cepat hari ini. Namun yang menjadi catatan, kemudahan-kemudahan ini justru disalahgunakan, merasa berhasil mendidik anak langsung dimuat dalam sebuah konten. Alih-alih tertolong mendapatkan pemahaman, para ibu baru justru merasa mendapat tekanan dan merasa kewalahan menyikapi banjirnya informasi yang meluber kemana-mana.

Baca Juga  Mengatasi Masalah Insecure pada Anak Remaja

Padahal, mendidik anak itu panjang prosesnya. Keberhasilan adalah sebuah kebanggan tetapi bukan justru menjadi ajang pamer yang membahayakan.  Bagi sebagian ibu mungkin konten-konten serupa bisa mereka tonton, mereka terima, kemudian dipilih dan dipilah untuk diikuti. Tetapi tidak semuanya bisa seperti ini, yang ada mereka terjebak di tengah maraknya informasi yang beredar.

Proses menjadi ibu baru adalah belajar, sekali lagi belajar. Fase perjalanan anak itu panjang, meski melelahkan namun disitulah letak kenikmatannya. Membersamainya tidak bergantung pada usia, selamanya kita akan mendapampingi setiap langkahnya. Melakukan kesalahan adalah sebuah keniscayaan. Karena dari kesalahan akan menjadi sebuah capaian.

Percayalah, sebagai ibu baru kita tidak perlu semua saran yang beredar di luar sana untuk kita terapkan. Kita hanya perlu mengingat bahwa tidak ada satupun pola asuh yang tepat untuk semua orang. Tidak sama dengan yang lain bukan berarti gagal. Dengarkan naluri, fokus pada insctinc sebagai ibu, prioritaskan apa yang sesuai dengan kebutuhan.

Anak kita bukan objek yang harus mendapat nilai 100 atau tepuk tangan meriah dari banyak orang. Mulailah dari dalam diri, ciptakan rasa bahagia karena bahagianya seorang ibu adalah kunci kebahagiaan seorang anak.

Bagikan
Post a Comment